Bola.com, Jakarta - Final Piala Afrika 2025 antara Senegal dan Maroko berubah menjadi laga penuh kontroversi yang mencoreng pesta sepak bola Afrika. Pertandingan puncak yang digelar di Rabat itu diwarnai kekacauan besar akibat keputusan penalti di menit-menit akhir waktu normal.
Saat skor masih imbang tanpa gol hingga menit kedelapan masa tambahan waktu, wasit menunjuk titik putih untuk Maroko setelah insiden pelanggaran di kotak terlarang. Keputusan tersebut memicu reaksi keras dari kubu Senegal, yang merasa dirugikan karena sebelumnya gol mereka dianulir.
Situasi makin tak terkendali ketika pelatih Senegal, Pape Thiaw, memerintahkan para pemainnya meninggalkan lapangan. Laga terhenti lebih dari 20 menit, menciptakan suasana panas dan ketegangan luar biasa di stadion.
Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) pun angkat suara. Otoritas tertinggi sepak bola Afrika itu secara tegas mengecam perilaku yang terjadi dan memastikan akan melakukan peninjauan menyeluruh atas insiden di partai final tersebut.
Penalti Kontroversial Jadi Pemicu Kekacauan
Kekisruhan bermula ketika bek West Ham United, El Hadji Malick Diouf, dinilai menarik Brahim Diaz di kotak penalti. Keputusan itu diambil setelah wasit Jean Jacques Ndala meninjau tayangan VAR di sisi lapangan.
Keputusan penalti tersebut datang hanya beberapa saat setelah Senegal melihat gol mereka dianulir, sehingga memicu amarah besar di kubu juara bertahan. Reaksi paling ekstrem datang dari pelatih Pape Thiaw yang memerintahkan timnya keluar lapangan.
Langkah tersebut menuai kritik luas karena dianggap mencoreng sportivitas dan merusak citra sepak bola Afrika di mata dunia.
Sadio Mane Jadi Penyejuk, Pilih Jaga Martabat Afrika
Di tengah kekacauan, Sadio Mane tampil sebagai figur penenang. Bintang Senegal itu memilih tetap berada di lapangan dan berperan besar membujuk rekan-rekannya untuk kembali bertanding.
“Bayangkan saja jika kami masuk ke ruang ganti dan pertandingan berhenti begitu saja. Itu akan memberikan citra negatif terhadap sepak bola kami,” tutur Mane.
“Saya pikir Afrika tidak pantas mendapatkan hal seperti itu. Sepak bola Afrika sudah berkembang luar biasa dan sekarang disaksikan oleh seluruh dunia. Karena itu, saya melakukan apa yang harus saya lakukan,” lanjutnya.
Mane juga menegaskan bahwa meninggalkan pertandingan karena satu keputusan wasit adalah hal yang keliru. “Apakah masuk akal kami tidak melanjutkan pertandingan hanya karena wasit memberi penalti? Itu akan menjadi hal terburuk bagi sepak bola Afrika. Saya lebih memilih kalah daripada melihat hal seperti itu terjadi pada sepak bola kami,” tegas Mane.
CAF Siapkan Tindakan Disipliner
CAF memastikan insiden di final tidak akan dibiarkan begitu saja. Dalam pernyataan resminya, CAF mengutuk keras perilaku sejumlah pemain dan ofisial Senegal yang dianggap tidak pantas.
“CAF mengecam perilaku yang tidak dapat diterima dari beberapa pemain dan ofisial selama final Piala Afrika Maroko 2025 antara Maroko dan Senegal di Rabat,” bunyi pernyataan tersebut.
“CAF dengan tegas mengutuk segala bentuk perilaku tidak pantas dalam pertandingan, khususnya yang menargetkan perangkat pertandingan atau penyelenggara. Seluruh rekaman sedang dikaji dan kasus ini akan dirujuk ke badan berwenang untuk tindakan yang sesuai terhadap pihak yang terbukti bersalah,” lanjut pernyataan CAF.
Senegal Tetap Juara, Tapi Bayang-bayang Sanksi Mengintai
Setelah laga kembali dilanjutkan, Brahim Diaz gagal memanfaatkan penalti usai eksekusi panenkanya digagalkan Edouard Mendy. Gol tersebut menjadi sentuhan terakhir di waktu normal.
Di babak tambahan, Pape Gueye memastikan kemenangan Senegal lewat gol spektakuler pada menit keempat extra time. Senegal pun keluar sebagai juara Piala Afrika untuk kedua kalinya.
Namun, di balik perayaan gelar juara, Senegal masih harus menunggu hasil investigasi CAF. Kekacauan di final berpotensi berbuntut sanksi, yang bisa menjadi noda serius dalam sejarah keberhasilan mereka.
Sumber: Evening Standard