Tak Disangka, Richard Keys Tepat Menguliti Akar Masalah MU: Terjebak Masa Lalu

Richard Keys Tepat Menguliti Akar Masalah MU.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 10 Januari 2026, 20:00 WIB
Ilustrasi Manchester United, Old Trafford. (Dok. manutd.com)

Bola.com, Jakarta - Sulit dipercaya, tetapi kali ini Richard Keys tampaknya tepat sasaran dalam menguliti akar persoalan Manchester United.

Kita semua tahu fase yang sedang dijalani MU dalam siklus pasca–Sir Alex Ferguson.

Advertisement

Setelah kembali mencoba pendekatan "berbeda" dengan menunjuk pelatih Eropa yang sedang naik daun, klub kini seolah kembali ke titik lama: suara-suara lama dari para mantan MU di dunia pundit mulai ramai membicarakan soal "DNA klub".

Sepak bola langsung. Winger murni. Formasi empat bek. Narasi itu terasa begitu akrab, bahkan nyaris usang.

Jika siklus ini kembali terulang, katakanlah November 2027, Sky Sports mungkin sudah cukup menurunkan "AI Gary Neville”"yang diprogram dari ratusan perdebatan serupa sebelumnya.


Memutus Semua Ikatan

Mantan manajer Manchester United, Sir Alex Ferguson (tengah), menyaksikan dari tribune menjelang pertandingan leg kedua semifinal Liga Europa antara Manchester United dan Athletic Bilbao di Stadion Old Trafford, Manchester, Inggris barat laut, pada 8 Mei 2025. (Oli SCARFF/AFP)

Ironisnya, pandangan yang paling tajam justru datang dari Doha. Dengan berat hati harus diakui: untuk sekali ini, Richard Keys benar.

"Saran saya, untuk apa pun nilainya, adalah memutus semua ikatan, semua ikatan, dengan siapa pun dan apa pun yang terkait dengan Alex Ferguson. Saya serius," ujar Keys membuka pandangannya.

"Kenapa? Karena mereka hidup…"

Anda tidak bisa menghancurkan sejarah, Richard," sela Andy Gray dengan nada tak percaya.

"Bukan menghancurkan. Tapi, memang itu sejarah," balas Keys tajam.

"Mereka hidup di masa lalu. Liverpool pada akhirnya harus melepaskan diri dari budaya boot room. Graeme Souness mencoba melakukannya. Saat itu saya menganggap dia salah. Ternyata saya yang keliru."

“Lalu Jurgen Klopp datang dan berkata: ‘Cukup dengan semua omong kosong itu. Sekarang kita mulai lagi. Kita bangun milik kita sendiri…’”

"Ya, Anda bisa melakukan itu, tapi Anda tidak bisa melupakan sejarah. Anda tidak bisa melupakan apa yang dilakukan Manchester United di bawah Alex Ferguson," Gray kembali menimpali.

"Anda salah paham. Saya tidak bilang sejarah itu harus dilupakan atau tidak dihormati. Tapi, semua orang dan segala sesuatu yang masih terikat dengan era itu sekarang, sudah saatnya move on," jawab Keys.

"Saya bahkan sudah mengirim pesan ke Darren hari ini, mendoakan yang terbaik untuknya. Dia pria yang sangat baik. Semoga sukses. Tapi, kita masih saja begini… Ole datang lagi. Ayo, dong."


Sulit Diabaikan

Manajer interim Manchester United, Darren Fletcher, meninggalkan lapangan seusai pertandingan Liga Inggris melawan Burnley di Turf Moor, Inggris, Kamis (8/1/2026). (AP Photo/Ian Hodgson)

Penyebutan bahwa ia memiliki nomor Darren Fletcher dan telah mengiriminya pesan jelang laga Burnley di bawah pelatih caretaker terasa seperti sentuhan khas Keys, nama harus disebut, pengakuan harus ada.

Namun, di balik gaya bicara yang kerap terkesan arogan, ada kebenaran yang sulit diabaikan.

Aneh rasanya mengakui hal itu, tetapi Keys memang tepat., dan lebih aneh lagi, ia menyampaikan pandangan tersebut dengan nada yang justru lebih terukur dibanding beberapa sejawatnya.

Richard Keys? Bicara soal taktik? Ini orang yang sehari sebelumnya memicu badai di media sosial karena membuat penghormatan untuk legenda sepak bola Wales, Terry Yorath, justru berujung cerita tentang dirinya sendiri, mengklaim perannya dalam karier sang putri, Gabby Logan.

Sebuah momen yang jelas-jelas gagal membaca suasana.

Malam berikutnya, Roy Keane muncul di Sky Sports dengan pernyataan tak kalah pedas: "Sir Alex Ferguson masih berkeliaran seperti bau tak sedap."

Pedas, tapi lagi-lagi sulit dibantah. Bisa jadi itu benar dengan alasan yang keliru, mengingat relasi personal Keane dengan Ferguson memang tak pernah sepenuhnya hangat.

Namun, tetap saja, itu sesuatu yang tak akan berani diucapkan oleh barisan mantan murid Ferguson yang kini mendominasi ruang media.

Terkadang, kebenaran yang tidak nyaman memang membutuhkan suara tanpa filter seperti Richard Keys agar terdengar.

Barusan kita benar-benar mengatakan itu, ya?

 

Sumber: Planet Football

Berita Terkait