Deretan Pemain yang Jadi Korban Rasialisme pada Putaran Pertama BRI Super League: Dari Yakob Sayuri hingga Thom Haye

Berikut deretan pemain yang tercatat menjadi korban rasialisme dan perundungan sepanjang paruh musim BRI Super League 2025/2026.

BolaCom | Ana DewiDiterbitkan 15 Januari 2026, 07:30 WIB
Ekspresi pemain Malut United, Yakob Sayuri, saat laga melawan Bhayangkara Presisi Lampung FC pada lanjutan BRI Super League 2025/2025, di Stadion Sumpah Pemuda, Kamis (25/9/2025). (Malut United)

Bola.com, Jakarta - Putaran pertama BRI Super League 2025/2026 rampung digelar. Kompetisi kasta tertinggi Liga Indonesia itu tak hanya diwarnai persaingan ketat di atas lapangan, tetapi juga menyisakan catatan kelam di luar pertandingan.

Sejumlah pemain menjadi korban tindakan rasisme dan perundungan. Fenomena ini kembali menegaskan diskriminasi dan ujaran kebencian masih menjadi pekerjaan rumah bagi sepak bola nasional.

Advertisement

Kata-kata cacian hingga berbau rasisme memenuhi kolom komentar akun media sosial beberapa pesepak bola yang berkiprah di strata teratas. Tindakan oknum suporter itu tentu mencoreng semangat memerangi rasial yang digaungkan FIFA.

Berikut deretan pemain yang tercatat menjadi korban rasialisme dan perundungan sepanjang paruh musim BRI Super League 2025/2026. Siapa saja?

 

 


Yakob Sayuri

Yakob Sayuri jadi penentu kemenangan Malut United FC atas Persik 2-1 di Stadion Gelora Kie Raha Ternate, Sabtu (25/1/2025). (Bola.com/Gatot Sumitro)

Dua pemain Malut United, Yakob dan Yance Sayuri, menjadi pesepak bola yang paling sering menerima perlakuan tidak menyenangkan dari oknum suporter. Mereka mendapat hinaan bernuansa fisik seperti monyet, keriting, hitam, hingga penghuni hutan.

Satu di antara aksi tak sportif tersebut terjadi selepas Malut United menahan 0-0 tuan rumah Persita Tangerang pada 23 November 2025. Ketika itu, Yakob mengalami pelecehan verbal di lorong ganti pemain.

Ejekan serupa kembali dialami Sayuri Bersaudara ketika menghadapi Persib Bandung (14/12/2025). Lebih parahnya lagi, keluarga dan anak-anak mereka ikut mendapat perlakuan rasisme dari oknum suporter di media sosial.

 


Victor Luiz

Bek kiri PSM Makassar, Victor Luiz. (Bola.com/Gatot Sumitro)

Bek PSM Makassar, Victor Luiz, juga turut menjadi korban rasisme selepas bentrok kontra Tim Maung Bandung di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (27/12/2025). Insiden tersebut diduga buntut duel dengan pemain Persib, Eliano Reijnders.

Saat itu, Victor Luiz dilanggar cukup keras oleh adik gelandang Mancherter City, Tijjani Reijnders tersebut. Keduanya pun sempat bersitegang dan terlibat adu kepala sebelum akhirnya dilerai asisten wasit.

Selepas laga, kolom komentar Instagram Luiz dibanjiri ujaran kebencian dan hinaan rasialisme, termasuk sebutan “black monkey”. Serangan itu memicu kecaman luas dan kembali membuka diskusi soal perlindungan pemain dari tindakan diskriminatif.


Thom Haye

Thom Haye, gelandang Persib Bandung, merayakan gol ke gawang Madura United pada pekan ke-14 BRI Super League 2025/2026. (Dok. ileague.id)

Gelandang Persib, Thom Haye, mengalami pengalaman yang lebih mengkhawatirkan. Setelah partai panas versus Persija Jakarta (11/1/2026), pemain Timnas Indonesia itu menerima pesan yang mengarah pada ancaman terhadap keluarganya.

Ancaman itu muncul seusai timnya menang 1-0 kontra Persija. Kasus ini mendapat sorotan luas karena menyangkut keselamatan pemain, sekaligus menunjukkan betapa seriusnya dampak ujaran kebencian di luar lapangan.

"Saya ingin dengan hormat meminta orang-orang yang mengirimkan ancaman kematian dan pesan-pesan mengerikan kepada keluarga saya untuk berhenti. Sepak bola seharusnya tidak pernah sampai sejauh itu," ujar Haye.

 


Allano Lima

Pemain Persib Bandung, Beckham Putra (kanan) berebut bola dengan pemain Persija Jakarta, Allano De Souza Lima dalam laga lanjutan BRI Super League 2025/2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Bandung, Minggu (11/01/2026). (Bola.com/Abdul Aziz)

Pemain sayap Persija, Allano Lima, tidak luput dari perundungan. Ia menjadi korban hujatan dan bullying yang mengarah pada pelecehan rasisme di media sosial setelah kekalahan dari Persib pada 11 Januari 2026.

"Persija sangat kecewa karena tindakan memalukan seperti ini masih terus berulang. Rasisme bukan sekadar candaan, bukan pula untuk dijadikan ekspresi emosi sesaat. Rasisme adalah kekerasan verbal yang melukai martabat seseorang," tulis Persija.

"Sepak bola seharusnya menjadi arena persaingan sportif dalam atmosfer yang aman dan saling menghargai. Ketika rasisme dibiarkan, yang rusak bukan hanya individu, tetapi juga wajah sepak bola nasional," lanjut Persija.


Simak Persaingan Musim Ini:

Berita Terkait