Menko Airlangga dan Menperin Agus Gumiwang Beda Suara soal Insentif Industri Otomotif 2026

Dua menteri Prabowo berbeda pandangan soal insentif industri otomotif 2026.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 27 November 2025, 07:20 WIB
GJAW 2025 juga menyuguhkan beragam aktivitas gaya hidup otomotif, hiburan langsung, hingga penawaran atau program spesial. Tampak dalam foto, pengunjung melihat kendaraan saat Gaikindo Jakarta Auto Week (GJAW) 2025 di Tangerang, Banten, Jumat 21 November 2025. (AP Photo/Tatan Syuflana)

Bola.com, Jakarta - Pemerintah masih menghadapi perbedaan pandangan terkait rencana pemberian insentif bagi industri otomotif pada 2026.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa dukungan semacam itu belum diperlukan karena sektor tersebut dinilai masih berkembang secara solid.

Advertisement

Airlangga mencontohkan gelaran Gaikindo Jakarta Auto Week (GJAW) di ICE BSD City, Tangerang Selatan, yang menunjukkan tingginya antusiasme publik.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi bukti bahwa industri otomotif tetap bergerak positif tanpa perlu dorongan tambahan dari pemerintah.

"Insentif tahun depan tidak ada karena industrinya sudah cukup kuat, apalagi (GJAW) sudah pameran di sini," ujar Airlangga saat berbicara di PLN CEO Forum di ICE BSD, Tangerang Selatan, Rabu (26-11-2025).


Pandangan Berbeda dari Menperin

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam acara PLN CEO Forum, di ICE BSD, Tangerang Selatan, Rabu (26/11/2025). (Liputan6.com/Tira)

Sikap tersebut berbanding terbalik dengan pernyataan Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita.

Ia memastikan bahwa penyusunan skema insentif untuk sektor otomotif justru sedang berlangsung, mengingat peran strategis sektor tersebut dalam struktur manufaktur nasional.

"Ya sekarang sedang kami susun, dan insentif otomotif itu menurut saya sebuah keharusan karena merupakan sektor yang terlalu penting, yang sangat-sangat penting," kata Agus.

Agus menilai dukungan fiskal maupun nonfiskal tak lagi sekadar pilihan. Menurutnya, industri otomotif memiliki kontribusi besar terhadap penciptaan lapangan kerja, arus investasi, dan aktivitas rantai pasok di dalam negeri.

Ia juga menyebut kebijakan tersebut sejalan dengan Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN), yang menitikberatkan pada analisis keterkaitan hulu-hilir atau backward dan forward linkage dari setiap kegiatan manufaktur.

"Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN) itu strateginya kita melihat backward dan forward linkage dari setiap kegiatan manufaktur. Backward dan forward linkage yang paling besar itu ada di sektor otomotif,” ujarnya.


Bentuk Insentif Masih Dirahasiakan

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di acara PLN CEO Forum di ICE BSD Tangerang Selatan, Rabu (26/11/2025). (Liputan6.com/Tira)

Dalam pemetaan yang dilakukan pemerintah, sektor otomotif dinilai memiliki jaringan keterhubungan paling luas, dari industri komponen, logistik, hingga layanan purnajual.

Itulah mengapa, menurut Agus, pemerintah telah menetapkan komitmen untuk menyiapkan insentif terkait pada 2026.

Namun, ia memilih belum membuka perincian bentuk dukungan tersebut.

"Jadi, memang pemerintah itu memang sudah seharusnya juga untuk menyiapkan insentif untuk sektor otomotif untuk tahun 2026. Jangan tanya jenis insentifnya, bentuk insentifnya, itu sekarang sedang kami susun," ujar Agus.

 

Sumber: merdeka.com

Berita Terkait