Bola.com, Jakarta - Uni Emirat Arab (UEA) jumpa Irak dalam dua leg putaran kelima sekaligus fase kualifikasi terakhir zona Asia menuju Piala Dunia 2026, dengan lebih dari separuh pemainnya merupakan pemain kelahiran luar negeri.
Namun, UEA bukan pengecualian. Mereka hanyalah satu dari banyak negara di Asia yang terlibat dalam "perlombaan naturalisasi", sebuah tren yang kian menguat sejak format Piala Dunia diperluas dari 32 menjadi 48 peserta.
Demikian tulis jurnalis John Duerden, pakar sepak bola Asia, di The Guardian.
Dengan jatah otomatis Asia yang melonjak dari empat di Qatar menjadi delapan pada Piala Dunia 2026 di Amerika Utara, peluang tampil di panggung terbesar kini terbuka bagi lebih banyak negara.
Selama ini, Jepang, Korea Selatan, Iran, Arab Saudi, dan Australia selalu menjadi penguasa kualifikasi, sementara Korea Utara menjadi satu-satunya kejutan ketika lolos pada 2010.
Enam negara itu pula yang sepanjang sejarah menjadi wakil Asia yang tampil lebih dari sekali di putaran final.
Target Realistis
Minimnya slot selama beberapa dekade membuat sejumlah federasi di Asia tidak cukup terdorong untuk berjuang menembus putaran final. Ekspansi Piala Dunia mengubah dinamika itu sepenuhnya.
Selain para langganan yang sudah mengamankan tiket 2026, Uzbekistan, yang sejak lama mengetuk pintu elite Asia, akhirnya lolos, begitu pula Yordania.
UEA dan Irak, yang baru satu kali tampil masing-masing pada 1990 dan 1986, juga kembali punya peluang. Akhirnya, Irak yang berhasil memperpanjang langkah menuju Piala Dunia 2026 dengan jalur play-off setelah dalam dua leg mengungguli UEA.
Duerden menulis, negara-negara yang berada lebih bawah dalam peringkat FIFA kini melihat Piala Dunia sebagai target realistis, dan jika pemain kelahiran luar negeri bisa mempercepat lompatan mereka, hampir tidak ada yang mempermasalahkannya.
"Ekspansi ini memicu dorongan besar untuk naturalisasi," ujar Shaji Prabhakaran, anggota Komite Eksekutif AFC.
"Lebih banyak tempat berarti lebih banyak harapan dan lebih banyak kesempatan. Mereka merasa bahwa dengan menempuh program naturalisasi, kualitas, performa, dan hasil dapat ditingkatkan lebih cepat sehingga peluang lolos juga terbuka," imbuhnya.
Bukan Hal Baru
Praktik mendatangkan pemain asing sebenarnya bukan hal baru. Qatar sudah memulainya secara masif pada era 2000-an hingga membuat FIFA memperketat aturan kelayakan. Kini, pemain harus memiliki garis keturunan atau telah tampil di liga domestik selama lima tahun.
Model terakhir itu yang paling sering digunakan UEA, terutama dengan mendatangkan pemain asal Brasil.
Dalam skuad terbaru, ada nama Lucas Pimenta, Marcus Meloni, Luanzinho, Bruno Oliveira, Caio Lucas, hingga Caio Canedo. Nicolas Gimenez dan Gaston Suzrez berasal dari Argentina, sementara pemain lain datang dari Maroko, Tunisia, hingga Pantai Gading.
Pelatih UEA asal Rumania, Cosmin Olaroiu, hampir dapat menyusun satu tim penuh yang berasal dari luar negeri.
Indonesia, Contohnya
Indonesia menjadi contoh lain betapa naturalisasi dapat mengubah peta persaingan. Untuk pertama kalinya sejak 1938, tim nasional mencapai babak 12 besar, sebagian besar berkat upaya PSSI memaksimalkan hubungan historis dengan Belanda.
Dalam dua tahun terakhir, hampir setiap bulan ada pemain kelahiran Belanda dengan kakek-nenek asal Indonesia yang mengurus paspor di kedutaan.
Pada beberapa laga, delapan hingga sembilan pemain kelahiran Eropa tampil sebagai starter, mengubah wajah tim hingga kemudian Patrick Kluivert dipercaya menangani skuad Garuda sejak Januari, sebelum akhirnya kerja sama dihentikan setelah langkah terhenti di putaran keempat kualifikasi lalu.
Keberadaan talenta seperti Kevin Diks, yang pada 9 November lalu mencetak gol perdananya di Bundesliga bersama Borussia Munchengladbach, membuat dampak nyata.
Harapan di Jakarta kini sederhana: seiring peluang menuju Piala Dunia makin terbuka, makin banyak pemain berkualitas yang memenuhi syarat akan memilih berseragam Merah Putih ketika peluang mereka bersama oranje tidak terjamin.
Mimpi Terus Hidup
Laju cepat Indonesia di Asia Tenggara turut memengaruhi cara pandang Malaysia. Pada September lalu, FIFA menuduh Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) memalsukan dokumen tujuh pemain asal Brasil, Argentina, Spanyol, dan Belanda agar terlihat memiliki garis keturunan dari Malaysia.
Ketujuh pemain itu sebelumnya tampil dalam kemenangan 4-0 atas Vietnam pada Juni, satu di antara hasil terbaik Malaysia dalam beberapa tahun terakhir. Mereka kemudian dihukum larangan membela timnas selama satu tahun, sementara FAM dijatuhi denda 438.000 dolar AS.
Kasus tersebut kini dibawa ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS). Namun, peristiwa itu makin menegaskan betapa besar dampak naturalisasi di kawasan.
Tidak lama setelahnya, muncul laporan bahwa federasi Vietnam (VFF) membidik tiga sampai empat pemain kelahiran Brasil yang tahun depan akan genap lima tahun bermain di V-League.
Sri Lanka pun merasakan kenaikan performa setelah diperkuat sejumlah pemain kelahiran Eropa dan Australia.
Sementara itu, UEA yang biasanya tampil di hadapan penonton empat digit kini menghadapi situasi berbeda. Tiket untuk laga leg pertama menghadapi Irak di Stadion Mohammed bin Zayed yang berkapasitas 36.000 tempat duduk, habis terjual.
Ketika peluang tampil di Piala Dunia berada di depan mata, para suporter yang lama haus prestasi tampaknya tidak terlalu mempermasalahkan siapa pun yang mengenakan seragam nasional. Mimpi itu masih terus hidup.
Sumber: The Guardian