Bola.com, Jakarta - Pemerintah Donald Trump menerapkan larangan perjalanan terbaru. Kebijakan baru Amerika Serikat tersebut bisa berpengaruh lagi ke perhelatan Piala Dunia 2026.
Harapan para suporter dari dua negara besar sepak bola Afrika, Senegal dan Pantai Gading, untuk mendukung langsung timnas mereka di Piala Dunia 2026 terancam buyar.
Kedua negara tersebut pada Desember 2025 masuk dalam daftar negara yang dikenai pembatasan masuk sebagian ke AS, yang menjadi salah satu tuan rumah turnamen bersama Kanada dan Meksiko pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026.
Kebijakan ini menimbulkan kekecewaan besar di kalangan penggemar yang saat ini tengah mengikuti perjuangan tim mereka di Piala Afrika di Maroko. Bagi suporter yang belum memiliki visa, aturan baru tersebut praktis menutup peluang untuk bepergian ke Amerika Serikat demi menyaksikan langsung Piala Dunia.
“Saya tidak mengerti mengapa presiden Amerika Serikat ingin tim dari negara tertentu tidak bisa ambil bagian. Jika memang begitu, seharusnya mereka tidak setuju menjadi tuan rumah Piala Dunia,” ujar pendukung Senegal, Djibril Gueye, kepada The Associated Press di Tangier, Maroko, seperti dikutip dari Guardian, Kamis (15/1/2026).
“Sudah menjadi tanggung jawab Amerika Serikat untuk menyediakan kondisi, sarana, dan sumber daya agar negara-negara yang lolos bisa didukung oleh para suporternya,” tambahnya.
Berharap Trump Berubah Pikiran
Presiden AS Donald Trump menyebut adanya kelemahan dalam proses penyaringan dan verifikasi sebagai alasan utama pembatasan visa tersebut. Selain Senegal dan Pantai Gading, suporter dari Iran dan Haiti, dua negara lain yang juga telah lolos ke Piala Dunia, juga dilarang masuk ke AS.
Keduanya termasuk dalam gelombang awal larangan perjalanan yang diumumkan pemerintahan Trump.
Meski aturan ini memberikan pengecualian bagi pemain, ofisial tim, dan keluarga inti yang bepergian untuk Piala Dunia, tidak ada kelonggaran bagi para suporter.
“Kami sangat ingin ikut serta, tapi sekarang kami tidak tahu bagaimana caranya,” kata Fatou Diedhiou, presiden komunitas suporter perempuan Senegal.
“Untuk saat ini kami hanya menunggu. Piala Dunia masih lama, mungkin saja mereka berubah pikiran. Kami hanya bisa menunggu dan melihat.”
Sheikh Sy, yang mendukung Senegal langsung di Piala Dunia Qatar, menegaskan tekadnya untuk tetap mencari cara agar bisa hadir di AS.
“Kami selalu bepergian ke mana pun tim kami bermain karena kami adalah suporter nasional Senegal. Jadi sejak Senegal lolos ke Piala Dunia, kami harus datang,” tegasnya.
Optimistis Ada Solusi
Senegal, yang telah mencapai semifinal Piala Afrika, akan memainkan laga perdana Piala Dunia di MetLife Stadium, New Jersey, pada 16 Juni melawan Prancis, sebelum kembali menghadapi Norwegia di stadion yang sama empat hari kemudian.
Laga terakhir fase grup akan digelar di Toronto pada 26 Juni melawan pemenang playoff antara Bolivia, Suriname, dan Irak.
Sementara itu, Pantai Gading juga dijadwalkan memainkan dua pertandingan di Amerika Serikat. Laga pembuka kontra Ekuador di Philadelphia pada 14 Juni, lalu laga terakhir grup di kota yang sama pada 25 Juni melawan Curacao, setelah lebih dulu menghadapi Jerman di Toronto.
Pelatih Pantai Gading, Emerse Fae, optimistis solusi masih bisa ditemukan bagi para suporter. Ia mengingatkan fans Pantai Gading pernah menghadapi masalah serupa saat hendak ke Maroko untuk Piala Afrika akibat aturan visa baru.
“Pada akhirnya semuanya berjalan lancar dan mereka bisa datang asalkan memiliki tiket pertandingan. Saya yakin masalah ini akan terselesaikan sebelum Piala Dunia,” ujar Fae kepada AP di hotel tim di Marrakesh.
“Sepak bola adalah perayaan. Piala Dunia adalah perayaan. Akan sangat disayangkan, terlebih turnamen ini hanya datang setiap empat tahun, jika suporter tidak diizinkan merasakan perayaan tersebut secara langsung,” tambahnya.
Sumber: The Guardian