FIFA Diminta Pindahkan Piala Dunia 2026 dari AS ke Inggris Imbas Kontroversi Politik Trump

Muncul desakan agar Piala Dunia 2026 dipindahkan dari Amerika Serikat ke Inggris menyusul kontroversi politik Presiden AS, Donald Trump.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 17 Januari 2026, 19:15 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menyampaikan pernyataan di klub Mar-a-Lago miliknya di Palm Beach, Florida, pada Sabtu (3/1/2026). (Dok. AP/Alex Brandon)

Bola.com, Jakarta - Polemik seputar Piala Dunia 2026 kembali mencuat. Seorang jurnalis ternama menyarankan FIFA untuk mempertimbangkan pemindahan turnamen dari Amerika Serikat ke Inggris, menyusul meningkatnya kontroversi politik yang melibatkan Presiden AS, Donald Trump.

Piala Dunia 2026 sejatinya tinggal 146 hari lagi. Namun, ketidakpastian masih menyelimuti penyelenggaraan turnamen akbar tersebut, terutama terkait kelayakan Amerika Serikat sebagai tuan rumah.

Advertisement

Saat ini, AS dijadwalkan menjadi tuan rumah bersama Kanada dan Meksiko, dengan turnamen berlangsung pada Juni hingga Juli 2026.

Dari total 104 pertandingan, sebanyak 78 laga akan digelar di Amerika Serikat, tersebar di 11 kota tuan rumah: Atlanta, Boston, Dallas, Houston, Kansas City, Los Angeles, Miami, New York/New Jersey, Philadelphia, Seattle, dan San Francisco.

Laga final dijadwalkan berlangsung di MetLife Stadium, New Jersey, pada 19 Juli.

Namun, dalam beberapa waktu terakhir, muncul desakan agar AS dicabut statusnya sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026.

Seruan ini tak lepas dari dinamika politik dalam negeri AS serta kebijakan luar negeri pemerintahan Donald Trump yang dinilai kontroversial dan berpotensi berdampak langsung pada turnamen.


Kebijakan Luar Negeri AS

Gambar ini, yang diposting di akun media sosial Truth milik Presiden AS, Donald Trump, pada 3 Januari 2026, menunjukkan, dari kiri ke kanan, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, Direktur CIA, John Ratcliffe, dan Presiden Donald Trump di Mar-a-Lago di Palm Beach, Florida, sedang menonton siaran langsung misi militer AS untuk menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro pada 3 Januari 2026. (HANDOUT/Akun media sosial TRUTH milik Presiden AS Donald Trump/AFP)

Kebijakan luar negeri Amerika Serikat menjadi satu di antara sorotan utama. Dalam beberapa pekan terakhir, AS tercatat melakukan aksi militer di Venezuela dan Nigeria, serta mengisyaratkan kemungkinan operasi di Greenland, Meksiko, Kolombia, dan Iran.

Situasi tersebut memicu reaksi politik di Inggris. Sebanyak 23 anggota parlemen dari empat partai, yakni Partai Buruh, Liberal Demokrat, Partai Hijau, dan Plaid Cymru, menandatangani sebuah mosi yang mendesak badan olahraga internasional untuk mempertimbangkan pengusiran AS dari ajang olahraga besar, termasuk Piala Dunia, sebagaimana dilaporkan BBC.

Kelompok tersebut menyatakan bahwa ajang olahraga internasional "tidak seharusnya digunakan untuk melegitimasi atau menormalisasi pelanggaran hukum internasional oleh negara-negara kuat".


Makin Panas

Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan konferensi pers di klub Mar-a-Lago miliknya pada Sabtu (3/1/2026), di Palm Beach, Florida, terkait serangan ke Venezuela dan penangkapan Presiden Nicolas Maduro. (Dok. AP/Alex Brandon)

Kontroversi makin panas setelah pada Juni 2025, Donald Trump mengumumkan pembatasan perjalanan dan visa dengan dalih "melindungi warga Amerika dari aktor asing berbahaya".

Tak lama berselang, pemerintah AS mengonfirmasi bahwa warga dari 19 negara tidak lagi diizinkan masuk ke Amerika Serikat atau menghadapi pembatasan ketat. Kebijakan ini berdampak langsung pada Haiti dan Iran, dua negara yang telah memastikan diri lolos ke Piala Dunia 2026.

Lebih lanjut, pada 14 Januari, pemerintahan Trump juga secara permanen menangguhkan pemrosesan visa imigran bagi warga dari 75 negara. Kebijakan tersebut, menurut laporan The Guardian, akan mulai berlaku pada 21 Januari.

Langkah-langkah tersebut menuai kecaman luas. Mantan presenter Sky Sports, Jeff Stelling, turut menyuarakan pandangannya melalui platform X.

Menanggapi unggahan seorang pengguna yang menyebut tidak bertanggung jawab bagi FIFA membiarkan AS tetap menjadi tuan rumah, Stelling menulis, "Saya sepenuhnya setuju. Sejujurnya, mereka harus mempertimbangkan alternatif seperti Inggris."


Kasus Kolombia

Ilustrasi trofi Piala Dunia 2026. (Dok. fifa.com)

Inggris terakhir kali menjadi tuan rumah Piala Dunia pada 1966, saat The Three Lions menjuarai turnamen dengan mengalahkan Jerman Barat 4-2 di final Wembley, berkat hattrick Geoff Hurst dan satu gol Martin Peters.

Kendati sudah lama tidak menggelar Piala Dunia, Inggris tetap berpengalaman menjadi tuan rumah turnamen besar.

Euro 1996 digelar sepenuhnya di negara tersebut, sementara sejumlah pertandingan, termasuk partai final Euro 2020, yang dimainkan pada 2021 akibat pandemi, juga berlangsung di Inggris.

Ke depan, Euro 2028 dijadwalkan digelar di Inggris dan Republik Irlandia.

Dalam sejarah Piala Dunia, Kolombia tercatat sebagai satu-satunya negara yang pernah ditunjuk sebagai tuan rumah, tetapi akhirnya batal menggelar turnamen.

Negara Amerika Selatan itu mundur secara sukarela dari Piala Dunia 1986 karena keterbatasan ekonomi, sebelum FIFA memindahkan penyelenggaraan ke Meksiko.

 

Sumber: Sportbible

Berita Terkait