Nepal Ubah Aturan Pendakian Everest, Pendaki Wajib Bayar Biaya Sampah Rp66,8 Juta

Setelah 11 tahun, Nepal mengakui skema deposit gagal mengatasi masalah sampah di Gunung Everest.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 03 Januari 2026, 16:20 WIB
Foto ini, yang diambil pada 21 Mei 2018, menunjukkan peralatan pendakian yang dibuang dan sampah berserakan di sekitar Camp 4 Gunung Everest. Puluhan tahun pendakian gunung komersial telah mengubah Gunung Everest menjadi tempat pembuangan sampah tertinggi di dunia karena makin banyak pendaki yang menghabiskan banyak uang tidak memperhatikan jejak buruk yang mereka tinggalkan. (Doma SHERPA/AFP)

Bola.com, Jakarta - Upaya Nepal menekan timbunan sampah di Gunung Everest lewat skema deposit dinilai tak membuahkan hasil.

Setelah diterapkan selama 11 tahun, kebijakan yang mewajibkan pendaki membayar uang jaminan akhirnya dihentikan karena gagal mendorong pendaki membawa sampah mereka turun dari gunung tertinggi di dunia tersebut.

Advertisement

Pemerintah Nepal kini menyiapkan aturan baru. Alih-alih deposit yang bisa dikembalikan, pendaki akan dikenai biaya pembersihan yang bersifat wajib dan tidak dapat diminta kembali.

Besarannya diperkirakan tetap 4.000 dolar AS atau sekitar Rp66,8 juta per orang.

Mengutip laporan BBC, Rabu (31-12-2025), skema lama mewajibkan pendaki membayar deposit 4.000 dolar AS yang hanya dikembalikan jika mereka membawa turun minimal delapan kilogram sampah.

Kebijakan ini awalnya dirancang untuk mengurangi akumulasi limbah di Everest, yang diperkirakan mencapai sekitar 50 ton.

Namun, setelah lebih dari satu dekade berjalan, pemerintah mengakui kebijakan tersebut tidak memberikan dampak signifikan.

Direktur Departemen Pariwisata Nepal, Himal Gautam, menyebut persoalan sampah tidak hanya belum teratasi, tetapi skema deposit justru menambah beban administrasi.

"Masalah sampah bukan hanya belum hilang, tetapi skema ini juga telah menjadi beban administratif," ujarnya kepada BBC.


Sampah Menumpuk

Pekerja perusahaan daur ulang membuka karung berisi sampah dari Gunung Everest di Kathmandu, 5 Juni 2019. Ekspedisi pemerintah Nepal selama 45 hari mengumpulkan pembungkus makanan, kaleng, botol, tabung oksigen kosong dan limbah lainnya dari gunung setinggi 8.850 meter. (PRAKASH MATHEMA/AFP)

Pejabat pariwisata Nepal menyebut sebagian besar uang deposit memang dikembalikan kepada pendaki setiap tahunnya. Namun, hal itu tidak serta-merta menandakan keberhasilan.

Sampah yang dibawa turun umumnya berasal dari kamp-kamp rendah, sementara penumpukan terparah justru terjadi di area yang lebih tinggi.

"Dari kamp-kamp yang lebih tinggi, orang cenderung hanya membawa kembali tabung oksigen," kata Tshering Sherpa, Kepala Eksekutif Komite Pengendalian Polusi Sagarmatha.

Menurutnya, seorang pendaki rata-rata menghasilkan hingga 12 kilogram sampah selama berada di gunung selama sekitar enam minggu untuk proses aklimatisasi dan pendakian.

Banyak perlengkapan seperti tenda, kaleng, serta kemasan makanan dan minuman kerap ditinggalkan.

"Itulah sebabnya kita dapat melihat begitu banyak sampah menumpuk," ucapnya.


Lemahnya Pengawasan

Anggota tim ekspedisi pembersihan Gunung Everest sedang mengumpulkan sampah yang ditinggalkan pendaki (AFP/Namgyal Sherpa)

Selain aturan yang dinilai tidak seimbang, lemahnya pengawasan juga menjadi persoalan utama. 

"Selain pos pemeriksaan di atas Air Terjun Es Khumbu, tidak ada pemantauan terhadap apa yang dilakukan para pendaki," kata Tshering Sherpa.

Sebagai langkah perbaikan, pemerintah Nepal akan memberlakukan biaya pembersihan yang tidak dapat dikembalikan.

Dana tersebut rencananya digunakan untuk membangun pos pemeriksaan tambahan di Camp Dua serta mengerahkan penjaga gunung yang akan berpatroli hingga ke area ketinggian untuk memastikan sampah dibawa turun.

Biaya pembersihan itu diperkirakan setara nilai deposit lama dan akan diberlakukan setelah mendapat persetujuan parlemen.

Ketua Kotamadya Pedesaan Pasang Lhamu, Mingma Sherpa, menyambut perubahan tersebut sebagai hasil perjuangan panjang komunitas Sherpa.

"Selama ini kami mempertanyakan efektivitas skema deposit karena tidak pernah ada sanksi bagi pendaki yang tidak membawa sampahnya turun. Sebelumnya juga tidak ada dana khusus, sementara sekarang biaya yang tidak dapat dikembalikan ini memungkinkan pembentukan dana untuk pembersihan dan pemantauan," ujar Mingma Sherpa.


Persoalan Mendesak

Pengerahan drone untuk menangani sampah di puncak Gunung Everest. (dok. Airlift Technology / AFP)

Kebijakan baru ini menjadi bagian dari rencana aksi pembersihan gunung lima tahunan yang baru diperkenalkan.

Juru bicara Kementerian Pariwisata Nepal, Jaynarayan Acarya, mengatakan program tersebut dirancang untuk segera menjawab persoalan mendesak terkait sampah di pegunungan Nepal.

Di sisi lain, pemerintah mulai memanfaatkan teknologi untuk membantu pembersihan di ketinggian ekstrem. Satu di antara langkahnya adalah mengerahkan drone pengangkat berat ke Gunung Everest.

Mengutip AFP, Sabtu (30-8-2025), dua unit drone DJI FC30 diterbangkan hingga Camp 1 di ketinggian 6.065 meter dan berhasil mengangkut sekitar 300 kilogram sampah selama musim pendakian musim semi, yang berlangsung dari April hingga awal Juni.

Sampah yang diangkut meliputi kaleng, tabung gas, botol plastik, hingga peralatan pendakian yang ditinggalkan.

"Satu-satunya pilihan selama ini adalah helikopter dan tenaga manusia, tanpa alternatif di antaranya," kata Raj Bikram Maharjan dari Airlift Technology, perusahaan Nepal yang mengembangkan proyek tersebut.

"Sebagai solusi, kami mengembangkan konsep penggunaan drone pengangkat berat untuk mengangkut sampah," imbuhnya.

 

Sumber: liputan6.com

Berita Terkait