Regenerasi Jadi Kunci, Pelatnas Renang Indonesia Pasang Target Besar hingga Olimpiade 2032

Pelatnas Aquatik Indonesia mengungkapkan bagaimana strategi pembinaan disusun secara bertahap, dengan mempertimbangkan usia, pengalaman, serta kesiapan mental atlet.

BolaCom | Gregah NurikhsaniDiterbitkan 21 Januari 2026, 19:45 WIB
Awalnya, ia hanya berenang sekali seminggu karena menyenangkan. Tawaran pelatih tim lebih tinggi mengubah jalannya menjadi latihan empat kali seminggu demi mencapai cita-cita tertinggi di cabor renang tingkat internasional. (Dok. PB Akuatik Indonesia)

Bola.com, Jakarta - Pembinaan cabang olahraga renang Indonesia tengah memasuki fase krusial. Setelah melalui beberapa edisi SEA Games dengan dinamika prestasi yang naik turun, federasi kini menegaskan komitmen membangun kekuatan jangka panjang melalui regenerasi atlet dan penguatan mental bertanding.

Pendekatan ini tak lagi semata berorientasi pada hasil instan, melainkan menyiapkan fondasi berkelanjutan menuju level yang lebih tinggi. SEA Games tetap dijadikan target utama, namun Asian Games hingga Olimpiade kini masuk dalam peta jalan prestasi renang nasional.

Advertisement

Salah satu figur yang berada di garis depan proses ini adalah Coach Wisnu Wardhana. Pelatih yang juga menjabat sebagai bagian dari Pelatnas Aquatik Indonesia itu mengungkapkan bagaimana strategi pembinaan disusun secara bertahap, dengan mempertimbangkan usia, pengalaman, serta kesiapan mental atlet.

Menurutnya, perubahan komposisi atlet dalam beberapa tahun terakhir menjadi bukti bahwa regenerasi bukan sekadar wacana. Indonesia kini mulai berani memberi panggung lebih luas bagi atlet muda, meski tetap menjaga keseimbangan dengan pengalaman atlet senior.

Langkah ini diambil sebagai respons atas ketatnya persaingan regional, terutama dari negara-negara Asia Tenggara yang agresif melahirkan talenta muda berkualitas.

 


Regenerasi Atlet, Dari Dominasi Senior ke Mayoritas Junior

Wakil Ketua Umum 1 Bidang Pembinaan Prestasi dan Sport Science PB Akuatik Indonesia, Wisnu Wardhana, saat memberi keterangan kepada awak media selepas pengumuman wakil cabor olahraga polo air, renang artistik, open water swimming (renang perairan terbuka), dan loncat indah untuk SEA Games 2025 Thailand di Stadion Akuatik GBK, Senayan, Jakarta pada Sabtu (29/11/2025). (Liputan6.com/Melinda Indrasari)

Dalam pemaparannya, Coach Wisnu Wardhana menjelaskan bahwa komposisi atlet renang Indonesia mengalami perubahan signifikan sejak SEA Games 2021. Saat itu, mayoritas skuad masih diisi atlet senior demi mengejar hasil cepat.

Namun, strategi tersebut perlahan diubah. Pada SEA Games Kamboja 2023, komposisi mulai seimbang antara junior dan senior. Kini, pada SEA Games terbaru, sekitar 85 persen atlet yang diturunkan merupakan atlet muda.

Langkah ini mulai menunjukkan hasil. Munculnya nama-nama muda seperti Masniari menjadi bukti bahwa regenerasi yang direncanakan dengan matang mampu menghasilkan prestasi, sekaligus memberi jam terbang berharga bagi masa depan.

 


Mental dan Pengalaman Jadi Pembeda di Level Internasional

Atlet renang putri Indonesia, Masniari Wolf, kembali mengharumkan nama Tanah Air di SEA Games 2025 Thailand. Ia meraih medali emas pada final 50m gaya punggung putri dengan catatan waktu 28,80 detik pada Kamis (11/12/2025) lalu. (Dok. PB Akuatik Indonesia)

Selain faktor teknik dan fisik, Wisnu Wardhana menekankan pentingnya mentalitas dan pengalaman bertanding. Ia menilai perbedaan performa atlet di ajang multi event kerap ditentukan oleh kesiapan menghadapi tekanan, bukan semata kemampuan renang.

“Pengalaman itu mahal harganya, tak ternilai. Jam terbang di kompetisi internasional sangat menentukan ketika atlet berada di momen krusial seperti SEA Games,” ujarnya.

Pendekatan personal pun diterapkan dalam pelatnas. Setiap atlet memiliki cara berbeda dalam mengelola tekanan, mulai dari ritual sebelum lomba hingga komunikasi intensif dengan pelatih. Tujuannya satu, memastikan atlet tampil lepas dan maksimal saat bertanding.

 


Target Bertahap Menuju Asian Games dan Olimpiade

Aksi kontingen Indonesia pada cabang olahraga renang SEA Games 2025. (Bola.com/Dok. PB Akuatik)

Pelatnas renang Indonesia tidak menutup mata terhadap peta kekuatan Asia dan dunia. Wisnuardani menegaskan bahwa Indonesia masih dalam tahap berkembang, terutama jika dibandingkan negara-negara mapan di level Asia.

Karena itu, target disusun secara realistis dan bertahap. SEA Games menjadi pijakan awal, disusul peningkatan performa di Asian Games, lalu berlanjut ke kualifikasi Olimpiade 2028 dan persiapan jangka panjang menuju Olimpiade Brisbane 2032.

Pendekatan ini diyakini lebih sehat dan berkelanjutan dibandingkan memaksakan target besar tanpa fondasi yang kuat.

 


Subcabang Aquatik Lain Mulai Diperkuat

Tak hanya fokus pada renang, Pelatnas Aquatik Indonesia juga mulai memberi perhatian serius pada subcabang lain seperti polo air, loncat indah, renang artistik, dan renang perairan terbuka.

Menurut Wisnu Wardhana, subcabang ini memiliki potensi kontribusi medali, namun membutuhkan durasi pembinaan yang lebih panjang dan konsisten. Ia mendorong agar pelatnas untuk subcabang tersebut tidak bersifat jangka pendek agar hasilnya lebih optimal.

Langkah ini sekaligus menunjukkan arah pembinaan aquatik yang lebih holistik, sejalan dengan tuntutan persaingan regional yang semakin ketat.

 


Tantangan Regional Kian Berat

Asia Tenggara kini bukan lagi medan yang mudah. Negara seperti Singapura, Thailand, dan Vietnam terus melahirkan atlet junior berkualitas dengan program pembinaan agresif.

Kondisi tersebut menjadi pengingat agar Indonesia tidak terlena dengan capaian saat ini. Regenerasi, pembinaan mental, dan persiapan jangka panjang menjadi kunci agar prestasi renang Indonesia tetap relevan dan kompetitif di masa depan.

Jika strategi ini berjalan konsisten, optimisme menuju prestasi lebih tinggi di Asian Games hingga Olimpiade bukan lagi sekadar mimpi.

Berita Terkait