Bola.com, Jakarta - Para penggemar Manchester United punya lagu untuk Michael Carrick, satu di antara liriknya berbunyi: "hard to believe it's not Scholes". Lirik itu seakan menangkap esensi sosoknya, tenang, rendah hati, tetapi penting.
Di dunia sepak bola modern yang sarat media, Carrick termasuk individu yang jarang menonjolkan diri. Sebagai pemain, ia tidak mengejar publisitas, bahkan bagi sebagian orang, itu justru merugikannya.
Saat menukangi Middlesbrough, ia juga jarang menjadi headline media, tetap profesional dan fokus pada pekerjaannya.
Kini, setelah meninggalkan Boro, Carrick kembali di ambang panggung besar. Ia diperkirakan akan memimpin derbi Manchester melawan Manchester City pada Sabtu mendatang.
Pertanyaannya: apa yang membuat Carrick begitu menarik bagi MU, dan bisakah ia menata kembali kekacauan di Old Trafford.
Pahlawan Diam-Diam di Old Trafford
Carrick bukan sosok asing di MU. Ironisnya, bersama Darren Fletcher, ia sempat tampil dalam laga legenda melawan Celtic pada September lalu.
Pada November, Carrick juga hadir di Old Trafford untuk mendukung kegiatan tahunan Manchester United Foundation, mengumpulkan lebih dari 30.000 paun bagi proyek komunitas.
Namun, yang paling diingat adalah 464 penampilan Carrick selama 12 tahun membela Setan Merah. Ia meraih lima gelar Premier League, satu FA Cup, tiga League Cup, Liga Champions, Liga Europa, dan Piala Dunia Antar Klub.
Menariknya, ia tak pernah meraih Premier League Player of the Month, dan hanya masuk the Team of the Year 2013. Ia mengantongi 34 caps bersama Inggris, termasuk masuk skuad Piala Dunia 2006 dan 2010, tetapi hanya bermain di satu laga.
Jika ditanya soal kurang dihargai, Carrick hanya tersenyum, "Itu sepak bola."
Awal Gemilang
Sebagai pelatih, Carrick tetap sama: santun, ramah, tidak mencari sensasi. Satu momen yang tetap diingat penggemar adalah selebrasi energiknya setelah kemenangan 3-1 atas Sheffield United pada Februari 2023, sangat berbeda dari karakter tenangnya sehari-hari.
Carrick dikenal hemat kata, bijak, dan disukai semua orang di Middlesbrough. Ketika tiba di Teesside pada Oktober 2022, ia menghidupkan kembali klub yang nyaris terdegradasi, mengusung sepak bola atraktif dan berbasis penguasaan bola.
Setelah kalah di laga pertamanya kontra Preston, Boro menang 16 dari 22 pertandingan berikutnya, menerapkan formasi yang fleksibel, termasuk tiga bek di lini belakang, dan mencetak tiga gol atau lebih dalam 11 laga.
Pada pertandingan melawan Preston di Riverside pada 18 Maret, Boro hanya tertinggal tiga poin dari promosi otomatis. Chuba Akpom menapaki 29 gol, dan peluang kembali ke Premier League setelah enam tahun absen terbuka lebar.
Namun, performa Boro menurun di momen krusial. Dari delapan laga terakhir, mereka hanya menang dua kali, gagal promosi otomatis dengan selisih 16 poin, dan kalah dari Coventry di semifinal play-off yang menghasilkan satu gol dalam dua laga.
Akhir Pahit di Middlesbrough
Dua musim berikutnya di Boro juga tidak sepenuhnya memuaskan: musim pertama gagal bangkit setelah awal buruk, musim kedua inkonsisten dengan lima kekalahan beruntun pada Januari-Februari.
Satu catatan positif: mereka mencapai semifinal Carabao Cup 2023/24 sebelum dikalahkan Chelsea.
Carrick juga bisa menunjuk faktor eksternal seperti penjualan Akpom ke Ajax pada 2023, lima pemain pinjaman utama yang tak kembali, dan kepergian Morgan Rogers senilai 15 juta paun ke Aston Villa pada Februari 2024.
Namun, penggemar menilai Carrick terlalu terpaku pada formasi 4-2-3-1 tanpa "Plan B" yang jelas, sebuah kritik yang familier.
Carrick menanggapinya tegas: "Saya tidak akan mengubah gaya bermain, ini yang saya tahu dan percayai. Kita tidak akan menjadi pelatih baik jika tiba-tiba beralih ke jalan yang sama sekali berbeda."
Namun, ia fleksibel secara taktik. Pada Oktober lalu, di Match of the Day 2, ia menjelaskan kemenangan United atas Brighton: bagaimana para penyerang maju mundur, Luke Shaw mendorong ke depan, dan ruang yang harus ditutup Casemiro serta Bruno Fernandes.
"Akhirnya, ini soal angka dan ruang," katanya.
"Anda bisa melihat sesuatu sedang dibangun melalui koneksi itu," katanya lagi.
Kebangkitan “Back to the Future” MU?
Carrick bukan pendatang baru sebagai manajer MU. Ia pernah menggantikan Ole Gunnar Solskjaer pada November 2021, sebelum digantikan Ralf Rangnick, dengan catatan tiga laga: dua kemenangan dan satu imbang. Satu di antaranya kemenangan dramatis 3-2 atas Arsenal.
Kini, ia mendapatkan dukungan penuh dari tribune, setidaknya dalam sejarah 13 tahun terakhir sejak era Sir Alex Ferguson, di mana kemarahan fans lebih ditujukan kepada kepemilikan klub daripada pelatih di bangku cadangan.
Darren Fletcher sempat menyatakan target musim ini: lolos ke Liga Champions. Jika Carrick berhasil, ia bisa menuntut posisi permanen. Jika tidak, apakah lubang finansial klub memungkinkan mendatangkan nama besar di musim panas?
Pertanyaan-pertanyaan itu akan dijawab beberapa minggu ke depan. Yang pasti, proyek Ruben Amorim kini ditinggalkan.
Carrick diperkirakan akan diberi rencana yang ada, untuk mencoba membangun desain alternatif, dan membuktikan apakah ia mampu menata kembali Old Trafford di bawah tekanan yang konstan.
Sumber: BBC