Apakah Panenka Jadi Opsi Terbaik saat Eksekusi Penalti?

Final Piala Afrika 2025 berubah menjadi panggung penuh drama, kontroversi, dan tekanan ekstrem.

BolaCom | Gregah NurikhsaniDiterbitkan 20 Januari 2026, 19:45 WIB
Zinedine Zidane. Eks gelandang serang Prancis yang pensiun pada Juli 2006 ini menjadi pemain ketiga yang melakukan eksekusi penalti dengan gaya Panenka di Piala Dunia. Momen itu terjadi saat Prancis kalah melalui adu penalti 3-5 (1-1) dari Italia pada partai final Piala Dunia 2006 (9/7/2006) di Jerman. Gol penalti Panenka Zinedine Zidane dicetak pada menit ke-7 yang membuat Prancis unggul terlebih dahulu 1-0, yang akhirnya mampu disamakan 1-1 oleh Italia lewat gol Marco Materazzi pada menit ke-19. (AFP/Nicolas Asfouri)

Bola.com, Jakarta - Final Piala Afrika 2025 berubah menjadi panggung penuh drama, kontroversi, dan tekanan ekstrem. Di tengah kekacauan tersebut, satu momen yang paling membekas adalah kegagalan penalti Brahim Diaz, yang justru memperpanjang kekisruhan laga puncak antara Maroko dan Senegal.

Penyerang Real Madrid itu sempat mencoba menghadirkan ketenangan saat Maroko mendapat penalti krusial di masa injury time. Namun, jeda panjang yang mencapai sekitar 17 menit sejak hadiah penalti diberikan justru membuat atmosfer semakin panas dan sarat tekanan psikologis.

Advertisement

Ketika akhirnya Diaz melangkah maju, ia memilih mengeksekusi penalti dengan gaya Panenka. Bola dicungkil pelan ke tengah, tetapi kiper Senegal Edouard Mendy sama sekali tidak terkecoh dan dengan mudah menangkapnya.

Laga pun berlanjut ke babak tambahan waktu, sebelum Senegal keluar sebagai juara. Bagi Diaz, kegagalan itu menjadi luka mendalam, terlebih ketika ia harus menerima Sepatu Emas sebagai top skor turnamen dari Presiden FIFA Gianni Infantino dengan raut wajah terpukul.

 


Panenka Gagal Selalu Lebih Dihujat?

Sepakan model panenka ala Lionel Messi tak sempurna. (AP Photo/Kevin M. Cox)

Kegagalan Panenka hampir selalu mengundang kritik lebih keras dibanding penalti yang diarahkan ke sudut tetapi berhasil ditepis kiper. Dalam beberapa pekan terakhir, momen serupa juga terjadi pada Enzo Le Fée yang penalti Panenkanya dengan mudah digagalkan Caoimhin Kelleher di Premier League.

“Orang-orang akan mengeluh karena mereka melihatnya sebagai sesuatu yang berbeda,” ujar mantan striker Bristol City dan Swansea City, Lee Trundle.

Trundle menilai Panenka sejatinya tidak berbeda dari opsi penalti lainnya. “Menurut saya, itu hanya cara lain untuk mencetak gol dari titik putih. Kalau Anda menendang ke kiri atau kanan dan kiper menebak dengan benar lalu menyelamatkannya, itu sama saja dengan Panenka yang ditangkap kiper di tengah.”

 


Statistik Justru Membela Tendangan Tengah

Bek Timnas Spanyol, Dani Carvajal mencetak gol ke gawang Kroasia saat adu tendangan penalti dan menjadi penentu kemenangan pada laga final UEFA Nations League 2022/2023 di De Kuip Stadium, Rotterdam, Senin (19/6/2023) dini hari WIB. Timnas Spanyol menang 5-4 atas Kroasia lewat adu tendangan penalti. (AP Photo/Peter Dejong)

Menariknya, data justru menunjukkan bahwa menendang penalti ke tengah gawang memiliki tingkat keberhasilan lebih tinggi. Sejak Piala Dunia 1966 dan Piala Eropa 1980, sekitar 84 persen penalti yang diarahkan ke tengah berbuah gol.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan tendangan ke kiri yang hanya sukses 78 persen, serta ke kanan yang berada di angka 74 persen. Tren ini juga terlihat di AFCON 2025, dengan enam dari delapan penalti ke tengah berujung gol.

Fakta ini memperkuat argumen bahwa Panenka bukan pilihan sembrono, melainkan opsi yang sah secara statistik, baik dilakukan dengan cungkilan maupun tendangan keras lurus ke tengah.

 


Soal Insting, Kepercayaan Diri, dan Waktu

Eksekusi penalti dengan tendangan cungkil ke arah tengah yang lazim dikenal dengan istilah penalti Panenka pertama kali diperkenalkan oleh pemain asal Cekoslowakia, Antonin Panenka pada Piala Eropa 1976. Setelah itu banyak para pemain yang menirunya, tak terkecuali di ajang besar seperti Piala Dunia. Tercatat, 6 pemain pernah melakukan eksekusi penalti Panenka di ajang Piala Dunia. Berikut daftar lengkapnya. (AFP/Karim Jaafar)

Menurut Trundle, keputusan melakukan Panenka sering kali bergantung pada situasi pertandingan. “Saat saya melakukannya, itu tergantung bagaimana jalannya pertandingan. Kalau Anda bermain sangat baik, kepercayaan diri biasanya tinggi,” katanya.

Ia juga menilai penalti di menit akhir justru membuka peluang Panenka karena kiper cenderung menjatuhkan diri. “Jika skor imbang dan waktu tersisa lima menit, peluang kiper untuk tetap berdiri di tengah sangat kecil.”

Kemungkinan besar, Diaz berpikir Mendy akan memilih menyelam. Namun, dalam kasus ini, kiper Senegal membaca gerakannya dengan sempurna dan tetap berdiri.

 


Penantian Panjang yang Menghantui Pikiran

Jeda panjang sebelum eksekusi penalti dinilai turut memengaruhi kegagalan Diaz. “Dia mungkin sudah berkali-kali mengubah pikirannya dalam situasi seperti itu,” ujar Trundle.

“Semakin lama penalti ditunda, semakin besar keuntungan bagi kiper. Ada bek yang mendekat, kiper keluar dari garis, semuanya masuk ke kepala penendang.”

Trundle menilai kesalahan terbesar dalam penalti adalah mengubah keputusan saat berlari menuju bola. Meski Panenka yang gagal selalu terasa memalukan, memiliki opsi itu tetap memberi tekanan tambahan pada kiper.

“Sekarang kiper tidak hanya berpikir kiri atau kanan, tapi kiri, kanan, atau tengah. Secara teori, itu tetap menguntungkan penendang,” katanya.

Sayangnya, teori dan statistik tak banyak membantu Brahim Diaz saat ini. Bagi sang penyerang, malam final AFCON 2025 akan dikenang sebagai momen paling pahit dalam karier internasionalnya.

Sumber: BBC

Berita Terkait