3 Hal yang Harus Segera Dibenahi Michael Carrick di MU: Stabilkan Lini Pertahanan hingga Kembalikan Kobbie Mainoo

Carrick, yang mencatatkan 464 penampilan bersama Setan Merah, bukan sosok asing di Old Trafford. Ia juga memiliki pengalaman melatih setelah tiga tahun menangani Middlesbrough.

BolaCom | Benediktus Gerendo PradigdoDiterbitkan 16 Januari 2026, 10:00 WIB
Legenda lini tengah Old Trafford itu akan memimpin The Red Devils hingga akhir musim ini. Tampak dalam foto, Michael Carrick saat masih menjadi pelatih sementara Manchester United memberi isyarat di pinggir lapangan selama pertandingan sepak bola Liga Premier Inggris melawan Arsenal di Old Trafford, Manchester, Inggris barat laut, pada 2 Desember 2021. (Oli SCARFF/AFP)

Bola.com, Jakarta - Manchester United (MU) akhirnya mencapai keputusan terkait pengganti sementara Ruben Amorim pada Selasa lalu. Klub menunjuk mantan gelandang mereka, Michael Carrick, sebagai kepala pelatih hingga akhir musim.

Carrick, yang mencatatkan 464 penampilan bersama Setan Merah, bukan sosok asing di Old Trafford. Ia juga memiliki pengalaman melatih setelah tiga tahun menangani Middlesbrough.

Advertisement

Namun, tugas yang kini menantinya di MU jelas berada di level yang jauh lebih tinggi.

Kekecewaan selama satu dekade terakhir menciptakan kombinasi beracun antara apatisme dan kemarahan di kalangan suporter MU.

Meski kritik sering diarahkan kepada hierarki dan kepemilikan klub, Carrick tetap akan merasakan tekanan besar jika hasil di lapangan tak kunjung membaik, meskipun statusnya hanya pelatih interim.

Masalah di MU sangat banyak, tetapi Carrick hanya bisa menangani aspek di atas lapangan. Berikut tiga hal utama yang harus segera ia fokuskan untuk membawa klub kembali ke jalur yang benar.


Menstabilkan Lini Belakang yang Rapuh

Harry Maguire berjalan keluar lapangan setelah laga putaran ketiga Piala FA antara Manchester United vsBrighton di Old Trafford, 11 Januari 2026. (AP Photo/Jon Super)

Prioritas utama Michael Carrick adalah menerapkan sistem empat bek secara permanen. Selama menangani Middlesbrough, ia hampir selalu menggunakan formasi 4-2-3-1 dan jarang menyimpang dari sistem tersebut.

Hal ini mengindikasikan bahwa Carrick kemungkinan besar akan meninggalkan skema 3-4-2-1 peninggalan Amorim.

Kebutuhan akan konsistensi di lini pertahanan United sangat jelas. Musim ini mereka telah kebobolan 32 gol di Premier League, terbanyak dibandingkan tim mana pun di 14 besar klasemen.

Perubahan konstan di lini belakang hanya memperparah masalah, dengan catatan hanya dua clean sheet dari 21 laga, sebuah statistik yang sulit diterima.

Kedatangan kiper Senne Lammens memberi Carrick kepastian di bawah mistar, tetapi keputusan besar tetap harus diambil di sektor empat bek. Luke Shaw diperkirakan aman di posisi bek kiri, dengan Lisandro Martínez sebagai bek tengah kiri.

Matthijs de Ligt berpeluang menjadi pemimpin lini belakang setelah pulih dari cedera, sementara Diogo Dalot dan Noussair Mazraoui akan bersaing di posisi bek kanan.

Apa pun konfigurasi akhirnya, stabilitas menjadi kunci. Terlalu banyak perubahan hanya akan membingungkan pertahanan yang sudah tampil di bawah standar, terlebih ketika hubungan antarpemain sulit terbangun dalam lini belakang yang terus berubah.

Dengan absennya MU di kompetisi Eropa dan sudah tersingkir dari dua kompetisi piala domestik, rotasi di lini belakang sejatinya tidak diperlukan.


Menghidupkan Kembali Gaya Permainan yang Menarik

Michael Carrick saat menjadi pelatih Middlesbrough merayakan kemenangan di akhir pertandingan perempat final Piala Liga Inggris melawan Port Vale di Vale Park, Stoke-on-Trent, Inggris tengah, pada 19 Desember 2023. Manchester United (MU) resmi mengumumkan Michael Carrick sebagai pelatih kepala mengisi posisi Ruben Amorim yang dipecat pada 5 Januari 2026. (Oli SCARFF/AFP)

Permainan MU di sepertiga akhir lapangan kini terasa hambar dan mudah ditebak. Padahal, secara statistik dasar, Setan Merah tampil cukup menjanjikan: mereka berada di peringkat teratas untuk jumlah tembakan tepat sasaran per laga dan kedua untuk expected goals (xG) di Premier League musim ini.

Namun, performa menyerang belakangan ini sangat mengecewakan. MU hanya mampu mencetak lebih dari satu gol dalam satu dari enam laga terakhir, itu pun saat mencetak dua gol melawan Burnley yang berada di posisi ke-19, tetapi tetap gagal meraih kemenangan.

Hasil imbang tanpa daya melawan Leeds United dan Wolverhampton Wanderers menunjukkan masalah serius dalam membongkar pertahanan rendah lawan.

Carrick dikenal dengan filosofi berbasis penguasaan bola saat melatih Middlesbrough, yang dibarengi produktivitas tinggi: 220 gol dalam 136 pertandingan.

Rekam jejak ini menjadi sinyal positif, mengingat ia kini menangani sejumlah penyerang berbakat Premier League.

Sektor sayap bisa menjadi tantangan tersendiri setelah eksodus winger MU pada musim panas lalu. Saat ini, hanya Bryan Mbeumo dan Amad Diallo yang menjadi opsi senior alami. Meski demikian, Carrick harus menemukan solusi atas persoalan ini.

Dalam wawancara yang dilakukan tak lama setelah diumumkan sebagai pelatih interim, Carrick menyatakan ambisinya:

“Mudah-mudahan kami bisa memainkan sepak bola yang benar-benar menarik, bersikap positif, mengekspresikan diri, dan membawa kegembiraan. Saya ingin berdiri dari kursi saya.”


Mengembalikan Kobbie Mainoo ke Performa Terbaik

Gelandang Manchester United asal Inggris bernomor punggung 37, Kobbie Mainoo (C), berduel dengan gelandang Bournemouth asal Inggris bernomor punggung 16, Marcus Tavernier (L), selama pertandingan Liga Inggris antara Manchester United dan Bournemouth di Old Trafford, Manchester, barat laut Inggris, Selasa (16-12-2025) dini hari WIB. (PETER POWELL/AFP)

Situasi Kobbie Mainoo menjadi gangguan yang tidak perlu bagi MU musim ini. Setelah permintaan peminjamannya ditolak pada musim panas lalu, gelandang 20 tahun itu nyaris sepenuhnya diabaikan oleh Amorim pada paruh pertama musim.

Hingga kini, ia belum sekali pun menjadi starter di Premier League musim 2025/2026.

Mainoo menjadi korban sistem Amorim yang menuntutnya bersaing langsung dengan Bruno Fernandes untuk satu tempat di tim, sebuah persaingan yang nyaris mustahil dimenangkan.

Absennya MU dari kompetisi Eropa semakin membatasi menit bermainnya. Namun, kepergian Amorim bisa menjadi titik balik.

Mainoo tampak ideal untuk berduet dengan Casemiro dalam skema double pivot ala Carrick, sementara Fernandes dapat dimainkan lebih maju sebagai gelandang nomor 10.

Carrick sendiri pernah melontarkan pujian tinggi kepada Mainoo, yang mengindikasikan kesiapannya memberi sang gelandang muda kesempatan untuk membuktikan diri kembali.

Memberi Mainoo ruang untuk menemukan kembali ritmenya akan disambut positif oleh para suporter MU, yang frustrasi melihat minimnya menit bermain sang pemain akademi.

Bagi Carrick, ini juga bisa menjadi langkah sederhana namun efektif untuk mendongkrak moral tim.

Sumber: Sports Illustrated

 

Persaingan di Premier League

Berita Terkait