Bola.com, Jakarta - Ole Gunnar Solskjaer menyimpan kenangan pahit tentang akhir kiprahnya sebagai manajer Manchester United.
Pemecatan legenda Setan Merah itu terjadi dalam sebuah pertemuan singkat yang hanya berlangsung sekitar lima menit, momen yang sekaligus menutup peluangnya untuk kembali menukangi klub dalam waktu dekat.
Kisah tersebut bermula pada November 2021, saat MU mengawali musim 2021/2022 dengan performa yang jauh dari harapan. Rangkaian hasil buruk mencapai titik nadir ketika Setan Merah dihajar Watford 1-4. Kekalahan telak itu menjadi pukulan penentu bagi Solskjaer.
Bahkan sebelum laga berakhir, pelatih asal Norwegia tersebut sudah menyadari nasibnya. Ia mengaku tahu bahwa pemecatan tinggal menunggu waktu, bahkan ketika MU masih tertinggal 0-2 di babak pertama.
Meski demikian, keputusan resmi baru disampaikan keesokan harinya. Solskjaer dipanggil ke kantor Ed Woodward, yang saat itu menjabat wakil ketua eksekutif klub. Pertemuan itu berlangsung sangat singkat, sekitar lima menit, dan berakhir dengan pemecatan sang manajer.
Cerita Solskjaer
Mengenang momen tersebut, Solskjaer bercerita dalam "Stick to Football Podcast".
"Di jeda babak pertama melawan Watford saya sudah tahu, ini sudah selesai. Jadi, pembicaraan tim saat itu adalah soal, 'Siapa pun yang ingin bermain, silakan main. Angkat tangan jika tidak ingin bermain,'" ujar Solskjaer.
Ia melakukan beberapa pergantian pemain, dan suasana di ruang ganti disebutnya sangat emosional.
"Beberapa pemain bahkan menangis, dan mereka mencoba memberikan segalanya," lanjutnya.
Setelah pertandingan, Solskjaer tidak langsung menerima kabar resmi, tetapi keyakinannya tak berubah.
"Setelah laga saya tahu, meski belum ada yang mengatakan apa pun. Pagi berikutnya saya mendapat pesan: 'Saya ingin bertemu dengan Anda di kantor saya.' Saat itu saya tahu," tuturnya.
Tak Kaget
Solskjaer bahkan sempat mengantar istrinya ke bandara sebelum akhirnya menerima pesan tersebut.
"Saya baru saja meninggalkan istri saya di bandara, lalu mengiriminya pesan: 'Sepertinya saya akan kembali bersamamu.'"
Pertemuan dengan Woodward berjalan singkat.
"Saya berbicara sekitar lima menit dengan Ed, lalu tetap tinggal untuk berbicara dengan beberapa pemain dan melakukan wawancara karena saya ingin melakukannya dengan benar," kata Solskjaer.
"Saya selalu melihat manajer pergi lalu dua bulan kemudian menjelekkan seseorang, itu bukan saya. Saya memilih melakukannya sekarang, mengatakan kepada semua orang bahwa saya bangga dan merasa terhormat, lalu melanjutkan hidup."
Masuk Bursa Manajer Interim
Solskjaer ditunjuk sebagai manajer interim MU pada Desember 2018 sebelum diangkat menjadi pelatih permanen tiga bulan kemudian.
Dalam sepekan terakhir, namanya kembali mencuat sebagai kandidat manajer interim MU, menyusul pemecatan Ruben Amorim pada 6 Januari.
Setelah sempat menjalani masa kepelatihan selama tujuh bulan di Besiktas tahun lalu, pelatih berusia 52 tahun itu termasuk satu di antara kandidat yang bertemu dengan Direktur Sepak Bola United, Jason Wilcox.
Pertemuan tersebut dilakukan dalam proses pencarian sosok pengganti Amorim hingga akhir musim.
Namun, Solskjaer bukan satu-satunya legenda klub yang mengajukan diri. Michael Carrick juga ikut mempresentasikan rencananya.
Pada akhirnya, Carrick dinilai paling meyakinkan berkat visi dan rencana yang ia sampaikan sehingga memenangkan persaingan tersebut.
Carrick yang Terpilih
MU telah mencapai kesepakatan prinsip dengan Carrick untuk menjadi manajer interim hingga akhir musim. Semua pihak kini sedang merampungkan detail kontrak, yang diperkirakan berlaku hingga akhir Juni.
Pengumuman resmi kedatangan Carrick berpeluang dilakukan pada Selasa hari ini. Jika tak ada kendala, laga pertamanya sebagai pelatih MU kemungkinan adalah derbi Manchester pada Sabtu mendatang.
Carrick dan stafnya dijadwalkan memimpin sesi latihan perdana pada Rabu waktu setempat, sementara para pemain mendapat libur pada Selasa hari ini.
Saat ini, MU berada di posisi ketujuh klasemen Premier League dan telah tersingkir dari seluruh ajang piala musim ini, sebuah situasi yang menandai periode transisi besar di Old Trafford.
Sumber: Mirror