Bola.com, Jakarta - Teknologi kecerdasan buatan (AI), khususnya deepfake AI, dinilai memiliki potensi mengancam keamanan nuklir dunia, demikian laporan majalah Foreign Affairs, Senin lalu.
Philip Schellekens, Kepala Ekonom Biro Regional Asia-Pasifik Program Pembangunan PBB (UNDP), mengingatkan bahwa penerapan AI di ranah militer bisa menjadi ancaman serius bagi keselamatan manusia, bahkan berpotensi menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar.
"Penggunaan teknologi ini harus diatur secara ketat dan dilakukan dengan penuh tanggung jawab," kata Schellekens, dikutip dari Antara, Rabu (31-12-2025).
Deepfake merupakan teknik manipulasi audio dan visual yang memanfaatkan AI untuk menciptakan konten palsu, tetapi tampak nyata. Teknologi ini dinilai bisa menipu pemimpin negara bersenjata nuklir sehingga mendorong mereka melakukan serangan nuklir.
Bahaya Deepfake AI
Laporan tersebut juga menyoroti risiko delegasi kewenangan penggunaan senjata nuklir kepada sistem berbasis AI. Selain itu, AI mempermudah pembuatan video, audio, dan gambar palsu sehingga penyebaran informasi bohong menjadi lebih cepat dan masif.
Menurut Foreign Affairs, deepfake berpotensi membuat suatu negara percaya bahwa mereka sedang diserang dengan senjata nuklir.
Hal ini bisa memicu respons militer yang berlebihan, bahkan perang nuklir.
Tak hanya itu, teknologi ini juga dapat disalahgunakan untuk memanipulasi pemimpin negara nuklir agar melancarkan serangan pendahuluan, merekayasa alasan perang, menggalang dukungan publik untuk konflik, atau menimbulkan perpecahan di masyarakat, menurut laporan tersebut.
Sumber: merdeka.com