Memanas di Old Trafford, Ruben Amorim Bersitegang dengan Direktur Olahraga MU

Laporan jurnalis Alex Crook untuk talkSPORT menyebutkan adanya ketegangan yang semakin nyata antara Ruben Amorim dan Jason Wilcox.

BolaCom | Gregah NurikhsaniDiterbitkan 05 Januari 2026, 10:00 WIB
Manajer Manchester United (MU), Ruben Amorim. (Darren Staples / AFP)

Bola.com, Jakarta - Manchester United kembali gagal memetik hasil maksimal di Liga Inggris 2025/2026. Hasil imbang 1-1 melawan Leeds United di Elland Road, Minggu (4/1/2026), menambah daftar panjang performa naik turun Setan Merah musim ini. Di balik hasil tersebut, muncul kabar yang tak kalah mengkhawatirkan dari internal klub.

Sorotan kini tidak hanya tertuju pada permainan di atas lapangan, tetapi juga dinamika di balik layar Old Trafford. Manajer Manchester United, Ruben Amorim, dikabarkan mulai mengalami ketegangan dengan direktur olahraga klub, Jason Wilcox, seiring situasi tim yang belum menunjukkan perbaikan signifikan.

Advertisement

Secara klasemen, Manchester United memang hanya terpaut tiga poin dari Liverpool yang berada di posisi keempat. Namun, performa yang inkonsisten membuat optimisme suporter terus menurun. Hasil demi hasil yang tidak meyakinkan memunculkan pertanyaan besar soal arah proyek yang sedang dibangun Amorim.

Tekanan pun kian terasa bagi pelatih asal Portugal tersebut, yang sejak awal dikenal sebagai sosok dengan filosofi kuat dan pendekatan taktik yang relatif kaku.

 


Beda Pandangan dengan Jason Wilcox

Pelatih Manchester United asal Portugal, Ruben Amorim, bereaksi di akhir pertandingan Liga Inggris antara Manchester United dan Wolverhampton Wanderers di Old Trafford, Manchester, barat laut Inggris, Rabu (31-12-2025) dini hari WIB. (Oli SCARFF/AFP)

Laporan jurnalis Alex Crook untuk talkSPORT menyebutkan adanya ketegangan yang semakin nyata antara Ruben Amorim dan Jason Wilcox. Sumber tersebut mengungkapkan bahwa Wilcox menginginkan Amorim lebih fleksibel secara taktik, terutama di tengah kondisi skuad yang tidak ideal.

Amorim sendiri kerap mendapat kritik dari pundit karena dianggap terlalu terpaku pada sistem permainannya. Ia tidak menampik hal tersebut, tetapi menegaskan bahwa penerapan gaya bermainnya membutuhkan waktu, kesabaran, serta dukungan finansial yang memadai.

Masalahnya, laporan yang sama menyebutkan bahwa Manchester United kecil kemungkinan mendatangkan pemain baru pada bursa transfer Januari. Situasi ini diyakini memperbesar frustrasi Amorim, karena opsi yang dimilikinya semakin terbatas di tengah padatnya jadwal dan tuntutan hasil instan.

 


Skuad Terkuras, Opsi Kian Terbatas

Bertandang ke markas Wolverhampton Wanderers pada laga lanjutan Liga Premier Inggris2024/2025, Manchester United takluk 0-2. (HENRY NICHOLLS/AFP)

Kondisi tim Manchester United memang jauh dari ideal. Sejumlah pemain kunci absen karena berbagai alasan. Bryan Mbeumo dan Amad Diallo harus meninggalkan klub sementara untuk membela negara masing-masing di Piala Afrika.

Di lini tengah, Kobbie Mainoo dan Bruno Fernandes sempat mengalami cedera, mengganggu keseimbangan permainan tim. Sementara di sektor belakang, Harry Maguire dan Matthijs de Ligt juga melewatkan cukup banyak pertandingan musim ini.

Situasi tersebut membuat Amorim sulit melakukan rotasi maupun penyesuaian besar. Dalam kondisi seperti ini, ekspektasi agar ia mengubah sistem permainan secara drastis dinilai sebagian pihak sebagai tuntutan yang tidak sepenuhnya adil.

 


Sistem Tiga Bek dan Kritik Taktis

Pelatih kepala Manchester United asal Portugal, Ruben Amorim (kanan), berbicara dengan bek Manchester United asal Portugal bernomor punggung 02, Diogo Dalot (kiri), selama pertandingan Liga Inggris antara Manchester United dan Bournemouth di Old Trafford, Manchester, barat laut Inggris, Sabtu (27-12-2025) dini hari WIB. (PETER POWELL/AFP)

Ruben Amorim dikenal luas berkat keberhasilannya bersama Sporting Lisbon dengan sistem tiga bek. Formasi tersebut pula yang ia coba terapkan di Manchester United. Secara konsep, penggunaan tiga bek bukanlah masalah utama.

Namun, kritik muncul karena penerapannya dinilai belum maksimal. Amorim dianggap bisa berbuat lebih banyak, misalnya dengan membangun pressing yang lebih agresif dan rapat, agar tim tidak terlalu mudah ditekan lawan.

Keputusan menempatkan Bruno Fernandes lebih dalam di lini tengah juga menuai tanda tanya. Peran tersebut membuat pemain terbaik United itu jauh dari posisi favoritnya sebagai gelandang serang nomor 10, sehingga pengaruhnya dalam menciptakan peluang berkurang.

 


Masa Depan Amorim di Ujung Tanduk?

Manajer Manchester United, Ruben Amorim, memimpin anak asuhnya saat bertandang ke markas Manchester City pada pekan 4 Liga Inggris 2025/2026 di Etihad Stadium, Minggu (14/9/2025) malam WIB. (Oli SCARFF / AFP)

Catatan masa lalu juga membayangi Amorim. Ia membawa Manchester United finis di posisi terburuk mereka dalam sejarah Premier League pada musim 2024/2025. Dengan latar tersebut, tekanan terhadap kursi kepelatihan semakin besar.

Meski Amorim memiliki sejumlah alasan kuat untuk merasa tidak puas terhadap kebijakan klub, ia tetap menjadi sosok yang paling bertanggung jawab atas performa di lapangan. Jika hasil tidak segera membaik, wacana pergantian manajer bukanlah sesuatu yang mustahil.

Kini, Manchester United berada di persimpangan jalan. Ketegangan di internal klub, keterbatasan skuad, serta hasil yang tak kunjung stabil membuat masa depan Ruben Amorim di Old Trafford semakin dipenuhi tanda tanya.

Sumber: TalkSPORT


Persaingan di Liga Inggris 2025/2026

Berita Terkait