Oxford United Berdarah-darah hingga Akhir Kompetisi untuk Bisa Bertahan di Kerasnya Kasta Kedua Liga Inggris

Oxford United sempat tampil meyakinkan, namun segera dihadapkan pada realita keras Championship.

BolaCom | Gregah NurikhsaniDiperbarui 25 April 2025, 13:29 WIB
Oxford United - Ilustrasi Logo Oxford United (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Musim 2024/2025 menjadi ujian berat bagi Oxford United, yang baru saja promosi ke Championship melalui play-off musim sebelumnya. Ekspektasi awal menempatkan mereka sebagai salah satu kandidat terkuat untuk degradasi, namun perjalanan mereka penuh dinamika, drama, dan determinasi untuk bertahan di kasta kedua sepak bola Inggris.

Oxford United memulai musim dengan kepercayaan diri tinggi usai promosi. Mereka sempat tampil meyakinkan, namun segera dihadapkan pada realita keras Championship. Setelah hanya meraih satu kemenangan dalam 16 pertandingan, posisi mereka melorot tajam, memicu pemecatan pelatih favorit suporter, Des Buckingham.

Advertisement

Saat ini, Oxford United duduk di posisi ke-19 klasemen sementara, unggul tiga poin dari Luton Town yang berada di zona degradasi. Dengan sisa dua pertandingan lagi, tim berjulukan The U's itu tidak boleh kehilangan poin untuk bisa bertahan di kasta kedua Liga Inggris per musim depan.

Lawan berat telah menanti pada pekan 45, yakni Sunderland, yang meski sudah mengamankan tiket fase play-off promosi, tidak ingin merusak momentum apik jelang semifinal nanti. Terakhir, Oxford United akan menghadapi Swansea City, tim yang secara matematis masih bisa menembus posisi enam klasemen akhir dan lolos ke play-off promosi.

 


Start Positif, Realita Kerasnya Championship

Ole Romeny mencetak satu gol saat Oxford United kalah 2-3 dari Coventry City dalam laga EFL Championship, Sabtu (1/3/2025). (Instagram/oleromeny)

Oxford United memulai musim dengan kepercayaan diri tinggi usai promosi. Mereka sempat tampil meyakinkan, namun segera dihadapkan pada realita keras Championship. Setelah hanya meraih satu kemenangan dalam 16 pertandingan, posisi mereka melorot tajam, memicu pemecatan pelatih favorit suporter, Des Buckingham.

Masuknya Gary Rowett sebagai manajer baru membawa angin segar. Ia sempat mengangkat performa tim, namun konsistensi tetap menjadi tantangan. Rowett sendiri menegaskan pentingnya mentalitas dan dukungan suporter di masa-masa genting.

"Kami tahu kami akan menghadapi laga-laga kandang yang sangat berat dan penting bagi kami untuk tampil lebih baik," ujar Rowett kepada BBC Radio Oxford.

"Suporter luar biasa belakangan ini, dan kami harus memanfaatkan energi itu di sisa pertandingan. Jika kami bisa mempertahankan performa seperti sejauh ini, laga kandang seharusnya cukup untuk menyelamatkan kami."

 


Fase Krusial: Tekanan, Cedera, dan Mentalitas

Oxford United menelan kekalahan 1-3 dari Queens Park Rangers (QPR) pada pekan 41 Championship Division atau Liga Inggris kasta kedua, Kamis (10/4/2025) dini hari WIB. (Dok. QPR)

Menjelang akhir musim, Oxford kembali terancam setelah hanya menang sekali dari sebelas laga. Persaingan di papan bawah makin ketat, dengan tim-tim seperti Luton Town dan Derby County juga menunjukkan performa impresif. Oxford sempat hanya unggul dua poin dari zona degradasi, memperbesar tekanan di ruang ganti dan tribun.

Pandit BBC Radio Oxford, Jerome Sale, menyoroti pentingnya ketenangan dan pengalaman Rowett dalam menghadapi tekanan akhir musim.

"Fase kritis ini bisa sangat menantang secara mental. Emosi mudah meledak, baik karena hasil sendiri maupun pesaing. Rowett menghadapi tantangan berat, tapi jika ada yang bisa mengelola rollercoaster emosi di Championship, itu adalah 'Mr. Championship Manager' sendiri."

 


Tipis antara Sukses dan Gagal

Oxford United saat memastikan promosi ke Championship musim depan. (X/Oxford United)

Musim ini menggambarkan betapa tipisnya batas antara sukses dan kegagalan di Championship. Oxford United, dengan segala keterbatasan dan dinamika ruang ganti, hampir pasti bertahan, sebuah pencapaian besar mengingat prediksi awal musim. Namun, perjalanan penuh naik-turun ini menegaskan bahwa bertahan di Championship membutuhkan lebih dari sekadar momentum promosi; dibutuhkan mental baja, manajemen krisis, dan sedikit keberuntungan di momen-momen genting.

"Oxford adalah tim yang hampir pasti bertahan. Upaya mereka musim ini membawa mereka mendekati konfirmasi aman, dan Rowett telah memimpin mereka hingga titik ini. Sekarang mereka hanya butuh penyelesaian solid untuk menghindari sindrom musim kedua," tulis BBC Sport dalam analisisnya.

Musim 2024/2025 akan dikenang sebagai musim perjuangan, di mana Oxford United membuktikan bahwa mereka layak bersaing di Championship, meski harus berdarah-darah hingga pekan terakhir.

Berita Terkait