Tampak dari Luar Angkasa, Rumput Laut Raksasa Ini Bikin Ilmuwan Cemas

Fenomena "rumput laut raksasa" terlihat dari luar angkasa, ilmuwan peringatkan dampak lingkungan serius.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 17 Oktober 2025, 12:20 WIB
Pemandangan udara sederetan besar sargassum yang mengapung di lepas pantai Playa del Carmen, negara bagian Quintana Roo, Meksiko, pada 18 Juni 2025. Makroalga planktonik yang dikenal sebagai sargassum dalam jumlah besar menyumbat pantai-pantai Meksiko dan menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan bagi perusahaan-perusahaan pariwisata, baik dari segi biaya pembersihan maupun pembatalan reservasi. (Elizabeth Ruiz/AFP)

Bola.com, Jakarta - Fenomena alam tak biasa sedang menjadi sorotan dunia ilmiah. Sebuah sabuk rumput laut cokelat raksasa bernama "Great Atlantic Sargassum Belt" kini membentang luas di Samudra Atlantik dan bahkan dapat dilihat langsung dari luar angkasa.

Rumput laut sargassum ini pertama kali terdeteksi pada 2011.

Advertisement

Dalam waktu lebih dari satu dekade, pertumbuhannya meningkat pesat hingga membentuk bentangan sepanjang 8.850 kilometer dengan berat mencapai 37,5 juta ton, hampir dua kali lipat lebar benua Amerika, sebagaimana dilaporkan Oddity Central, Rabu (15-10-2025).

Sabuk berwarna cokelat tersebut membentang dari pantai barat Afrika hingga Teluk Meksiko, membentuk pita besar di permukaan laut yang tampak jelas dari satelit.

Awalnya, sargassum hanya ditemukan di kawasan Laut Sargasso, tetapi kini telah menyebar ke wilayah lautan terbuka dan pesisir.

Para peneliti menilai, pertumbuhan luar biasa ini didorong oleh meningkatnya kadar nitrogen dan fosfor di perairan akibat pencemaran dari kegiatan pertanian, limbah, dan pembuangan sampah.

Unsur-unsur tersebut mempercepat proses eutrofikasi, menyediakan nutrisi berlebih yang mendorong proliferasi rumput laut secara masif.


Ekosistem Baru di Laut, tapi dengan Risiko Besar

Orang-orang duduk di atas pasir di Pantai Selatan, Miami, saat lonjakan musiman rumput laut Sargassum, pada 21 Juli 2025. (Daniel SLIM/AFP)

Kehadiran sabuk sargassum raksasa ini menimbulkan dua sisi dampak yang saling bertolak belakang.

Di satu sisi, rumput laut tersebut menjadi rumah bagi berbagai organisme laut seperti ikan, kepiting, udang, belut, dan penyu. Ekosistem yang terbentuk di antara gulungan sargassum memberikan perlindungan dan sumber makanan bagi banyak spesies.

Namun, sisi negatifnya jauh lebih kompleks. Hamparan rumput laut yang menutupi permukaan laut dalam jumlah besar dapat menghalangi sinar matahari yang dibutuhkan oleh terumbu karang untuk melakukan fotosintesis.

Hal ini berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem laut serta menurunkan kemampuan alami lautan dalam menyerap karbon.

Lebih parah lagi, saat sargassum membusuk, proses dekomposisinya menghasilkan gas beracun seperti hidrogen sulfida dan metana, yang berbahaya bagi manusia maupun lingkungan sekitar.


Ancaman bagi Pariwisata dan Aktivitas Ekonomi

Ketika sabuk sargassum terdorong hingga mencapai garis pantai, dampaknya langsung terasa pada sektor ekonomi pesisir.

Penumpukan rumput laut di pantai menyebabkan bau menyengat dan pemandangan tak sedap sehingga menurunkan daya tarik wisata.

Selain itu, aktivitas perikanan terganggu akibat pergerakan kapal yang terhambat, sementara pembangkit listrik tenaga nuklir di beberapa kawasan pesisir turut menghadapi risiko tersumbatnya sistem pendingin air laut.

Para ilmuwan memperingatkan bahwa dengan meningkatnya suhu permukaan laut akibat perubahan iklim, sabuk sargassum ini berpotensi terus berkembang lebih cepat di masa depan.

Jika tidak dikendalikan, fenomena tersebut dapat menimbulkan dampak ekologis dan sosial ekonomi yang sulit diprediksi.

 

Sumber: merdeka.com

Berita Terkait