Super Flu atau Influenza Biasa, Mana yang Lebih Berisiko? Ini Penjelasan Kemenkes

Kasus influenza Subclade K muncul di Indonesia, berikut ini penjelasan Kemenkes RI.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 03 Januari 2026, 14:20 WIB
Ilustrasi demam, influenza. (Image by Freepik)

Bola.com, Jakarta - Isu merebaknya influenza subclade K, yang kerap disebut sebagai super flu, belakangan menjadi perhatian publik setelah lonjakan kasus dilaporkan di sejumlah negara, seperti Amerika Serikat dan Inggris.

Di tengah kekhawatiran tersebut, Kementerian Kesehatan RI menegaskan bahwa varian ini tidak lebih berbahaya dibandingkan jenis influenza lainnya.

Advertisement

Juru Bicara Kemenkes RI, drg Widyawati, menjelaskan bahwa berdasarkan evaluasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan kondisi epidemiologi terkini, influenza A (H3N2) subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan.

"Menurut penilaian WHO dan situasi epidemiologi saat ini, subclade K tidak menunjukkan peningkatan keparahan jika dibandingkan dengan clade atau subclade lainnya,” ujarnya dalam keterangan, Kamis (1-1-2026). 

Subclade K sebelumnya dikaitkan dengan peningkatan kasus flu musiman di sejumlah wilayah. Di Amerika Serikat, misalnya, lonjakan kasus influenza A (H3N2) mulai terlihat sejak pekan ke-40 tahun 2025, bertepatan dengan masuknya musim dingin.

"Peningkatan ini terjadi bersamaan dengan datangnya musim dingin, mirip dengan tahun-tahun sebelumnya," lanjut Widyawati.

Varian ini kali pertama diidentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025. Hingga kini, subclade K telah dilaporkan beredar di 81 negara, dengan total 1.127 kasus tercatat di AS.

Gejala yang muncul umumnya menyerupai flu musiman, seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, nyeri tenggorokan, dan pegal.


Subclade K Juga Terdeteksi di Indonesia

Ilustrasi influenza. Credit: pexels.com/AndreaPiacquadio

Kemenkes memastikan bahwa influenza subclade K juga telah ditemukan di Indonesia. Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus yang tersebar di delapan provinsi.

"Hingga akhir Desember 2025, tercatat total 62 kasus subclade K di delapan provinsi, dengan jumlah terbanyak ditemukan di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat," ungkap Widyawati.

Perinciannya, Jawa Timur mencatat 23 kasus, Kalimantan Selatan 18 kasus, Jawa Barat 10, Sumatra Selatan lima, Sumatra Utara tiga, serta masing-masing satu kasus di Jawa Tengah, Sulawesi Utara, dan DI Yogyakarta.

Data tersebut diperoleh melalui pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS) yang rampung pada 25 Desember 2025.

Subclade K telah terdeteksi sejak Agustus 2025 melalui laporan sentinel Influenza-Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) di berbagai fasilitas layanan kesehatan, termasuk puskesmas, Balai Kekarantinaan Kesehatan, dan rumah sakit.

Dari total kasus yang terdeteksi, mayoritas pasien merupakan perempuan, yakni 64,5 persen atau 40 orang.

Berdasarkan kelompok usia, kasus terbanyak ditemukan pada anak usia 1-10 tahun sebesar 35,5 persen, disusul usia 21-30 tahun sebesar 21 persen, usia 11-20 tahun sebesar 19,4 persen, dan kelompok usia di atas 60 tahun sebesar 8,1 persen.


Tren Kasus Influenza Cenderung Menurun

Ilustrasi sakit influenza. (Foto/Sumber: Pexels.com/Pavel Danilyuk)

Kemenkes juga mencatat adanya penurunan tren kasus influenza nasional dalam dua bulan terakhir.

Dari 843 spesimen yang diperiksa, 348 sampel dinyatakan positif influenza dan telah menjalani genome sequencing.

Hasilnya, 152 spesimen atau 44 persen merupakan influenza tipe A/H1, sementara 172 spesimen atau 49 persen termasuk tipe A/H3, dengan 62 di antaranya tergolong subclade K. Adapun 24 spesimen lainnya atau sekitar 7 persen merupakan tipe B/Victoria.

"Semua varian ini bersirkulasi secara global dalam sistem surveilans WHO," kata Widyawati.

Ia menegaskan, pemerintah terus melakukan pemantauan, pelaporan, serta penyesuaian kebijakan sesuai perkembangan situasi guna menjaga kesehatan masyarakat.


Imbauan Kesehatan dari Kemenkes

Ilustrasi mengenakan masker. (Foto/Dok: freepik.com)

Menghadapi peredaran influenza, Kemenkes mengimbau masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

"Cuci tangan, istirahat cukup, dan konsumsi makanan bergizi. Lakukan juga vaksinasi influenza tahunan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan penderita komorbid," bebernya.

Menurut Widyawati, vaksin influenza tetap efektif untuk mencegah sakit berat, rawat inap, hingga kematian.

Masyarakat juga diminta tetap di rumah saat sakit, beristirahat cukup, serta menggunakan masker dan menerapkan etika batuk.

"Segera periksa ke fasilitas layanan kesehatan jika gejala memberat setelah lebih dari tiga hari, demam tinggi tidak turun, atau muncul sesak napas," imbuhnya.

 

Sumber: merdeka.com

Berita Terkait