Kisah Kebangkitan Norwegia: 27 Tahun Penantian, Identitas Baru, dan Tim Nasional yang Akhirnya Dewasa

Setelah mengalahkan Estonia 4-1 pada Kamis dan menggulung Italia 4-1 pada Minggu, Norwegia secara resma mengamankan tiket ke Piala Dunia FIFA 2026.

BolaCom | Gregah NurikhsaniDiterbitkan 19 November 2025, 12:30 WIB
Timnas Norwegia mengakhiri penantian 28 tahun untuk kembali tampil di Piala Dunia setelah memastikan tiket ke Piala Dunia 2026. (Heiko Junge/NTB via AFP)

Bola.com, Jakarta - Setelah mengalahkan Estonia 4-1 pada Kamis dan menggulung Italia 4-1 pada Minggu, Norwegia secara resma mengamankan tiket ke Piala Dunia FIFA 2026. Keberhasilan ini menjadi kali pertama bagi Tim Viking untuk tampil di panggung terbesar sepak bola dunia sejak 1998 silam. Namun, dengan keberadaan pemain kelas dunia seperti Erling Haaland dan Martin Odegaard di skuat, pertanyaan besar muncul: mengapa butuh waktu selama ini?

Generasi pemain Norwegia saat ini sebagian besar bahkan belum lahir ketika Norwegia menaklukkan Brazil 2-1 di Piala Dunia 1998 di Marseille, Prancis. Namun, Stale Solbakken, sang pelatih yang dulu bermain sebagai gelandang di tim pragmatis Egil Olsen, tahu persis bagaimana rasanya mewakili negaranya di ajang terbesar. Dan kini ia berhasil menciptakan identitas baru bagi Norwegia.

Advertisement

"Sepak bola sudah berevolusi sangat banyak sejak masa saya bermain, tetapi generasi ini memiliki dorongan dan semangat yang sama seperti yang kami miliki," ujar Solbakken kepada ESPN.

"Semua orang menantikan pertemuan dengan tim nasional, semua orang percaya pada proyek ini dan menginginkan yang terbaik satu sama lain. Anda bisa berbicara tanpa henti tentang taktik dan apa yang Anda inginkan dari pemain di lapangan, tetapi itu tidak berarti banyak jika Anda tidak menciptakan semangat tim."

Tim Solbakken, yang dulu diejek karena terlalu mempersulit hal, sekarang memancarkan kendali, optimisme, dan kepercayaan diri saat bersiap menuju Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko tahun depan. Memang, keteguhan sang pelatih dalam menekankan struktur dan gaya permainan akhirnya membuahkan hasil setelah bertahun-tahun skeptisisme terhadap timnas.

Norwegia kini menjadi tim yang terlihat matang secara taktik dan terhubung secara emosional. Ada data untuk membuktikannya, tentu saja: intensitas pressing, pemulihan bola di pertahanan ketiga, selisih expected goal (xG). Namun ada juga sesuatu yang kurang bisa diukur: perasaan bahwa sebuah kisah baru sedang dituliskan.

"Solbakken telah membangun budaya yang luar biasa di dalam tim," ujar mantan kiper Norwegia dan Tottenham, Erik Thorstvedt, kepada ESPN. "Mereka telah melalui banyak kritik dan itu tanpa diragukan lagi membuat mereka lebih kuat."

 


Kritik Keras yang Membentuk Karakter

Momen Erling Haaland, penyerang Norwegia, menunjukkan apresiasinya kepada para suporter setelah laga kualifikasi Piala Dunia 2026 Grup I kontra Estonia di Lillekula Stadium, Tallinn, Senin, 9 Juni 2025. (AP Photo/Sergei Grits)

Norwegia mengalami kesulitan untuk menemukan posisi mereka di panggung internasional sejak lolos ke fase grup Euro 2000. Perubahan besar justru dimulai selama kampanye UEFA Nations League musim gugur lalu. Mereka dibantai 5-1 oleh Austria di Linz pada Oktober 2024, penampilan yang sepertinya mengukuhkan setiap kritik tentang keluguan mereka, namun mereka bangkit kembali dalam dua laga terakhir untuk menjuarai grup dan promosi ke Liga A.

"Itulah saat para pemain akhirnya mengerti apa yang diinginkan Solbakken," kata Thorstvedt. "Pemandangan di stadion ketika Norwegia memenangkan grup Nations League; Anda bisa merasakan saat itu juga bahwa sesuatu yang baru sedang terjadi. Mungkin itu hanya Nations League dan hadiahnya hanyalah promosi ke Liga A, tetapi itu berarti sesuatu."

"Akhirnya kami 'memenangkan' sesuatu. Itu adalah perubahan besar. Hanya beberapa minggu sebelumnya Solbakken dinyatakan tidak berguna, dan banyak yang menyerukan agar ia dipecat."

Momen itu menandai reset emosional yang sangat dibutuhkan tim dan sejak malam itu, sesuatu yang luar biasa terjadi. Dipimpin oleh superstar Arsenal, Odegaard, Norwegia meraih 11 kemenangan beruntun di pertandingan kompetitif, termasuk kemenangan 3-0 atas Italia di kualifikasi Piala Dunia Juni lalu, kemenangan 5-0 atas Israel, dan kemenangan nyaris tak masuk akal 11-1 atas Moldova musim gugur ini.

Laga melawan Israel menggema melampaui skor akhir. Setelah pertandingan, pelatih Israel Ran Ben-Shimon, masih terpana setelah kekalahan telak, menyatakan: "Saya percaya Norwegia adalah salah satu dari dua tim terbaik di Eropa, bersama Spanyol." Pernyataannya, yang tampaknya tanpa kesan sinis, adalah penilaian yang sungguh luar biasa bagi Norwegia besutan Solbakken.

 


Dominasi yang Terbukti di Data

Puluhan ribu orang berkumpul di depan balai kota Oslo saat menyambut para pemain dan staf pelatih Norwegia. Mereka merayakan keberhasilan Norwegia lolos ke Piala Dunia 2026 sekaligus mengakhiri penantian selama 28 tahun. (Heiko Junge/NTB via AP)

Statistik memang mendukung. Norwegia bukan hanya mencetak lebih banyak gol (37) dan assist (29) daripada tim Eropa manapun di kualifikasi (dengan xG 24,70), mereka juga baru kemasukan lima gol dalam delapan pertandingan, rekor pertahanan yang tampaknya mustahil bagi tim yang kekurangan kiper mapan dan bertahan dengan barisan belakang yang lebih karena kebutuhan daripada desain. Solbakken, yang akan berusia 57 tahun tahun depan, tidak menyembunyikan kepuasannya ketika ditanya tentang keseimbangan baru yang ditemukan.

"Kuncinya adalah saya bisa bekerja dengan grup yang semakin nyaman dengan cara kami ingin bermain sepak bola," ujarnya. "Mungkin saya terlalu ambisius di awal, tetapi saya sadar bahwa dengan pemain yang tersedia, dan mereka yang datang, kami perlu mengadopsi gaya yang lebih agresif. Dengan kata lain, merasa percaya diri untuk menerapkan pendekatan lebih menyerang bahkan melawan negara tradisional yang lebih kuat."

Sementara itu, Thorstvedt melihat pergeseran itu sebagai momen Norwegia berhenti takut pada lawan.

"Banyak hal tampaknya datang bersamaan," tambahnya. "Odegaard berubah dari pemain bagus untuk Norwegia menjadi sensasional; Antonio Nusa, yang kesulitan di level klub, tiba-tiba tampak seperti pemain sayap kelas dunia di baju Norwegia, dan terlihat demikian sejak itu. Dan ketika Anda memiliki Haaland yang mencetak lebih dari satu gol per pertandingan untuk negaranya, ya? Mencetak gol minggu demi minggu untuk Manchester City adalah satu hal, tetapi melakukannya untuk Norwegia adalah hal lain. Tidak ada yang pernah melakukannya sebelumnya."

 


Kemenangan Bersejarah atas Italia

Starting XI Timnas Italia saat melawan Norwegia di Kualifikasi Piala Dunia 2026, Senin 18 November 2025 di San Siro. (AP Photo/Luca Bruno)

Salah satu pertandingan yang menentukan adalah pertemuan di Oslo melawan Italia pada Juni. Banyak yang mengharapkan Azzurri, yang sudah absen di dua Piala Dunia terakhir dan tengah dalam proses pembangunan kembali, akan mengekspos kekurangan Norwegia. Sebaliknya, laga itu menjadi pernyataan taktis yang luar biasa.

"Yang paling memuaskan saya dari pertandingan Italia, meskipun semua pembicaraan pasca-pertandingan fokus pada babak pertama ketika kami unggul 3-0, sebenarnya adalah babak kedua," ujar Solbakken.

"Kami berhasil bertahan dengan bola: untuk mempertahankannya, mengelola penguasaan, dan beristirahat dengannya. Itu memaksa orang Italia mengeluarkan energi mengejar dan menekan kami, sementara kami bisa menghemat energi dan menyerang dengan segar ketika peluang muncul. Itu tidak selalu menjadi sesuatu yang dikenal dari tim Norwegia."

Bagi banyak orang, babak kedua mungkin tampak seperti latihan bertahan biasa, tetapi bagi Solbakken itu melambangkan transformasi bagi tim yang dulu panik di bawah tekanan tetapi sekarang bisa menggunakan penguasaan bola sebagai bentuk perlindungan.

 


Perubahan Taktik yang Fundamental

Pemain Timnas Norwegia, Thelo Aasgaard, Erling Braut Haaland, Patrick Berg, dan Torbjorn Lysaker Heggem merayakan kemenangan mereka di akhir pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa melawan Italia, di Stadion San Siro, Milan, pada 16 November 2025. Mengalahkan Italia dengan skor 4-1 pada pertandingan terakhir Grup I Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa, Timnas Norwegia memastikan tiket lolos ke Piala Dunia 2026. (Alberto PIZZOLI/AFP)

Meskipun banyak perhatian berkisar pada kehebatan Haaland mencetak gol dan permainan Odegaard, terobosan terbesar Solbakken justru bersifat struktural daripada individual. Tim Norwegia tidak hanya lebih serang, mereka menyerang lebih cerdas.

Evolusi dari reaktif menjadi dominasi penguasaan bola telah mengdefinisikan Norwegia di bawah Solbakken, dan jejaknya terlihat di mana-mana: formasi 4-3-3 / 4-2-3-1 yang kompak yang sering berubah menjadi berlian saat menekan, sirkulasi bola yang mengundang tekanan lawan sebelum meledak ke serangan balik, dan tekad kolektif untuk berani saat memegang bola.

"Dari segi taktik, ada beberapa kesamaan (dengan 1998), terutama dalam organisasi pertahanan zona, di saat banyak tim lebih memilih sistem man-to-man," ujar Solbakken. "Saya pikir itu memberi kami keunggulan."

Keunggulan defensif itu, yang diperkuat oleh Kristoffer Ajer dan bek tengah Bologna Torbjørn Heggem, telah menjadi ciri khas kesuksesan mereka. Skema zona Norwegia menekankan menjaga jarak yang rapat dan melakukan intersepsi daripada mencoba bertarung dalam duel fisik, sebuah pergeseran yang telah mengencangkan tim yang dulu kebobolan banyak gol di kampanye kualifikasi sebelumnya.

 


Sander Berge: Simbol Transformasi

Haaland juga mencatatkan namanya sebagai pencetak gol terbanyak (top skor) Grup I Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa. Tampak dalam foto, kapten Timnas Norwegia, Erling Braut Haaland merayakan kemenangan bersama rekan-rekannya setelah Norwegia mengalahkan Italia dalam pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa di Stadion San Siro, Milan, pada 16 November 2025. (Stefano RELLANDINI/AFP)

Gelandang Sander Berge juga menjadi simbol dari sepak bola ala Solbakken. Pemain berusia 26 tahun itu telah menemukan kembali performanya di Fulham, bermain dengan percaya diri dan konsistensi yang jarang terlihat di masa-masa Premier Legaue-nya.

"Dia menerima banyak kritik, tetapi akhirnya dia menunjukkan betapa briliannya dia sebagai pemain," kata Thorstvedt. "Dia mungkin paling dikenal karena kualitas defensifnya, tetapi di tim ini dia bermain lebih sebagai pendukung Odegaard,dia juga bisa menciptakan, terutama ketika semua perhatian ada di kapten."

Solbakken setuju tentang pengaruh Berge: "Sander memiliki peran yang kurang sentral di Sheffield United dan Burnley, dan dia juga bermasalah dengan cedera, tetapi dia telah mengambil langkah besar maju di Fulham. Kami bisa menyesuaikan peran khusus untuknya di tim nasional yang sangat cocok dengan kekuatannya."

Peran itu, biasanya sebagai gelandang kotak-ke-kotak No. 8 di sisi kanan yang masuk ke ruang di belakang Odegaard dan turun ke pivot ganda saat bertahan, telah memberi Norwegia keseimbangan antara seni dan atletisme. Kemampuan Berge untuk menggerakkan bola di bawah tekanan dan mendorong maju melengkapi umpan-umpan lebih dalam dari Patrick Berg dan presisi kreatif Odegaard, membentuk trio gelandang yang rajin tetapi cerdik.

 


Data yang Mengagumkan

Raihan ini mengakhiri penantian Norwegia selama 28 tahun untuk kembali berlaga pada ajang sebesar Piala Dunia. Tampak dalam foto, kapten Timnas Norwegia, Erling Braut Haaland merayakan gol kedua timnya bersama rekan-rekannya selama pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa melawan Italia di Stadion San Siro, Milan, pada 16 November 2025. (Stefano RELLANDINI/AFP)

Evolusi Norwegia tidak hanya terlihat di peta panas dan skor, tetapi juga terukur dalam data. Sebelum ronde pertandingan terakhir, mereka memimpin kualifikasi Piala Dunia Eropa dalam one-vs.-one take-ons (34,7 per 90 menit), jauh di depan Belgia dan Spanyol, dan juga memuncaki grafik untuk progressive runs (26,1 per 90; Portugal berada di urutan kedua dengan 25 per 90), mencerminkan gaya dan kepercayaan diri mereka.

"Dengan Oscar Bobb dan Antonio Nusa di tim, ini sampai titik tertentu wajar karena mereka adalah dribbler yang sangat bagus."

Namun di balik angka-angka ada struktur. Para sayap didorong untuk mengisolasi bek sayap lebih tinggi, sementara gelandang tengah bertiga memastikan stabilitas defensif, yang mungkin menjadi salah satu alasan mengapa Norwegia hanya kebobolan sedikit gol meskipun dengan pendekatan ofensif mereka.

Penyerang Manchester City itu mencetak 16 gol dalam delapan pertandingan kualifikasi Piala Dunia, dari xG 9,86, menunjukkan efisiensi yang kejam, tetapi yang benar-benar menunjukkan cetak biru "tim-dahulu" Solbakken adalah pengorbanan diri, tekanan yang giat; larian yang membuka ruang untuk Odegaard dan Nusa.

Thorstvedt percaya kematangan taktik inilah yang akhirnya membuat Norwegia terlihat lengkap.

"Peran Solbakken tidak boleh diremehkan," ujarnya.

"Beberapa pelatih bagus dengan orang tetapi kurang kompeten dalam taktik, dan sebaliknya, tetapi ia menguasai kedua aspek tersebut. Ia sangat jujur dan lugas dengan pemain. Saya ingat ketika ia memberikan 'hairdryer treatment' kepada Oscar Bobb di depan seluruh penonton Ullevaal beberapa pertandingan lalu, tetapi ia bisa lolos karena dia sama sekali jelas dan jujur."

 


Jarak sebagai Fundamen

Di pertandingan terakhir Grup I Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa melawan Italia, Haaland sukses mencetak dua gol dalam kurun waktu dua menit. Tampak dalam foto, kapten Timnas Norwegia, Erling Braut Haaland merayakan kemenangan bersama rekan setimnya, Julian Ryerson, setelah memenangkan pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa antara Italia dan Norwegia di Stadion San Siro, Milan, pada 16 November 2025. (Alberto PIZZOLI/AFP)

Tanya Solbakken apa yang menyatukan semuanya dan ia tidak ragu: "Jarak. Mereka adalah hal yang fundamental, tidak hanya untuk pertahanan zona kami agar berfungsi, tetapi juga untuk memastikan pembawa bola selalu memiliki opsi umpan yang tepat saat menyerang."

"Fakta bahwa pemain seperti Odegaard, Haaland, Berge, dan Alexander Sorloth semuanya memikul tanggung jawab besar dan peran kepemimpinan di klub mereka tentu menguntungkan kami," ujar Solbakken. "Tetapi juga perlu dicatat bahwa kami telah membagi tugas kepemimpinan dalam grup, karena ada pemahaman kolektif tentang bagaimana kami membangun dan mempertahankan budaya di sekitar tim."

"Bagi-bagi kepemimpinan" itu telah menjadi semboyan di kamp. Itu menjelaskan mengapa dinamika ruang ganti terasa berbeda dari skuat rapuh di masa lalu. Bahkan kelahiran bintang Haaland tidak menaungi identitas kolektif... jika ada, itu justru memperkuatnya.

"Semua media ingin berbicara dengannya, dan pengaturan keamanan tim pada dasarnya dibangun untuk menjauhkan orang darinya. Tetapi itu membantu bahwa dia sangat rendah hati dan sangat disukai di grup karena siapa dia," kata Thorstvedt.

"Solbakken mengelola keseimbangan itu dengan baik, memberinya liburan ramah sesekali, sebagian untuk membuat Pep Guardiola senang dan memastikan dia tidak terlalu dimanfaatkan ketika tidak benar-benar diperlukan."

 


Vindikasi untuk Solbakken

Senyum Solbakken setelah mengunci kualifikasi adalah merendah. Tetapi di bawah ketenangan dan stoisisme, pasti ada kepuasan tersendiri.

Pelatih yang kebanyakan orang pikir terlalu terobsesi dengan struktur dan pengulangan, yang lebih mudah diterapkan di level klub daripada tim nasional dengan waktu latihan terbatas, untuk sukses di level internasional, telah membangun tim yang organisasinya menjadi kekuatan dan semangatnya, seperti yang terus diingatkannya kepada siapa saja yang bertanya, adalah fondasinya.

"Kami adalah kombinasi kekuatan fisik dan teknik," kata Solbakken setelah menang atas Italia. "Ingat, kami tidak memiliki Odegaard bermain malam ini. Kami telah memilih dua gelandang yang pekerja keras, meskipun mereka juga memiliki teknik yang sangat bagus. Tidak ada tim yang bisa sukses mengandalkan satu sifat saja. Mungkin hanya Barcelona di bawah Pep Guardiola yang bisa mencapai 100 persen keandalan pada teknik."

Setelah 27 tahun, itu telah memakan banyak pekerjaan di balik layar, tetapi emosi utama Solbakken adalah rasa lega.

"Ketika saya melihat hasil undian, saya hampir yakin bahwa Italia akan maju," katanya. "Tetapi pada akhirnya, kami keluar sebagai pemenang, dan kami merasa sangat bangga. Dalam turnamen ini, saya menetapkan standar tinggi untuk para pemain, dan mereka telah menghargai saya dengan sangat baik. Mereka telah melakukan pekerjaan yang sangat baik."

"Saya tidak berpikir akan pernah ada malam yang lebih indah dalam hidup saya. Ini sungguh tak nyata."

"Proses kualifikasi ini berat, sungguh berat. Kami telah hidup dengan ini untuk waktu yang cukup lama sekarang. Mudah untuk mengatakan bahwa ketika kami mengalahkan Italia (di pertandingan pertama) semuanya sudah diputuskan, tetapi Anda tetap harus melalui pertandingan setelah itu, dan memiliki sesi latihan, pertemuan taktik, dan menghabiskan waktu bersama. Banyak hal bisa terjadi, jadi saat ini saya merasakan lega yang luar biasa. Dan saya pikir saya akan semakin bahagia seiring berjalannya malam ini."

Berita Terkait