6 Masalah Terparah di MU yang Harus Diselesaikan Ruben Amorim, Demi Selamatkan Kariernya

Berikut ini enam masalah Manchester United (MU) yang harus diselesaikan Ruben Amorim.

BolaCom | Yus Mei SawitriDiterbitkan 06 Desember 2025, 08:00 WIB
Bertandang ke markas Wolverhampton Wanderers pada laga lanjutan Liga Premier Inggris2024/2025, Manchester United takluk 0-2. (HENRY NICHOLLS/AFP)

Bola.com, Jakarta - Manchester United (MU) kembali menjadi sorotan setelah hanya mendulang satu kemenangan dalam lima laga terakhir Liga Inggris musim ini. Hasil minor tersebut membuat Setan Merah terperosok di posisi kedelapan klasemen sementara, sekaligus memancing kekecewaan besar dari para pendukung mereka.

Di balik beberapa momen positif yang sempat muncul sepanjang musim 2025/2026, tanda tanya besar tetap menyelimuti skuad asuhan Ruben Amorim. Publik mulai meragukan kemampuan sang manajer untuk membawa MU kembali ke level yang mereka anggap sebagai standar klub, bersaing di papan atas dan tampil dominan.

Advertisement

Kekecewaan fans mencapai puncaknya setelah hasil 1-1 kontra West Ham di Old Trafford, Jumat (5/12/2025) dini hari WIB. Suara sorakan dan boo menggema saat wasit meniup peluit panjang, menggambarkan betapa frustrasinya para pendukung melihat performa tim kesayangan mereka.

Untuk ulasan kali ini, fokus utama berada pada permasalahan yang terjadi di atas lapangan, tanpa menyentuh problem di luar lapangan seperti isu kepemilikan klub ataupun kondisi stadion. Sejumlah persoalan mendasar di tubuh skuad MU diyakini menjadi faktor utama inkonsistensi yang mereka tunjukkan musim ini.


1. Sistem Amorim Macet: Minim Wing-Back Alamiah Jadi Biang Kerok Performa Tersendat

Skuad Manchester United berkumpul untuk melakukan huddle sesaat sebelum kick-off pada laga Liga Inggris melawan West Ham di Old Trafford, Jumat (5/12/2025). (AP Photo/Ian Hodgson)

Ruben Amorim datang ke Manchester United dengan reputasi besar berkat keberhasilannya menerapkan formasi 3-4-2-1 di Sporting CP. Namun, hingga saat ini, publik Old Trafford belum melihat bukti konkret skema tersebut bisa bekerja efektif di Premier League bersama United.

Masalah utamanya sederhana namun krusial, Amorim terlalu kaku dengan sistemnya, sementara MU tak punya pemain yang tepat untuk menjalankannya.

Sejak kedatangan sang pelatih, Patrick Dorgu menjadi satu-satunya wing-back alamiah yang direkrut klub. Itu pun, pemain muda Denmark tersebut kesulitan mendapatkan menit bermain reguler. Tanpa kehadiran wing-back spesialis, bangunan taktik Amorim otomatis goyah.

Jamie Carragher menjadi salah satu sosok yang menyoroti isu ini saat menjadi analis di Sky Sports.

“Masalah dengan sistem ini adalah tuntutan posisi wing-back,” ujar Carragher.

“Amad dipertanyakan karena kalah duel di tiang jauh. Tapi sebagai wing-back, ia dituntut jadi full-back saat bertahan dan jadi winger saat menyerang. Amad lebih natural sebagai winger, tidak heran ia kesulitan," imbuh dia. 

Carragher melanjutkan dengan menyoroti Diogo Dalot yang juga tidak cocok untuk peran tersebut.

“Dalot kebalikannya. Ia lebih bisa bertahan di tiang jauh, tapi ketika masuk ke garis terakhir, dia tidak bisa mengalahkan lawan satu lawan satu. Tidak bisa membuat umpan silang atau umpan kreatif.”

Hasilnya, MU kerap gagal membentuk lima pemain di garis terakhir, elemen vital dalam skema Amorim, karena pemain yang tersedia tidak memiliki kualitas ideal untuk peran hybrid wing-back tersebut.

Masalah ini menjadi salah satu akar mengapa sistem sang pelatih terlihat mandek, berjalan setengah hati, dan belum mampu membawa Setan Merah tampil dominan seperti yang diharapkan.

 


2. Struktur Pertahanan Rapuh: MU Terlalu Mudah Ditembus

Bek Manchester United asal Inggris #05, Harry Maguire, berhasil menyundul bola melewati penyerang Tottenham Hotspur asal Inggris #19, Dominic Solanke, dan bek Manchester United asal Inggris #23, Luke Shaw, dalam pertandingan final Liga Europa UEFA antara Tottenham Hotspur dan Manchester United di Stadion San Mames, Bilbao, pada 21 Mei 2025. (Josep LAGO/AFP)

Selain masalah wing-back, Manchester United kini juga dihadapkan pada persoalan besar di sektor pertahanan. Struktur pertahanan Setan Merah terlihat rapuh dan gampang ditembus, hingga membuat tim lawan terlalu mudah menciptakan peluang berbahaya.

Data pun berbicara lantang. MU tercatat telah kebobolan expected goals (xG) sebesar 19,2, angka yang bahkan lebih buruk dibandingkan Wolves yang berada di dasar klasemen dengan xG kebobolan 18,9. Angka tersebut memperlihatkan betapa seringnya MU memberikan kesempatan emas kepada lawan di dalam kotak penalti.

Situasi ini tentu tidak terlepas dari minimnya wing-back alamiah dalam skema Ruben Amorim. Namun, akar permasalahan juga berkaitan erat dengan bentuk dan komposisi lini tengah, sesuatu yang akan menjadi sorotan di poin berikutnya.

Pertahanan MU bukan hanya bocor, tetapi juga terlihat tidak sinkron. Transisi bertahan lambat, koordinasi antar-posisi kerap terlambat, dan para bek terlalu sering dibiarkan menghadapi situasi satu lawan satu tanpa dukungan memadai.

Dengan struktur seperti ini, wajar bila Manchester United kesulitan menjaga konsistensi, apalagi di Premier League yang menuntut intensitas dan disiplin taktik lebih tinggi.


3. Masalah di Lini Tengah dan Peran Bruno Fernandes

Dua pemain Manchester United (MU) asal Portugal, Bruno Fernandes dan Diogo Dalot, merayakan gol ketiga ke gawang Leicester City dalam laga pekan ke-29 Premier League 2024/2025 di King Power Stadium, Senin (17/3/2025) dini hari WIB. MU menang telak 3-0 atas Leicester City dalam laga ini. (Adrian Dennis / AFP)

Bruno Fernandes jelas menjadi salah satu pemain terbaik Manchester United musim ini. Kreativitasnya tak tertandingi. Ia telah menciptakan 40 peluang, terbanyak dibanding pemain mana pun di Premier League. Namun, peran sang kapten dalam skema lini tengah justru menjadi dilema besar bagi Ruben Amorim.

Masalahnya sederhana. Bruno adalah pemain yang bekerja paling optimal di sepertiga akhir lapangan, bukan sebagai bagian dari double pivot. Ketika ditempatkan dalam duet gelandang tengah, ia memang membantu progresi serangan, tetapi meninggalkan area pertahanan terlalu terbuka.

Casemiro, meski performanya membaik, tidak mungkin mengerjakan pekerjaan dua orang sekaligus.

Legenda klub, Gary Neville, bahkan menyoroti persoalan ini secara langsung.

“Lini tengah adalah masalah besar dan kita semua tahu itu. Ugarte tidak cukup baik, dan Bruno bukan pemain yang bisa main sebagai gelandang bertahan dalam double pivot,” ujar Neville di Sky Sports.

Neville menilai Bruno hanya bisa sedikit lebih dalam jika Manchester United bermain di Old Trafford melawan tim yang mengambil alih penguasaan bola. Namun, untuk laga-laga Liga Inggris yang mayoritas melibatkan tim dengan kualitas dan penguasaan bola solid, Bruno akan selalu kesulitan dalam peran tersebut.

Skema Amorim semakin memperjelas kebingungan ini. Dalam formasi saat ini, Bruno dipaksa menjadi salah satu dari dua gelandang tengah atau menjadi bagian dari trio depan, dua posisi yang sebenarnya bukan tempat terbaiknya.

Posisi ideal Bruno tetap jelas. Ia harus memainkan peran bebas di belakang striker, bukan dibebani tanggung jawab struktural di lini tengah yang membuat pertahanan Manchester United keropos.


4. Masalah Striker

Benjamin Sesko dari Manchester United menyapa para penggemar selama pertandingan Premier League antara Manchester United dan Arsenal di Stadion Old Trafford di Manchester, Inggris, Minggu, 17 Agustus 2025. (Foto AP/Dave Thompson)

Bisa dibilang, baik Benjamin Sesko maupun Joshua Zirkzee belum mampu tampil mengguncang sejauh ini.

Di antara keduanya, mereka baru mencetak tiga gol liga, dengan rata-rata satu gol setiap 319 menit. Catatan itu jelas harus meningkat jika Manchester United ingin naik di klasemen.   


5. Bertahan dari Situasi Bola Mati

Bermain tandang ke markas Arsenal, tim racikan pelatih Ruben Amorim harus menelan pil pahit kekalahan 0-2. (Adrian Dennis/AFP)

Sejak awal musim lalu, hanya West Ham yang kebobolan lebih banyak dari situasi sepak pojok di Liga Inggris (17) dibandingkan Manchester United (15).

Memang, sebuah sepak pojok menjadi penyebab kekalahan mereka melawan West Ham ketika Soungoutou Magassa memanfaatkan lemahnya koordinasi pertahanan United.

Kabar baiknya bagi United, hanya Arsenal dan Chelsea yang mencetak lebih banyak gol dari situasi bola mati dibandingkan mereka musim ini.   


6. Kobbie Mainoo

Selebrasi gelandang Manchester United, Kobbie Mainoo setelah mencetak gol keempat ke gawang Wolverhampton Wanderers pada laga pekan ke-22 Premier League 2023/2024 di Molineux Stadium, Wolverhampton, Kamis (1/2/2024). (PA via AP Photo/Bradley Collyer)

Para fans Manchester United belakangan semakin frustrasi dengan Amorim karena enggan memasukkan Kobbie Mainoo ke dalam starting XI.

Gelandang berusia 20 tahun itu sebelumnya tampak sebagai salah satu prospek paling cerah di Premier League di bawah Erik ten Hag, tetapi perkembangannya mandek sejak kedatangan Amorim.

Di liga musim ini, ia baru bermain 171 menit dan belum menjadi starter sekali pun. Pada titik ini, kepindahannya pada Januari tampak tak terhindarkan, dan itu akan menjadi kerugian besar bagi United.   

Sumber: Planet Football

Berita Terkait