Arsenal Susah Payah Mengalahkan Bournemouth, Keputusan Mikel Arteta Simpan Eberechi Eze Dipertanyakan

Kemenangan 3-2 atas Bournemouth membuat The Gunners makin kukuh di puncak klasemen Premier League, unggul enam poin di atas Manchester City yang masih memiliki satu laga tersisa lebih banyak.

BolaCom | Benediktus Gerendo PradigdoDiterbitkan 04 Januari 2026, 19:30 WIB
Pemain Arsenal, Eberechi Eze, berjalan meninggalkan lapangan usai pertandingan Liga Premier melawan Tottenham di London, Minggu, 23 November 2025. (AP Photo/Frank Augstein)

Bola.com, Jakarta - Eberechi Eze kembali menjadi sorotan setelah tidak dimainkan sama sekali saat Arsenal menang 3-2 atas Bournemouth, Minggu (4/1/2026) dini hari WIB. Bahkan keputusan Mikel Arteta itu pun dipertanyakan.

Kemenangan 3-2 atas Bournemouth membuat The Gunners makin kukuh di puncak klasemen Premier League, unggul enam poin di atas Manchester City yang masih memiliki satu laga tersisa lebih banyak.

Advertisement

Keputusan Mikel Arteta kembali mencadangkan Eze menimbulkan tanda tanya besar, mengingat Arsenal telah mengeluarkan dana sekitar 67,5 juta pound untuk memboyong sang gelandang serang dari Crystal Palace pada musim panas lalu.

Transfer itu sempat dipandang sebagai langkah besar, apalagi Eze adalah pemain yang kembali ke klub masa kecilnya dan diharapkan langsung memberi dampak signifikan.

Namun, kenyataannya Eze kini telah duduk di bangku cadangan dalam empat laga beruntun, bahkan ketika Arsenal terlihat kesulitan mencetak gol.

Padahal, musim lalu ia mampu mencetak delapan gol dan delapan assist di Premier League bersama Palace, ditambah tiga gol dan dua assist di Piala FA yang membantu klub tersebut meraih trofi besar pertama dalam sejarah mereka.


Mikel Arteta Lebih Pilih Mengamankan Kemenangan

Manajer Arsenal, Mikel Arteta (kanan), memeluk kiper Aston Villa, Emiliano Martinez, seusai pertandingan Liga Inggris antara Arsenal dan Aston Villa di Emirates Stadium, Rabu (31/12/2025). (AP Photo/Alastair Grant)

Pundit sepak bola Inggris yang juga mantan bek Liverpool dan Bournemouth, Jamie Redknapp, mengungkap teori mengenai alasan di balik minimnya menit bermain Eze.

Berbicara setelah kemenangan Arsenal atas Bournemouth, mantan gelandang Timnas Inggris itu menilai gaya kepelatihan Arteta menjadi faktor utama.

Dalam wawancara dengan Sky Sports yang dikutip Metro, Redknapp mengatakan:

“Mereka memasukkan Merino menjelang akhir pertandingan, dan Arteta tidak melihat ke sekeliling untuk memasukkan Eze atau Myles Lewis-Skelly guna mencoba memenangkan laga menjadi 4-2 atau 5-2," ujar Redknapp.

"Dia berpikir, ‘Saya ingin mempertahankan apa yang sudah saya miliki’, itulah tipenya sebagai manajer. Saya rasa dia tidak akan terlalu ekspansif,” lanjutnya.

Menurut Redknapp, Arteta bukan tipe pelatih yang mengejar kemenangan dengan selisih besar ketika sudah unggul. Ia lebih memilih pendekatan pragmatis, menjaga hasil yang ada hingga peluit akhir berbunyi.

Pendekatan ini menunjukkan, meski banyak pelatih sukses di masa lalu percaya menyerang adalah bentuk pertahanan terbaik, Arteta justru menganut keyakinan pertahananlah yang memenangkan gelar.


Pendekatan Pragmatis dan Peluang Juara Arsenal

Manajer Arsenal, Mikel Arteta, bersama anak asuhnya setelah duel kontra Everton pada pekan ke-17 Premier League di Hill Dickinson Stadium, Minggu (21/12/2025) dini hari WIB. Dalam pertandingan tersebut, The Gunners menang 1-0 atas Everton. (AP Photo/Ian Hodgson)

Berada di bawah asuhan Arteta, Arsenal dikenal sebagai spesialis situasi bola mati dan memiliki salah satu rekor pertahanan terbaik di liga.

Pendekatan yang lebih realistis ini membuat permainan mereka mungkin terlihat kurang atraktif, tetapi sangat efektif dalam perburuan gelar Premier League pertama sejak 2004.

Setelah kemenangan telak 4-1 atas Aston Villa di tengah pekan, Arsenal makin diuntungkan ketika Manchester City ditahan imbang tanpa gol oleh Sunderland.

Hasil tersebut membuat keunggulan The Gunners di puncak klasemen melebar menjadi tujuh poin, menjelang Man City menghadapi Chelsea pada Senin (5/1/2026) dini hari WIB.

Musim ini terasa berbeda bagi Arsenal, setelah tiga musim berturut-turut hanya finis sebagai runner-up. Mentalitas tim dan kemampuan mengarungi jadwal padat musim dingin terlihat jauh lebih matang.

Kedalaman skuad menjadi salah satu faktor kunci. Paul Merson bahkan menyebut kekuatan tim Arsenal saat ini setara dengan Manchester United (MU) pada era keemasan Sir Alex Ferguson.

Tak heran, superkomputer kini memberikan peluang sebesar 82 persen bagi Arsenal untuk mengangkat trofi Premier League pada Mei mendatang.

Di tengah peluang besar tersebut, masa depan peran Eberechi Eze di skuad utama masih menjadi tanda tanya, apakah ia akan tetap menjadi korban pendekatan pragmatis Arteta, atau justru menjadi pembeda di momen krusial perebutan gelar.

Sumber: Give Me Sport


Persaingan di Premier League

Berita Terkait