Liga Inggris: Mikel Arteta Kesal Handball Kontroversial Tak Berbuah Penalti, 3 Poin Melayang

Arsenal imbang, tim asuhan Mikel Arteta kembali gagal mengonversi peluang emas menjadi kemenangan atas Nottingham Forest.

BolaCom | Wiwig PrayugiDiterbitkan 18 Januari 2026, 10:15 WIB
Bek Nottingham Forest, Ola Aina, melompat untuk menyundul bola saat berduel dengan gelandang Arsenal, Gabriel Martinelli, dalam pertandingan Liga Inggris antara Nottingham Forest dan Arsenal di The City Ground, Nottingham, Inggris bagian tengah, pada 17 Januari 2026. (AFP/Justin Talis)

Bola.com, Jakarta - Arsenal memang berhasil memperlebar jarak di puncak klasemen Liga Inggris menjadi tujuh poin pada Sabtu (17/1/2026), namun hasil imbang tanpa gol melawan Nottingham Forest justru meninggalkan rasa kecewa mendalam di kalangan pendukung The Gunners.

Alih-alih memanfaatkan momentum, tim asuhan Mikel Arteta kembali gagal mengonversi peluang emas menjadi kemenangan. 

Advertisement

Kekalahan 0-2 Manchester City dari Manchester United di Old Trafford sejatinya membuka jalan lebar bagi Arsenal untuk unggul sembilan poin di puncak klasemen. Namun, kesempatan itu terbuang setelah Arsenal hanya mampu membawa pulang satu poin dari City Ground.

Ini menjadi laga liga kedua secara beruntun di mana Arsenal gagal meraih kemenangan, setelah sebelumnya juga ditahan Liverpool dengan skor kacamata di Emirates Stadium.

Hasil tersebut mencatatkan sejarah yang tidak diharapkan bagi Arsenal. Untuk pertama kalinya dalam 14 tahun, mereka bermain imbang tanpa gol dalam dua pertandingan Liga Inggris berturut-turut. Terakhir kali situasi serupa terjadi adalah pada awal musim 2012/2013 saat Arsenal bermain 0-0 melawan Sunderland dan Stoke City.


Kontroversi VAR

Bek Arsenal, Noni Madueke, mengirimkan umpan silang melewati gelandang Nottingham Forest, Nicolás Domínguez, dalam pertandingan Liga Inggris antara Nottingham Forest dan Arsenal di The City Ground, Nottingham, Inggris bagian tengah, pada 17 Januari 2026. (AFP/Justin Talis)

Secara permainan, Arsenal sebenarnya tampil dominan. Mereka menguasai jalannya laga, menciptakan sejumlah peluang berbahaya, dan bahkan tidak menghadapi satu pun tembakan tepat sasaran dari Nottingham Forest.

Manajer Mikel Arteta menyebut timnya menciptakan empat peluang besar yang seharusnya cukup untuk memenangkan pertandingan. Namun, buruknya penyelesaian akhir kembali menjadi masalah utama.

Winger Arsenal, Noni Madueke, mengakui hasil ini terasa menyakitkan. Ia menyebut pertandingan tersebut sebagai sebuah “peluang yang terlewatkan”, mengingat situasi klasemen dan hasil yang diraih rival terdekat mereka.

Namun, bukan hanya soal efektivitas yang membuat Arteta frustrasi. Insiden handball Ola Aina di babak kedua menjadi sorotan utama dan memicu kontroversi besar. Dengan sekitar 10 menit tersisa, bek kanan Nottingham Forest itu berusaha mengontrol bola pantul di dalam kotak penalti saat ditekan Gabriel Jesus dan tak sengaja bertabrakan dengan rekan setimnya, Elliot Anderson.

Dalam situasi tersebut, bola terlihat mengenai bahu Aina sebelum kemudian menyentuh lengannya saat ia berbalik arah. Para pemain Arsenal langsung mengajukan protes keras dan menuntut penalti, namun wasit tetap bergeming. Setelah pengecekan VAR, keputusan di lapangan tidak berubah.

Melalui pernyataan resminya di media sosial, Premier League Match Centre menjelaskan bahwa keputusan tersebut telah ditinjau dan dikonfirmasi. VAR menilai bola lebih dulu mengenai bahu Aina dan posisi lengannya dianggap masih dalam keadaan alami, sehingga tidak memenuhi kriteria pelanggaran handball.


Reaksi Arteta

Arteta jelas tidak puas dengan penjelasan tersebut. Pelatih asal Spanyol itu dengan tegas menyatakan bahwa Arsenal seharusnya mendapatkan penalti. Menurutnya, terdapat niat jelas dari Aina untuk menghalau bola menggunakan tangan di dalam kotak terlarang.

“Saya baru saja melihat tayangan ulangnya. Bagi saya, ada niat yang jelas untuk membersihkan bola di dalam kotak penalti dan itu adalah penalti yang sangat jelas. Saya tidak mengerti mengapa keputusan itu tidak diberikan,” ujar Arteta dengan nada kesal.

Pandangan tersebut tentu saja berseberangan dengan opini manajer Nottingham Forest, Sean Dyche. Mantan pelatih Burnley itu menyebut tuntutan Arsenal sebagai sesuatu yang berlebihan dan berbahaya bagi masa depan sepak bola.

“Jika hal-hal seperti itu mulai diberikan sebagai penalti, kita semua sebaiknya berhenti saja. Itu konyol,” kata Dyche. “Kita harus sangat berhati-hati dengan aturan handball. Kalau itu dianggap pelanggaran, lebih baik sepak bola dibatalkan saja.”

 


Dianggap Pura-pura Guling

Dyche bahkan mengalihkan perhatian pada isu lain yang menurutnya lebih merusak permainan. Ia menilai pura-pura cedera dan aksi-aksi menjatuhkan diri justru menjadi masalah yang seharusnya lebih serius diperhatikan oleh otoritas sepak bola.

Hasil imbang ini memang tidak menggoyahkan posisi Arsenal di puncak klasemen, namun kembali menegaskan bahwa persaingan gelar juara masih jauh dari kata aman. Dalam situasi di mana rival terdekat tergelincir, kegagalan memaksimalkan peluang bisa menjadi penyesalan besar di akhir musim.

Bagi Arsenal, dominasi dan solidnya lini pertahanan tetap menjadi modal penting. Namun, jika ingin benar-benar mengunci gelar, Arteta dan anak asuhnya harus segera menemukan ketajaman dan ketegasan di momen-momen krusial.

Berita Terkait