Carragher Kembali Disorot, Komentar soal Wasit AFCON Picu Amarah Publik Afrika

Jamie Carragher kembali berada di tengah pusaran kontroversi. Mantan bek Liverpool itu menuai kecaman luas usai melontarkan komentar sensitif terkait Piala Afrika atau AFCON 2025, tak lama setelah Senegal memastikan gelar juara lewat kemenangan tipis 1-0 atas Maroko di partai final.

BolaCom | Gregah NurikhsaniDiterbitkan 21 Januari 2026, 20:15 WIB
Jamie Carragher. Semasa aktif bermain, Jamie Carrgaher hanya bermain untuk satu tim sepanjang kariernya, yaitu bersama Liverpool mulai 1996/1997 hingga 2012/2013. Ia total tampil dalam 737 laga bersama Liverpool di semua ajang dengan torehan 4 gol dan 18 assist. Usai pensiun, ia terjun sebagai komentator dan pundit di jaringan televisi Sky Sports mulai musim 2013/2014 bergabung bersama Grame Souness, Gary Neville dan Jamie Redknapp. Pada Juli 2020 ia melebarkan sayapnya ke jaringan televisi CBS Sports sebagai bagian dari tim yang mengulas khusus Liga Champions. (AFP/Pool/Peter Powell)

Bola.com, Jakarta - Jamie Carragher kembali berada di tengah pusaran kontroversi. Mantan bek Liverpool itu menuai kecaman luas usai melontarkan komentar sensitif terkait Piala Afrika atau AFCON 2025, tak lama setelah Senegal memastikan gelar juara lewat kemenangan tipis 1-0 atas Maroko di partai final.

Ini bukan kali pertama Carragher menuai reaksi keras soal turnamen antarnegeri Afrika tersebut. Tahun lalu, analis Sky Sports itu sudah dikritik habis-habisan setelah menyiratkan bahwa AFCON bukanlah ajang bergengsi setara turnamen besar lainnya.

Advertisement

Situasi final AFCON 2025 yang sarat drama justru membuat pandangan Carragher kembali mencuat. Laga puncak yang diwarnai kontroversi keputusan wasit, penundaan pertandingan, hingga protes keras dari pemain Senegal menjadi latar panas diskursus publik.

Di tengah perdebatan soal kualitas kepemimpinan wasit, komentar Carragher dinilai banyak pihak terlalu menyederhanakan persoalan, bahkan dianggap merendahkan sepak bola Afrika.

Reaksi keras pun bermunculan, terutama setelah Thierry Henry memberikan pandangan yang jauh lebih bernuansa dan menenangkan dalam diskusi yang sama.

 


Final AFCON Sarat Drama dan Kontroversi

Idrissa Gueye dari Senegal meminta para pemain untuk meninggalkan lapangan selama pertandingan final Piala Afrika antara Senegal dan Maroko, di Rabat, Maroko, Senin (19-1-2026) dini hari WIB. (AP Photo/Mosa'ab Elshamy)

Final AFCON 2025 antara Senegal dan Maroko berlangsung penuh tensi. Maroko mendapat hadiah penalti kontroversial di masa tambahan waktu, hanya beberapa menit setelah gol Senegal dianulir wasit.

Keputusan tersebut memicu kemarahan kubu Senegal. Pelatih Pape Thiaw bahkan sempat memerintahkan para pemainnya meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes. Pertandingan tertunda hampir 20 menit sebelum Sadio Mane turun tangan membujuk rekan-rekannya kembali bertanding.

Momen krusial terjadi saat Brahim Diaz gagal mengeksekusi penalti. Senegal pun mempertahankan gelar juara yang mereka raih pada edisi 2021, namun sorotan publik justru tertuju pada kekacauan yang menutupi laga puncak tersebut.

 


Komentar Carragher Picu Polemik Baru

Penyerang Senegal bernomor punggung 10, Sadio Mane, mengangkat trofi saat merayakan kemenangan bersama rekan-rekan setimnya setelah memenangkan pertandingan final Piala Afrika (CAN) 2025 melawan Maroko di Stadion Pangeran Moulay Abdellah di Rabat, Senin (19-1-2026) dini hari WIB. (SEBASTIEN BOZON/AFP)

Diskusi soal kualitas wasit AFCON sebenarnya lebih dulu diangkat Thierry Henry dalam acara CBS Sports Golazo. Legenda Prancis itu mengkritisi standar kepemimpinan wasit, namun menekankan bahwa masalah tersebut bukan sepenuhnya kesalahan individu wasit Afrika.

“Para wasit tidak berada di level pertunjukannya, tetapi ini bukan kesalahan mereka. Ini soal sistem dan sumber daya yang tersedia untuk melatih mereka,” ujar Henry.

Namun Carragher kemudian melontarkan pernyataan yang langsung memicu polemik. Ia menyarankan agar AFCON mempertimbangkan menggunakan wasit elite dari Eropa.

“Kalau bicara soal wasit, apakah tidak mungkin mendatangkan wasit-wasit top Eropa untuk memimpin pertandingan AFCON?” ucap Carragher.

Pernyataan tersebut langsung ditanggapi tegas oleh Henry.

 


Thierry Henry Tegas Membela Wasit Afrika

Pemain Senegal Iliman Ndiaye (kiri) berebut bola dengan pemain Maroko Brahim Diaz di final AFCON/Piala Afrika antara Senegal vs Maroko di Rabat, Maroko, Minggu, 18 Januari 2026. (AP Photo/Mosa'ab Elshamy)

Henry dengan cepat menolak gagasan tersebut. Ia menilai AFCON harus tetap dipimpin oleh wasit Afrika, sembari menekankan pentingnya peningkatan kualitas lewat pelatihan, bukan penggantian.

“Wasit Afrika harus diberi kesempatan. Ini turnamen Afrika, jadi harus dipimpin oleh wasit Afrika,” tegas Henry.

“Saya berbicara soal mengirim orang untuk meningkatkan level mereka. Karena memang terlihat ada lebih banyak kesalahan. Tapi orang sering menyalahkan turnamennya. Ini bukan salah turnamen, bukan salah tim, bukan juga salah para pemain.”

Respons Henry tersebut mendapat pujian luas karena dianggap adil, solutif, dan menghormati konteks sepak bola Afrika.

 


Media Sosial Murka, Carragher Dikecam

Sementara itu, Carragher kembali menjadi sasaran kritik tajam di media sosial. Banyak penggemar menilai komentarnya mencerminkan sudut pandang sempit dan bias terhadap sepak bola Afrika.

“Lihat badut itu. Dia ingin wasit Eropa memimpin AFCON. Untung Thierry Henry langsung menghentikannya,” tulis seorang pengguna X.

Pengguna lain menambahkan, “Pandangan Jamie Carragher tentang AFCON benar-benar memalukan. Mengusulkan wasit Eropa untuk turnamen terbesar Afrika adalah ide yang menyedihkan.”

Ada pula yang menyoroti standar ganda. “Saya tak pernah dengar dia minta wasit Afrika atau Amerika Latin memimpin Euro ketika terjadi kesalahan fatal. Komentar Carragher benar-benar absurd,” tulis netizen lainnya.

Di tengah badai kritik tersebut, nama Thierry Henry justru mendapat sanjungan luas. Banyak pihak menilai mantan striker Arsenal itu menunjukkan kelas dan pemahaman mendalam soal persoalan struktural dalam sepak bola global.

Kontroversi ini kembali menegaskan bahwa AFCON bukan sekadar turnamen, melainkan simbol kebanggaan dan kedaulatan sepak bola Afrika yang tak bisa dipandang sebelah mata.

Berita Terkait