Kasih Perbandingan dengan NBA, Davide Brivio: MotoGP Juga Harus Bisa Menghibur, Bukan Sekadar Balapan

Masa depan MotoGP tidak bisa hanya bertumpu pada kualitas balapan di lintasan.

BolaCom | Gregah NurikhsaniDiterbitkan 13 Januari 2026, 22:15 WIB
Massimo Rivola (kiri) bersama Davide Brivio dari Trackhouse. (Speedweek)

Bola.com, Jakarta - Masa depan MotoGP tidak bisa hanya bertumpu pada kualitas balapan di lintasan. Pandangan itu ditegaskan Davide Brivio, sosok berpengalaman yang kini menjabat sebagai prinsipal tim Trackhouse, ketika membahas arah perkembangan MotoGP dalam jangka panjang.

Nama Brivio bukan figur sembarangan di dunia balap. Pria asal Italia itu pernah berada di balik kesuksesan Valentino Rossi meraih gelar dunia bersama Yamaha, kemudian membawa Joan Mir menjadi juara dunia MotoGP 2020 bersama Suzuki. Setelah sempat menimba pengalaman di Formula 1, Brivio kembali ke dunia roda dua lewat Trackhouse pada 2024.

Advertisement

Isu mengenai arah baru MotoGP kian menguat sejak Liberty Media resmi mengakuisisi saham mayoritas pemegang hak komersial MotoGP, Dorna Sports, pada Juni tahun lalu. Meski demikian, Brivio menegaskan bahwa sejauh ini belum ada perubahan signifikan di level operasional.

“Kami tahu Liberty kini menjadi pemegang saham terbesar Dorna. Namun pada praktiknya, kami masih bekerja dengan struktur yang sama, dengan Dorna, dengan Carmelo Ezpeleta, dengan Carlos Ezpeleta, dengan orang-orang yang sama,” tutur Brivio.

 


MotoGP Harus Menjangkau Audiens Lebih Luas

Pecco Bagnaia merayakan sukses di MotoGP Belanda di Sirkuit Assen bersama fans. (Marco BERTORELLO / AFP)

Di balik kelangsungan struktur yang relatif stabil, Liberty dan Dorna diyakini menyimpan ambisi besar. Carlos Ezpeleta sebelumnya menegaskan bahwa MotoGP ingin keluar dari kesan terlalu Eropa-sentris, memperkuat profil pembalap di luar lintasan, serta menarik sponsor non-motorsport dengan membawa MotoGP ke ruang-ruang yang tak terduga, mulai dari dunia fesyen dan musik hingga bandara dan pusat perbelanjaan.

Brivio menilai langkah tersebut sejalan dengan kebutuhan MotoGP saat ini. Menurutnya, kualitas olahraga MotoGP sebenarnya sudah berada di level yang baik.

“Sisi olahraga menurut saya sudah bagus. Selalu bisa ditingkatkan, tetapi pada dasarnya sudah sangat baik,” ujarnya.

“Tantangan yang perlu diperbaiki adalah bagaimana menjangkau audiens yang lebih besar, menembus negara-negara baru yang potensial untuk MotoGP, meningkatkan keterlibatan penggemar, dan menarik lebih banyak publik,” lanjut Brivio.

Ia menyadari, pandangan ini mungkin tidak sepenuhnya disukai oleh para penggemar garis keras. Namun menurutnya, realitas olahraga modern menuntut perubahan perspektif.

“Mungkin para pencinta olahraga murni tidak suka mendengar ini, tetapi di era modern, olahraga juga adalah hiburan,” tegasnya.

 


Tanpa Menghilangkan DNA Balap

Fans Marc Marquez di Indonesia diundang untuk nonton bareng film dokumenter pembalap Repsol Honda itu. Mereka juga beri dukungan agar Marquez kembali jadi juara (istimewa)

Brivio menekankan bahwa memperluas aspek hiburan bukan berarti mengorbankan esensi balapan MotoGP. Justru, langkah tersebut diperlukan agar MotoGP bisa dinikmati oleh kalangan yang lebih luas.

“Balapan MotoGP bagi kami yang sangat mencintai balap motor sudah sangat menarik. Anda bisa menonton dan menikmati olahraganya,” ucapnya.

“Namun kami juga harus membuka pintu untuk orang-orang yang mungkin tidak tergila-gila dengan MotoGP, tetapi tetap ingin datang menonton, mengunjungi paddock, dan menikmati atmosfernya.”

Untuk menggambarkan hal tersebut, Brivio membandingkan MotoGP dengan sepak bola dan NBA.

“Begitulah arah olahraga sekarang. Ketika Anda menonton Liga Champions, Anda datang bukan hanya untuk memahami taktik, tetapi juga untuk menikmati atmosfer stadion, sorakan suporter, bahkan menonton dari lounge,” jelasnya.

“Begitu juga NBA. Banyak keluarga datang, makan dan minum, menonton pertandingan, lalu pulang dengan perasaan senang. Itulah olahraga saat ini, ia juga hiburan.”

 


Kunci Keberlanjutan MotoGP

Fans Valentino Rossi di MotoGP Italia di Sirkuit Mugello, Minggu (3/6/2018). Lorenzo finis dengan catatan waktu 41 menit 43,230 detik. (AP/Antonio Calanni)

Menurut Brivio, membangun sisi hiburan MotoGP tidak akan mengurangi nilai teknis balapan. Penggemar fanatik tetap bisa menikmati detail soal ban, bahan bakar, dan mesin, sementara penonton baru bisa tertarik oleh pengalaman menyeluruh yang ditawarkan MotoGP.

“Jika Anda benar-benar paham motor dan teknisnya, Anda tetap bisa menikmati MotoGP. Tetapi akan ada jauh lebih banyak orang, keluarga atau teman dari penggemar MotoGP, yang mungkin lebih menyukai sepak bola, tetapi tetap berkata, ‘Oke, saya mau coba menonton MotoGP juga’,” katanya.

Ia menyebut Dorna dalam setahun terakhir mulai memberi perhatian lebih pada aspek hiburan, bukan hanya balapan semata.

“Karena inilah cara MotoGP bisa bertahan. Inilah cara kami bisa membenarkan perjalanan keliling dunia untuk balapan. Inilah cara MotoGP menjadi berkelanjutan secara ekonomi,” ujar Brivio.

Pandangan Brivio sejalan dengan pernyataan CEO Ducati, Claudio Domenicali, yang juga melihat MotoGP sebagai industri hiburan.

“Kami tidak melihat diri kami hanya sebagai produsen motor, tetapi sebagai perusahaan hiburan,” kata Domenicali.

Menurutnya, potensi pertumbuhan MotoGP masih sangat besar, terutama jika mencontoh keberhasilan Formula 1 memperluas basis penggemar, khususnya di Amerika Serikat.

“Jika semua tim MotoGP bisa bekerja bersama untuk menciptakan basis penggemar yang lebih besar, potensinya luar biasa,” pungkas Domenicali.