Belajar dari Guus Hiddink saat Melatih Korea Selatan, Timnas Indonesia Diminta Sabar dengan John Herdman

Kehadiran John Herdman sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia memunculkan harapan besar, sekaligus tantangan tidak ringan.

BolaCom | Choki SihotangDiterbitkan 20 Januari 2026, 12:45 WIB
Pelatih Timnas Indonesia John Herdman saat memberi keterangan kepada awak media selepas drawing ASEAN Championship 2026 di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pada Kamis (15/1/2026). (Liputan6.com/Melinda Indrasari)

Bola.com, Jakarta - Kehadiran John Herdman sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia memunculkan harapan besar, sekaligus tantangan tidak ringan.

Datang dari latar budaya dan sepak bola yang berbeda, juru taktik asal Inggris itu dituntut membangun filosofi bermain yang sesuai dengan karakter sepak bola Indonesia. Sebuah proses yang jelas tidak instan.

Advertisement

Pengamat sepak bola nasional, Mohamad Kusnaeni, menilai publik dan PSSI perlu bersabar dalam menilai kinerja Herdman. Menurutnya, membangun fondasi permainan tim nasional membutuhkan waktu. Apalagi John Herdman mengemban misi jangka panjang: mengantar Indonesia menuju Piala Dunia 2030.

Pandangan tersebut disampaikan pria yang akrab disapa Bung Kus tersebut melalui kanal YouTube Nusantara TV. Ia mengingatkan agar semua pihak tidak gegabah mengambil kesimpulan di tengah jalan, terlebih saat program kepelatihan Herdman masih berjalan.

 


Datang dari Kultur Berbeda, Butuh Proses Adaptasi

Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, memberi keterangan saat acara perkenalan pelatih baru Timnas Indonesia di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Selasa pagi (13/1/2026). (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

John Herdman, yang dikontrak hingga 2027 dengan opsi perpanjangan dua tahun, datang sebagai pengganti Patrick Kluivert. Pelatih berusia 50 tahun itu langsung memikul beban besar, termasuk membenahi Timnas Indonesia setelah kegagalan lolos ke Piala Dunia 2026.

Menurut Kusnaeni, perbedaan kultur sepak bola menjadi faktor penting yang harus dipahami publik.

"Setiap pelatih punya filosofi masing-masing. John Herdman datang dari kultur sepak bola yang berbeda. Dia datang dari Inggris dengan filosofi yang berbeda dari Belanda, berbeda dengan Korea Selatan," ujar Mohamad Kusnaeni.

 


Bukan Waktu yang Sebentar

Cesar Meylan diperkenalkan di Hotel Mulia, Jakarta, Selasa (13/1/2026). (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

Ia menambahkan, ketika seorang pelatih asing datang ke Indonesia, proses adaptasi menjadi kunci. Filosofi bermain tidak bisa serta-merta diterapkan begitu saja.

"Ketika dia datang ke Indonesia, dia harus beradaptasi dengan sepak bola Indonesia dan membangun filosofi sepak bola Indonesia. Itu bukan waktu yang sebentar," lanjutnya.

Kusnaeni mencontohkan bagaimana Shin Tae-yong membutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk mulai memperlihatkan identitas permainan Timnas Indonesia.

 


Jangan Gegabah, Jangan Mulai dari Nol Lagi

Lebih jauh, Kusnaeni menegaskan evaluasi terhadap Herdman seharusnya dilakukan secara menyeluruh dan proporsional. Ia mengingatkan bahaya jika publik atau federasi terlalu cepat menghakimi kinerja pelatih sebelum masa kontraknya berjalan wajar.

"Kalau kita gegabah membuat penilaian terhadap kinerja dia, apalagi sebelum kontrak dua tahun selesai, nanti kita akan menghadapi persoalan yang sama, kembali dari nol lagi," tegasnya.

"Seperti kita isi bensin, akhirnya terus mulai dari nol lagi. Kalau sepak bola kita mau ke Piala Dunia, jangan bolak-balik ke pom bensin. Isi tangki dari awal penuh, lalu sampai ke tujuan dulu. Jangan bocor di jalan," kata Kusnaeni.

 


Contoh Guus Hiddink dan Korea Selatan

Bung Kus juga meyakini John Herdman pasti telah menyiapkan program matang untuk Timnas Indonesia. Namun, ia menekankan program tersebut tidak selalu berjalan mulus dan kerap menghadapi benturan di tengah jalan.

Untuk memperjelas pandangannya, Kusnaeni mengangkat contoh sukses Guus Hiddink saat menangani Timnas Korea Selatan jelang Piala Dunia 2002.

"Saya ambil contoh Guus Hiddink ketika dipercaya menukangi Korea Selatan sebagai tuan rumah Piala Dunia. Dalam periode persiapan, banyak pertandingan uji coba yang justru berakhir dengan kekalahan," ungkapnya.

Kala itu, publik Korea Selatan sempat pesimistis. Namun, hasil akhirnya justru mencengangkan.

"Sampai sekarang, Korea Selatan menjadi tim Asia paling berprestasi di Piala Dunia dengan menembus semifinal. Jadi kita tidak bisa sepenuhnya mengukur hasil hanya dari laga uji coba," pungkas Kusnaeni.

 


Menanti Hasil dengan Kesabaran

Pernyataan Mohamad Kusnaeni menjadi pengingat membangun Timnas Indonesia bukan proyek jangka pendek. Filosofi, mentalitas, dan sistem permainan membutuhkan waktu untuk berakar.

Kini, publik sepak bola Tanah Air tinggal menunggu: seperti apa wajah Timnas Indonesia di bawah sentuhan John Herdman?

Berita Terkait