Bola.com, Jakarta - Real Madrid mengawali era baru dengan hasil yang jauh dari kata ideal. Kekalahan dramatis 2-3 dari Albacete memastikan langkah Los Blancos terhenti di babak 16 besar Copa del Rey, sekaligus menutup debut Álvaro Arbeloa sebagai pelatih interim dengan kekecewaan mendalam.
Hasil ini terasa semakin menyakitkan karena datang dari lawan yang berada di kasta lebih rendah. Bagi klub sekelas Real Madrid, tersingkir dari kompetisi piala oleh tim Divisi Dua selalu memicu sorotan tajam, baik dari publik maupun internal klub.
Namun, di tengah tekanan besar dan kritik yang mengiringi kegagalan tersebut, Arbeloa memilih berdiri di garis depan. Mantan bek kanan Madrid itu tidak mencari kambing hitam, melainkan menjadikan kekalahan ini sebagai bagian dari proses yang harus dilalui.
Bagi Arbeloa, kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Ia justru melihatnya sebagai pijakan awal untuk membangun kembali arah tim, meski sadar betul ekspektasi di Santiago Bernabeu tidak pernah memberi ruang untuk kesalahan.
Kekalahan yang Menyakitkan, Tapi Bukan Akhir Jalan
Arbeloa mengakui hasil melawan Albacete terasa sangat berat, terutama mengingat standar tinggi yang selalu melekat pada Real Madrid. Ia memahami sepenuhnya jika banyak pihak menilai laga ini sebagai sebuah kegagalan.
“Saya tidak takut gagal. Saya mengerti mereka yang ingin menyebut kekalahan ini sebagai kegagalan. Kegagalan adalah bagian dari jalan menuju kesuksesan. Bagi saya, keduanya bukan arah yang berlawanan. Ini akan membuat saya menjadi lebih baik,” ujar Arbeloa.
Ia menegaskan bahwa timnya masih memiliki ruang perbaikan yang sangat besar. Meski begitu, semangatnya tidak surut sedikit pun untuk segera kembali bekerja bersama para pemain.
“Kami punya banyak hal yang harus ditingkatkan. Saya tidak takut gagal. Saya sudah sering gagal dalam hidup saya. Saya pernah mengalami eliminasi piala yang jauh lebih menyakitkan dari ini, dan saya sangat ingin kembali ke Valdebebas besok untuk bekerja dengan para pemain,” tuturnya.
Tanggung Jawab Penuh Ada di Pundaknya
Dalam pandangan Arbeloa, kekalahan seperti ini memang sulit diterima di klub sebesar Real Madrid. Ia menyebut bahwa bahkan hasil imbang saja kerap dianggap sebagai tragedi, apalagi kekalahan dari lawan yang secara level berada di bawah.
“Di klub ini, hasil imbang saja sudah dianggap buruk, sebuah tragedi, jadi bayangkan kekalahan seperti ini. Terutama ketika kalah dari lawan yang peringkatnya lebih rendah,” kata Arbeloa.
Ia pun dengan tegas mengambil alih tanggung jawab penuh atas hasil tersebut.
“Jika ada yang harus bertanggung jawab, itu adalah saya. Saya yang mengambil keputusan soal susunan pemain, cara bermain, dan pergantian pemain,” ucapnya.
Meski demikian, Arbeloa tetap menyampaikan apresiasi kepada para pemain atas sikap profesional yang mereka tunjukkan sejak hari pertamanya memimpin tim.
“Saya hanya bisa berterima kasih kepada para pemain atas sambutan yang mereka berikan dan atas usaha mereka untuk kembali siap secara fisik dan mental,” lanjutnya.
Bukan Pemain, Arbeloa yang Menanggung Beban
Arbeloa menepis anggapan bahwa kegagalan ini disebabkan oleh kesalahan para pemain. Menurutnya, keputusan teknis sepenuhnya berada di tangannya, termasuk komposisi skuad dan rencana permainan.
“Saya yakin pemilihan skuad sudah tepat. Tim utama dan bangku cadangan yang saya turunkan adalah tim yang bagus. Saya memiliki skuad yang sangat bertalenta,” ujarnya.
Ia juga menyadari bahwa tidak mudah bagi para pemain untuk langsung mengeksekusi semua instruksinya pada hari pertama bekerja dengan pelatih baru.
“Tidak mudah bagi mereka untuk melakukan semua yang saya minta di hari pertama bersama pelatih baru, dan saya merasa bertanggung jawab sepenuhnya,” kata Arbeloa.
Fokus utamanya kini adalah membawa tim kembali ke jalur yang benar, terutama dari sisi kebugaran.
“Kami punya banyak pemain yang harus kembali ke kondisi fisik puncak. Kami harus bekerja keras dan mempersiapkan diri untuk pertandingan hari Sabtu,” tuturnya.
Sikap Pemain Jadi Modal Utama
Di balik kekecewaan hasil, Arbeloa menemukan satu hal positif yang ingin ia pegang erat, sikap para pemain. Ia menilai para pemain menunjukkan keinginan kuat untuk menang dan memperjuangkan lambang klub.
“Saya melihat pemain-pemain yang ingin menang. Saya tidak bisa menyalahkan mereka atas apa pun. Cara mereka menyambut saya kemarin, sikap yang mereka tunjukkan,” ucapnya.
Ia menutup dengan refleksi tentang beratnya menjadi bagian dari Real Madrid, klub dengan tuntutan tanpa kompromi.
“Kami semua tahu betapa menuntutnya lambang ini. Kami semua Madridista. Kami semua pergi tidur dengan perasaan sakit. Besok kami harus bangun dan kembali bekerja,” pungkas Arbeloa.