Bola.com, Jakarta - Ketua The Jakmania, Diky Soemarno, memberikan catatan penting terhadap performa Persija Jakarta sepanjang putaran pertama BRI Super League 2025/2026. Apa saja?
Diky menilai, salah satu kelemahan utama Tim Macan Kemayoran ialah minimnya pemain pelapis yang mampu menjadi pembeda ketika permainan menemui kebuntuan. Hal itu diungkapkan saat menjadi bintang tamu di kanal YouTube Liputan6, belum lama ini.
Menurutnya, secara taktik dan susunan starting eleven racikan pelatih Mauricio Souza sudah cukup baik pada awal pertandingan. Namun, Persija kerap kesulitan mencari rencana cadangan ketika permainan mentok.
“Menurut saya pelapis di Persija kurang. Pelapis di Persija jangan hanya menjadi pemain pengganti, tapi juga jadi pembeda. Jadi pemain yang memang memberikan solusi lain, alternatif lain dari permainan ketika permainan itu menjadi monoton atau menjadi mentok,” ulasnya.
Problem Putaran Pertama
Pria berusia 38 tahun itu menegaskan, persoalan tersebut sebenarnya sudah tampak jelas sejak putaran pertama. Beberapa hasil kurang maksimal di kandang menjadi bukti nyata.
“Kita dua kali gagal menang di kandang lawan Malut sama lawan Bali. Itu terjadi ya kita tahu lawan Malut kita main 10 orang kita kebobolan lewat golnya Yance Sayuri bagus banget. Terus kita lawan Bali juga kemasukan duluan kita main di JIS saat itu,” katanya.
Menurut Diky, tim yang ingin menjadi juara wajib memaksimalkan laga kandang dengan kemenangan penuh. Ia mencontohkan Persib Bandung yang dinilainya punya modal kuat untuk itu.
“Artinya kalau untuk jadi juara kandang tuh harus full total menang. Persib salah satu klub yang melakukan itu dan Persib dengan skuad yang sekarang memang menjadi lebih menakutkan bagi tim-tim lawan dan dengan dukungan suporter Bobotoh di sana saya rasa Persib mempunyai modal yang cukup kuat,” sebutnya.
Perlu Perubahan
Diky Soemarno pun mendorong Tim Macan Kemayoran untuk berbenah di putaran kedua, termasuk berani melakukan perubahan terhadap pemain yang kontribusinya belum optimal.
“Salah satunya mungkin nanti yang harus dilakukan Persija memang kita harus melihat bagaimana bisa berimprovisasi di putaran kedua nanti. Pemain-pemain siapa yang memang kontribusinya kurang ya ganti saja,” tegasnya.
“Artinya gini kita butuh pemain pembeda saja. Aditya Warman ketika lawan Jepara itu menjadi pembeda karena dia berani untuk nyetak gol dari luar kotak penalti. Dia berani nendang di situ."
“Tapi kan baru satu, kita belum lihat yang lainnya. Artinya gini kalau suporter aja tahu apa kekurangan tim dan apa yang harus dilakukan, harusnya manajemen dan pelatih itu jauh lebih tahu dibandingin kami,” lanjut Diky.
Pentingnya Peran Pelapis
Ketika ditanya soal aspek yang paling kurang dari Persija saat ini, Diky kembali menekankan pentingnya peran pelapis. Ia bahkan memberi ilustrasi soal kebutuhan tipe striker alternatif.
“Ya, pelapis tadi itu, pelapis untuk menjadi pembeda di setiap pertandingan yang mentok-mentok. Pelapis itu pemain yang ada di bench bukan hanya sebagai pemain pengganti, bukan menggantikan peran, tapi justru memberikan peran yang berbeda dari pemain yang dia gantikan,” jelasnya.
“Misalkan striker kita sudah enggak bisa pegang bola apa segala macam dan dijaga terus ya, kita berarti mesti cari pelapis pengganti striker yang memang dia kuat pegang bola dan tanpa harus dijaga juga dia tiba-tiba bisa cetak gol. Artinya memang striker yang matang banget di kotak penalti,” pungkas Diky.
Pada bursa transfer paruh musim ini, Persija Jakarta resmi mendatangkan striker bernama Alaeddine Ajaraie. Hadirnya bomber Maroko itu tentu menambah komposisi pemain depan Macan Kemayoran di putaran kedua BRI Super League.