Ditekan Kritik, Patrice Motsepe Tegaskan Sepak Bola Afrika Bukan Boneka FIFA atau Eropa

Presiden Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF), Patrice Motsepe, tegaskan CAF bukanlah boneka FIFA atau Eropa.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 20 Januari 2026, 14:30 WIB
Presiden Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF), Patrice Motsepe, berbicara selama konferensi pers di Stadion Pangeran Moulay Abdellah di Rabat, Maroko pada 20 Desember 2025, menjelang dimulainya turnamen sepak bola Piala Afrika (CAN). (SEBASTIEN BOZON/AFP)

Bola.com, Jakarta - Presiden Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF), Patrice Motsepe, dengan tegas membantah anggapan bahwa keputusan mengubah format Piala Afrika (AFCON) menjadi empat tahunan diambil demi mengakomodasi kepentingan FIFA atau sepak bola Eropa.

Di bawah tekanan pertanyaan dalam konferensi pers yang berlangsung panas, Motsepe menegaskan bahwa CAF berdiri dan mengambil keputusan untuk Afrika, bukan menjadi "boneka" pihak lain.

Advertisement

CAF sebelumnya mengumumkan bahwa mulai 2028, AFCON tidak lagi digelar dua tahun sekali, melainkan empat tahun sekali, mengikuti pola Piala Dunia dan Kejuaraan Eropa.

Keputusan itu langsung menuai kritik, dengan tudingan bahwa perubahan jadwal tersebut dibuat agar sejalan dengan kalender sepak bola Eropa.

Motsepe membantah keras tuduhan tersebut.

"Perlu waktu empat tahun bagi kami untuk sampai pada titik ini," ujar Motsepe.

"Keputusan ini diambil secara bulat di CAF, seratus persen. Bahkan saya sendiri yang harus diyakinkan selama tiga tahun terakhir," tegasnya.


Afrika untuk Afrika

Patrice Motsepe, Presiden CAF. (Photo: Rodger Bosch/AFP)

Motsepe kemudian menyinggung proyek African Super League, yang disebut sebagai bagian dari upaya membangun fondasi sepak bola Afrika secara mandiri.

"African Super League kami mulai sebagai proyek percontohan di level klub dan berjalan baik. Tetapi, kelanjutannya tidak terealisasi karena mitra pendanaan tidak memberikan kesepakatan yang sesuai dengan yang kami anggap layak," kata Motsepe, yang juga pengusaha tambang asal Afrika Selatan tersebut.

Sebelumnya, Motsepe sempat menjanjikan pendapatan hingga 200 juta dolar AS dari African Super League. Namun, turnamen yang dirancang sebagai ajang pengantar menuju Piala Dunia Antarklub itu gagal menemukan tempat yang jelas di kalender, dan edisi keduanya pun tidak pernah terwujud.

Meski begitu, Motsepe menekankan adanya peningkatan signifikan dari sisi pendapatan dan hadiah uang pada kompetisi antarklub CAF, yakni Liga Champions Afrika dan Piala Konfederasi.

"Kami sangat puas. Pendapatan AFCON jauh lebih kecil dibandingkan pendapatan yang telah kami siapkan untuk African Nations League," ungkapnya.

"Kompetisi itu akan kami luncurkan dalam beberapa tahun ke depan. Anda benar-benar berbicara omong kosong ketika mengatakan kami mengelola Afrika untuk Eropa. Itu omong kosong. Itu penghinaan. Kami mengelola Afrika untuk Afrika," tegasnya.


Kepercayaan Diri

Penyerang Senegal bernomor punggung 10, Sadio Mane, mengangkat trofi saat merayakan kemenangan bersama rekan-rekan setimnya setelah memenangkan pertandingan final Piala Afrika (CAN) 2025 melawan Maroko di Stadion Pangeran Moulay Abdellah di Rabat, Senin (19-1-2026) dini hari WIB. (SEBASTIEN BOZON/AFP)

Motsepe juga menyebutkan peningkatan dana bantuan untuk asosiasi anggota CAF sejak ia menjabat.

"Ketika saya menjadi presiden, asosiasi anggota menerima 150 ribu dolar. Sekarang menjadi 400 ribu dolar," ujarnya.

Namun, beberapa menit sebelumnya, Motsepe belum mampu memaparkan secara terperinci biaya dan pendapatan pasti dari penyelenggaraan Piala Afrika 2025.

Ia kembali menekankan pentingnya kepercayaan diri Afrika dalam mengambil keputusan.

"Kami sebagai orang Afrika harus membebaskan diri dan berhenti berpikir bahwa setiap keputusan yang kami ambil adalah karena FIFA atau karena Eropa. Itu menunjukkan kurangnya kepercayaan kepada diri sendiri," kata Motsepe.

"Sering kali FIFA datang dengan rekomendasi. Kami dengarkan, kami tidak setuju, dan itu tidak akan terjadi."


Bangun Hubungan Global

Presiden Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) Patrice Motsepe (kiri), Presiden Pantai Gading Alassane Ouattara (tengah), dan Presiden FIFA Gianni Infantino (kanan) berpose memegang trofi Piala Afrika 2023 setelah laga final antara Pantai Gading melawan Nigeria di Alassane Ouattara Olympic Stadium, Ebimpe, Abidjan, Pantai Gading, Minggu (11/02/2024) waktu setempat. (AFP/Sia Kambou)

Motsepe menegaskan bahwa para pemangku kepentingan CAF mendukung penuh peluncuran African Nations League.

Kompetisi baru ini diumumkan pada Desember lalu, tetapi konsekuensinya adalah berakhirnya turnamen CHAN, ajang yang selama ini mempertemukan tim nasional yang hanya diisi pemain berbasis di liga domestik.

"CHAN itu kerugian finansial yang sangat besar," jelas Motsepe.

"Hal pertama yang saya dengar ketika menjadi presiden adalah, 'Hentikan CHAN'. Kami tetap mengalokasikan sumber daya karena beberapa negara mengatakan turnamen itu membantu mereka," jelasnya.

Ia kemudian menutup polemik tersebut dengan pernyataan tegas.

"Saya bisa pastikan, CHAN sudah tidak ada lagi. African Nations League akan lebih dari sekadar menggantikannya. Kami akan merestrukturisasi kompetisi kami. Eropa tidak mendikte kalender kami. Kita juga harus menghentikan omong kosong bahwa 'pihak ini musuh pihak itu'," ucapnya.

Motsepe menegaskan bahwa CAF justru ingin membangun hubungan global yang sehat.

"Kami akan memiliki hubungan yang saling menguntungkan dengan Eropa, Asia, Amerika Selatan, Amerika Utara, dan seluruh dunia," katanya.

 

Sumber: Inside World Football