FIFA Murka! Gianni Infantino Kecam Aksi Walk Out Senegal di Final Piala Afrika

Final Piala Afrika 2025 yang seharusnya menjadi panggung kejayaan Senegal justru menyisakan noda besar.

BolaCom | Gregah NurikhsaniDiterbitkan 19 Januari 2026, 22:15 WIB
Presiden FIFA, Gianni Infantino, berharap Piala Dunia U-17 2023 yang diselenggarakan di Indonesia akan berlangsung semarak. (AFP/Simon Maina)

Bola.com, Jakarta - Final Piala Afrika 2025 yang seharusnya menjadi panggung kejayaan Senegal justru menyisakan noda besar. Laga puncak melawan tuan rumah Maroko diwarnai insiden panas yang berujung kecaman keras dari Presiden FIFA, Gianni Infantino.

Senegal memang keluar sebagai juara usai menang tipis 1-0 lewat gol Pape Gueye di babak tambahan. Namun, drama kontroversial di menit-menit akhir waktu normal membuat kemenangan tersebut terasa pahit dan penuh sorotan negatif.

Advertisement

Keputusan wasit menghadiahkan penalti kepada Maroko memicu reaksi keras dari para pemain dan ofisial Senegal. Mereka meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes, menciptakan kekacauan dan menghentikan pertandingan selama lebih dari 15 menit.

Situasi memanas itu langsung menarik perhatian otoritas sepak bola dunia. FIFA menilai insiden tersebut telah mencoreng nilai sportivitas dan mengancam esensi permainan sepak bola itu sendiri.

 


Insiden Penalti Picu Kekacauan di Akhir Laga

Idrissa Gueye dari Senegal meminta para pemain untuk meninggalkan lapangan selama pertandingan final Piala Afrika antara Senegal dan Maroko, di Rabat, Maroko, Senin (19-1-2026) dini hari WIB. (AP Photo/Mosa'ab Elshamy)

Ketegangan mencapai puncaknya saat Maroko mendapat penalti di pengujung waktu normal. Para pemain Senegal bereaksi keras, bahkan memilih meninggalkan lapangan, memicu kerumunan dan adu argumen di sekitar perangkat pertandingan.

Setelah penundaan panjang, laga akhirnya dilanjutkan. Namun, peluang emas Maroko terbuang percuma setelah Brahim Diaz gagal mengeksekusi penalti dengan gaya panenka yang mudah dibaca kiper Senegal, Edouard Mendy.

Pertandingan pun berlanjut ke babak tambahan, di mana Pape Gueye muncul sebagai pahlawan Senegal lewat gol penentu kemenangan. Meski berhasil mengangkat trofi, perilaku Senegal di akhir waktu normal tetap menjadi sorotan utama.

 


Gianni Infantino: Kekerasan dan Walk Out Tak Bisa Ditoleransi

Pelatih kepala Senegal, Pape Thiaw (C), dan tim merayakan kemenangan dengan trofi setelah memenangkan pertandingan final Piala Afrika (CAN) 2025 melawan Maroko di Stadion Pangeran Moulay Abdellah di Rabat, Senin (19-1-2026) dini hari WIB. (Abdel Majid BZIOUAT/AFP)

Gianni Infantino tak menutupi kekecewaannya terhadap insiden tersebut. Meski mengucapkan selamat atas gelar juara Senegal, Presiden FIFA itu secara terbuka mengecam keras perilaku yang terjadi di lapangan dan tribun.

“Kami menyaksikan adegan yang tidak bisa diterima, baik di lapangan maupun di tribun. Kami mengutuk keras perilaku sebagian suporter, serta sejumlah pemain dan staf teknis Senegal,” ujar Infantino.

“Meninggalkan lapangan dengan cara seperti itu tidak dapat diterima. Kekerasan juga tidak punya tempat dalam sepak bola. Itu jelas salah,” lanjutnya dengan nada tegas.

Infantino menegaskan bahwa menghormati keputusan wasit adalah fondasi utama olahraga ini. “Jika tidak, maka esensi sepak bola itu sendiri berada dalam ancaman serius,” tegasnya.

 


CAF Siapkan Sanksi, Rekaman Insiden Sedang Dikaji

Penyerang Senegal bernomor punggung 10, Sadio Mane, mengangkat trofi saat merayakan kemenangan bersama rekan-rekan setimnya setelah memenangkan pertandingan final Piala Afrika (CAN) 2025 melawan Maroko di Stadion Pangeran Moulay Abdellah di Rabat, Senin (19-1-2026) dini hari WIB. (SEBASTIEN BOZON/AFP)

Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) turut mengambil sikap atas kekacauan di partai final tersebut. Otoritas tertinggi sepak bola Afrika itu memastikan tengah meninjau seluruh rekaman insiden.

Dalam pernyataan resminya, CAF menyatakan mengecam tindakan tidak pantas yang dilakukan sejumlah pemain dan ofisial. Proses disipliner pun dipastikan akan menyusul.

“CAF mengecam perilaku yang tidak dapat diterima dari beberapa pemain dan ofisial. Seluruh rekaman sedang dikaji dan kasus ini akan dirujuk ke badan berwenang untuk tindakan yang sesuai terhadap pihak-pihak yang dinyatakan bersalah,” tulis CAF.

Sumber: The Independent

Berita Terkait