Target Tinggi Timnas Indonesia ke Piala Dunia 2030 Oke-Oke Saja, tapi Jangan Lupa Masih Banyak Turnamen Lain yang Butuh Pembuktian

Eks striker Timnas Indonesia, Budi Sudarsono, mengingatkan agar PSSI tidak melupakan target-target lain "di bawah" misi ke Piala Dunia 2030.

BolaCom | Choki SihotangDiterbitkan 18 Januari 2026, 08:30 WIB
Herdman menyepakati kontrak berdurasi 2 tahun dari PSSI, atau hingga 2027 dengan opsi perpanjangan hingga 2030. (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

Bola.com, Jakarta - PSSI menargetkan asa tinggi kepada pelatih Timnas Indonesia yang baru, John Herdman. Juru taktik berpaspor Inggris itu diharapkan bisa membawa Skuad Garuda berpartisipasi di Piala Dunia 2030. 

Target ke Piala Dunia 2030 sah-sah saja diburu. Akan tetapi, John Herdman jangan sampai menafikan bahwa selain Piala Dunia, rakyat Indonesia juga sangat menantikan tim kesayangan bisa tampil digdaya di ajang lain. 

Advertisement

Sepanjang 2026 misalnya, setidaknya ada dua agenda yang tak kalah krusial menanti John Herdman. Pertama, FIFA Series pada Maret dan Piala AFF pada Juli. 

Khusus di ajang Piala AFF, Indonesia sama sekali belum pernah merasakan manisnya gelar juara sejak turnamen balbalan terbesar di Asia Tenggara itu digulirkan pada 1996.

Eks striker Timnas Indonesia, Budi Sudarsono, ikut angkat suara terkait penunjukan John Herdman sebagai suksesor Patrick Kluivert yang didepak Oktober 2025.


Target di Turnamen Lain

Pelatih Sriwijaya FC di Pegadaian Championship 2025/2026, Budi Sudarsono (Instagram Budi Sudarsono)

Budi Sudarsono tak lupa mengingatkan, John Herdman juga harus bisa membawa skuadnya tampil cemerlang di semua ajang atau turnamen lain sebelum merealisasikan target besar ke Piala Dunia 2030. 

"Menurut saya, memilih pelatih itu gampang-gampang susah. Kayak cari jodoh. Jadi, cocok atau enggaknya, ketika kita pilih pelatih yang sudah kita tetapkan ini jangan sampai, ya okelah, Piala Dunia itu golnyalah istilahnya. Tapi, jangan lupa, bahwa kita masih punya turnamen-turnamen yang di bawahnya itu," kata Budi Sudarsono via kanal YouTube Nusantara TV. 

"Kita harus punya mental juara. Iya kan? Tapi, kalau kita hanya tujuannya ke Piala Dunia, di bawahnya kita enggak bisa ambil, sama saja bohong," imbuh eks mesin gol Persija Jakarta dan Persik Kediri tersebut.


Memupuk Percaya Diri

Pemain Timnas Indonesia U-22 mengikuti sesi latihan resmi jelang laga melawan Mali di Stadion Madya, Senayan, Jakarta, Jumat (14/11/2025). Skuad Garuda Muda dijadwalkan dua kali menghadapi Timnas Mali U-22 sebelum berlaga di SEA Games 2025. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Menurut Budi Sudarsono, tampil di pentas terakbar pastinya tidak mudah karena levelnya yang sangat tinggi. Jadi, Skuad Garuda perlu memupuk rasa percaya diri dengan cara menjadi juara di banyak turnamen. 

"Karena Piala Dunia ini, sepak bola yang levelnya sudah tinggi. Jadi, harus membiasakan dari bawah," ujar legenda yang kini berusia 46 tahun itu.

Terkait John Herdman yang merupakan sosok yang keras dan mental pemenang, Budi Sudarsono berharap itu cocok dengan semua pemain Timnas Indonesia nantinya. Tetapi, semua butuh waktu serta proses. 

"Kalau dia seperti itu cocok emang. Tapi, harus agak lama atau perlu waktu karena enggak bisa kita seperti membalikkan telapak tangan," tuturnya.


Step by Step

Herdman nantinya akan bersaing dengan asisten pelatih Liverpool, Giovanni van Bronckhorst, yang juga disebut Sky Sports tengah dipertimbangkan oleh PSSI. (AFP/Jack Guez)

Lebih jauh Budi Sudarsono menambahkan, Timnas Kanada berbeda dengan Timnas Indonesia. Jika permainan Kanada seperti umumnya negara Eropa lainnya, Indonesia seperti Brasil.

Jadi, butuh waktu yang sangat panjang untuk memantapkan strategi permainan, terlebih dengan target besar ke Piala Dunia 2030. 

"Beda jauh dengan kita. Kalau Kanada seperti Eropa ya, pemainnya tinggi-tinggi, permainannya stylish. Kalau kita itu permainannya seperti Brasil. Kalau menurut saya, jangka empat tahun ini kurang. Untuk Piala Dunia 2030 sangat kurang," lanjut Budi Sudarsono sembari mencotohkan Jepang yang sukses lantaran proses yang panjang. 

"Karena gini... Jepang saja berapa tahun untuk dia berproses. Program kepelatihannya saja sangat luar biasa. Sekarang Jepang ketika dia uji coba dengan tim Eropa yang kelasnya sudah juara Piala Dunia, dia bisa mengimbangi. Sempat menang juga. Itu pun dia tidak bilang targetnya sekarang juara Piala Dunia. Bayangkan. Maksudnya, prosesnya itu butuh jangka panjang. Harus step by step," cetus Budi Sudarsono. 

Berita Terkait