Pemain Diaspora Ditarik ke Liga Domestik, Level Jadi Sekelas Lokal?

Para pemain diaspora yang dinaturalisasi untuk kepentingan Timnas Indonesia ini berbondong-bondong untuk pulang ke tanah leluhur. Apa efeknya?

BolaCom | Muhammad Adi YaksaGatot SumitroDiterbitkan 06 Februari 2026, 19:00 WIB
Pemain Timnas Indonesia, Shayne Pattynama (kiri), Thom Haye (tengah), dan Jordi Amat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sebelum laga uji coba melawan Tanzania di Stadion Madya, Senayan, Jakarta, Minggu (02/06/2024). (Bola.com/Abdul Aziz)

Bola.com, Jakarta - Satu per satu pemain naturalisasi Timnas Indonesia memilih berkarier di Super League 2025/2026. Dalam hitungan setengah musim, jumlahnya telah mencapai sembilan pemain. 

Sejak Erick Thohir menjadi orang nomor satu di sepak bola Indonesia pada Februari 2023, PSSI telah menaturalisasi 21 pemain untuk kepentingan Timnas Indonesia putra, baik senior maupun level usia.

Advertisement

Mulai awal musim ini, sembilan di antaranya memutuskan untuk menanggalkan status abroad dengan berlabuh ke Liga Indonesia, kompetisi dengan peringkat ke-25 se-Asia versi AFC Men's Club Competition Ranking 2024/2025.

Lima pemain datang di musim panas 2025. Jordi Amat dari Johor Darul Ta'zim (Malaysia) ke Persija Jakarta, Rafael Struick dari Brisbane Roar (Australia) ke Dewa United, Jens Raven dari FC Dordrecht (Belanda) ke Bali United, serta Thom Haye dari Almere City dan Eliano Reijnders dari PEC Zwolle (Belanda) ke Persib Bandung.

Pada pertengahan musim, Shayne Pattynama dari Buriram United (Thailand) ke Persija dan Dion Markx dari TOP Oss (Belanda) ke Persib ikut-ikutan merapat ke kompetisi yang kerap bergonta-ganti titel tersebut.

Selanjutnya striker FC Volendam di Eredivisie 2025/2026 atau kasta teratas Liga Belanda, Mauro Zijlstra, telah sepakat dengan kontrak dua setengah tahun bersama Persija. Yang terbaru Ivar Jenner berpisah dengan FC Utrecht dan merapat ke Dewa United. 

Mengapa para pemain diaspora yang dinaturalisasi untuk kepentingan Timnas Indonesia ini berbondong-bondong untuk pulang ke tanah leluhur?

 

 


Hukum yang Mengatur Naturalisasi Pemain

Butuh waktu lebih dari tiga bulan bagi Rafael Struick mencetak gol untuk Dewa United. Kurun waktu yang tentu saja tidak sebentar untuk ukuran striker. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Menaturalisasi pemain untuk Timnas Indonesia diatur oleh Undang-Undang (UU) Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia Bab III Syarat dan Tata Cara Memperoleh Kewarganegaraan Republik Indonesia Pasal 8 yang berisikan, "Kewarganegaraan Republik Indonesia dapat juga diperoleh melalui pewarganegaraan".

Aturan itu diperjelas oleh Pasal 9 huruf b yang bunyinya, "Pada waktu mengajukan permohonan sudah bertempat tinggal di wilayah Negara Republik Indonesia paling singkat 5 (lima) tahun berturut-turut atau paling singkat 10 (sepuluh) tahun tidak berturut-turut".

Selain itu, ada juga Pasal 20 yang muatannya yaitu, "Orang asing yang telah berjasa kepada Negara Republik Indonesia atau dengan alasan kepentingan negara dapat diberi Kewarganegaraan Republik Indonesia oleh Presiden setelah memperoleh pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, kecuali dengan pemberian kewarganegaraan tersebut mengakibatkan yang bersangkutan berkewarganegaraan ganda".

Mayoritas pemain yang dinaturalisasi oleh PSSI memakai jalur Pasal 20 karena kebanyakan tidak memenuhi syarat untuk memakai Pasal 9.

Pasal 20 sering juga disebut sebagai prosedur "istimewa" karena pemain tersebut dinaturalisasi untuk kepentingan Timnas Indonesia.

 


Kekecewaan Pencinta Sepak Bola Indonesia

Thom Haye dan Eliano Reijnders menjalani latihan perdana di Persib Bandung. (ILeague.id)

Tidak sedikit pencinta sepak bola Indonesia yang kecewa dengan pilihan pemain naturalisasi untuk berkarier di Super League. Beberapa narasi yang beredar adalah karena pemain itu "telah mendapatkan keistimewaan ketika dinaturalisasi" dan "penurunan karier".

Kenapa dianggap penurunan karier? Sebab, level BRI Super League dianggap di bawah kompetisi sebelumnya tempat pemain naturalisasi bermain.

Misalnya Thom Haye dan Eliano Reijnders yang berkancah di Eredivisie serta Shayne Pattynama di Thai League 1 atau divisi teratas Liga Thailand.

Pengamat sepak bola asal Makassar, Tony Ho, sepakat dengan kekhawatiran ancaman merosotnya kualitas pemain naturalisasi jika memutuskan mengadu nasib di Super League.

"Tujuan naturalisasi pemain untuk kepentingan Timnas Indonesia. Kita masif melakukan itu karena mereka bermain di kompetisi Eropa yang mutunya bagus sehingga ini bisa mengangkat prestasi Timnas Indonesia. Kalau mereka sekarang berkarier di Tanah Air, saya kira malah menurunkan kualitas mereka," ujar mantan pelatih Persipura Jayapura dan PSM Makassar itu.

Tony Ho juga menyoroti peran PSSI sebagai regulator dan I League selaku operator yang dianggapnya seharusnya bisa mendorong klub-klub Super League untuk mendatangkan pemain asing dengan level tinggi daripada membajak pemain naturalisasi.

"PSSI dan I.League kalau mau mengangkat ranking klub di level internasional, seharusnya klub-klub merekrut pemain asing grade A. Bukan menarik pemain naturalisasi pulang ke Indonesia," ucap Tony Ho.

 

 


Salut dengan Marselino Ferdinan hingga Elkan Baggott

Marselino Ferdinan bersama jersey AS Trencin. (X/AS Trencin)

Tony Ho lebih respek dengan pemain diaspora Indonesia seperti Marselino Ferdinan dan Elkan Baggott yang bersikukuh untuk tetap berjuang di luar negeri, meski kenyataannya masih sulit bersaing dan minim menit bermain.

Saat ini, Marselino sedang membela AS Trencin di Liga Slovakia pinjaman dari Oxford United di kasta kedua Liga Inggris. Kondisinya sedang cedera. Sementara, Elkan Baggott masih bisa bertahan di tengah persaingan berat di Ipswich Town, tim yang satu kompetisi dengan Oxford.

"Saya lebih salut dengan Marselino Ferdinan dan Elkan Baggott. Mereka terus berjuang di Eropa, meski peluang jadi pemain inti sangat berat. Kalau pemain naturalisasi yang main di Super League, berarti mereka tak laku lagi di kompetisi Eropa. Dengan popularitasnya, pemain naturalisasi akan dengan mudah masuk starting eleven di kompetisi Indonesia,” ucapnya.

Tony Ho menilai bahwa rata-rata usia pemain naturalisasi masih muda dan berada di usia keemasannya sehingga kehadirannya di Super League lambat laun mengurangi kesempatan pemain lokal untuk berkembang.

Ditambah dengan regulasi sebelas pemain asing yang dibuat PSSI, walaupun yang boleh bermain maksimal tujuh dan dua di bangku cadangan, eksistensi pemain lokal dalam starting eleven maupun bangku cadangan kian tergerus.

"Bagi klub, lebih pragmatis dan cepat menghasilkan finansial bila merekrut pemain naturalisasi daripada mengorbitkan pemain lokal. Seharusnya klub lah yang punya tanggung jawab melahirkan pemain muda dari akademi mereka sehingga akan muncul banyak pemain lokal untuk Timnas Indonesia," tutur Tony Ho.

Namun, Tony Ho tidak menutup mata bahwa industri sepak bola Indonesia menuntut tim-tim Super League berlomba-lomba untuk merekrut pemain naturalisasi demi meningkatkan nilai di mata sponsor dan suporter.

"Yang dilakukan klub Super League ini hukum dagang. Klub sebagai barang dagangan harus bisa dikemas menarik untuk menghasilkan pemasukan besar. Secara bisnis, pemain naturalisasi punya nilai jual tinggi di mata sponsor. Suporter juga makin tertarik datang ke stadion," katanya.

 

 


Berkompetisi di Indonesia Jadi Zona Nyaman

Penyerang Bali United Jens Raven memasuki lapangan Stadion Dipta saat menghadapi Persik Kediri pada BRI Super League 2025/2026. (Alit Binawan/Bola.com)

Di persaingan Super League yang sangat ketat, pelatih tetap realistis hanya akan menurunkan pemain terbaik yang mampu mengangkat performa tim. Beberapa pemain naturalisasi pun kesulitan mendapatkan menit bermain. 

Contohnya Rafael Struick dan Jens Raven yang lebih dulu datang sejak putaran pertama di Super League minim menit bermain di Dewa United dan Bali United.

Rafael Struick tampil selama 325 menit pada 10 laga Super League dan 67 menit di pentas AFC Challenge League dengan sebutir gol. Sementara Jens Raven bermain sebanyak 195 menit dari 14 pertandingan dengan mencetak satu gol dan satu assist.

Padahal ketika kali pertama menginjakkan kaki di Tanah Air manajemen dan pelatih Dewa United dan Bali United memuji potensi Rafael Struick dan Jens Raven yang akan ditingkatkan lagi.

Apakah Mauro Zijlstra, Dion Markx, dan Ivar Jenner akan bernasib seperti Rafael Struick serta Jens Raven?

"Apakah pemain heritage muda Timnas Indonesia nanti dapat banyak menit bermain di Super League tetap tergantung pelatih dan kebutuhan tim. Peluang bermain tetap ada, karena Super League ada regulasi tiap klub harus menampilkan pemain U-22. Apalagi mereka tercatat bukan pemain asing," kata pelatih asal Malaysia, Raja Isa Raja Akram Syah.

Dari kacamata positif, pengamat sepak bola asal Malaysia ini fenomena ini bisa membantu pemasaran sepak bola Indonesia. "Nama mereka sudah populer di Timnas Indonesia. Faktor popularitas ini dimanfaatkan klub untuk menarik animo penonton dan sponsor. Ini wajar dalam industri sepak bola modern," ucapnya.

Raja Isa menambahkan seminim apa pun peluang dapat menit bermain di Super League dinilai masih lebih baik daripada mereka tetap berkarier di Eropa.

"Saya tak tahu program dan rencana klub serta PSSI ke depan dengan memulangkan pemain naturalisasi ini di kompetisi Indonesia. Tapi saya kira mereka akan berada di zona nyaman. Nyaman dapat kesempatan bermain dan, mungkin juga nyaman karena dapat kontrak yang lebih bagus. Ini hal yang manusiawi," jelasnya.

Jika berkaca dari jam terbang Rafael Struick dan Jens Raven, tampaknya tak mudah bagi trio muda naturalisasi Timnas Indonesia merasakan banyak menit tampil.

"Persib dan Persija punya banyak pemain U-22. Persaingan di antara pemain muda inilah membuat peluang para naturalisasi minim bermain. Saya amati pelatih Dewa United dan Bali United sangat obyektif saat memilih pemain terbaiknya. Tak ada perbedaan pemain lokal atau naturalisasi. Jadi pemain naturalisasi muda Timnas Indonesia harus kerja keras dan siap kecewa jika tak sering tampil," ujarnya.

 

 


PSSI Tidak Mau Ikut Campur

Anggota Exco PSSI, Arya Sinulingga memberikan keterangan saat acara Refleksi 93 Tahun PSSI di GBK Arena, Senayan, Jakarta, Senin (17/04/2023). (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

Lantas, bagaimana sikap PSSI dengan fenomena pemain naturalisasi yang memilih untuk bermain di Super League? Federasi sepak bola Indonesia itu mengklaim tidak bisa campur tangan karena merasa "bukan pihak yang menggaji mereka".

"Yang seperti kami sampaikan. Pertama, ini pilihan mereka. Kami tidak bisa menahan mereka. Kami tidak menggaji mereka. Mungkin beda kalau kami yang menggaji mereka, pasti bisa diarahkan. Tapi, ini soal pilihan mereka dan hak asasi mereka juga, kami tidak bisa menahan," imbuh Arya Sinulingga, anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI.

Pria yang juga tangan kanan Erick Thohir tersebut menduga alasan pemain naturalisasi tertarik berkiprah di Super League karena level kompetisi yang ia nilai telah mengalami peningkatan.

"Mungkin karena banyak pemain naturalisasi datang, kualitas liganya naik sehingga membuat pemain-pemain naturalisasi mau datang. Tidak hanya pemain naturalisasi, banyak juga pemain top yang mau datang karena kualitas kita," papar Arya.

 

 


Suara Shayne Pattynama

Shayne Pattynama (tengah) tampak santai dalam menjalani sesi latihan Persija Jakarta yang diadakan di Persija Training Ground, Depok, pada Senin (2/2/2026) sore WIB. (Bola.com/Nur Iman Ali)

Shayne Pattynama memahami ketidakpuasan berbagai pihak dengan langkah yang diambil pemain naturalisasi untuk berkancah di Super League. Namun, ia menyebut bahwa kualitas kompetisi dan sepak bola di Tanah Air terus berprogres.

"Kritik selalu ada, dan saya memahaminya. Banyak orang ingin pemain bermain di liga terbaik. Namun, kita juga harus memahami bahwa sepak bola Indonesia sedang berkembang. Liganya berkembang, tim nasionalnya juga berkembang," ucap Shayne.

"Ketika orang mengatakan hal-hal negatif tentang Liga Indonesia, saya merasa itu sama saja merendahkan negara. Banyak usaha telah dilakukan oleh federasi, presiden federasi, liga, dan semua pihak untuk membawa sepak bola Indonesia ke level yang lebih tinggi."

"Jika ingin tim nasional berkembang, liganya juga harus berkembang. Saya ingin membawa kualitas dan pengalaman ke kompetisi ini. Kita harus saling membantu untuk tumbuh, dengan kritik yang seimbang, bukan hanya negatif," imbuhnya.

 

 


Bagaimana Reaksi John Herdman?

Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, memberi keterangan saat acara perkenalan pelatih baru Timnas Indonesia di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Selasa pagi (13/1/2026). (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, juga sempat membagikan pandangannya mengenai banyaknya pemain naturalisasi yang justru bermain di Super League. Di luar perkiraan, arsitek Timnas Kanada di Piala Dunia 2022 itu tidak menentangnya.

"Saya pikir itu penting. Saya pikir penting bahwa kami bisa mengakses pemain kami dari Eropa yang memberikan tampilan, rasa, dan standar yang berbeda. Tetapi, bagi para pemain penting untuk terbiasa dengan kondisi di sini," ucap John Herdman.

"Kondisi di sini sangat unik, panasnya, kelembapannya, dan saya pikir bagi pemain Eropa untuk berlatih di sini secara konsisten itu sangatlah penting."

"Tingkat toleransi fisik yang bisa mereka bangun, minggu demi minggu, itu memberi kami kekuatan dan memberi kedalaman skuad yang menurut saya kami butuhkan," kata juru taktik asal Inggris tersebut.

Efek dari pilihan para pemain naturalisasi itu dapat terlihat ketika dipanggil ke Timnas Indonesia dan menghadapi lawan yang di atas kertas lebih tangguh, misalnya Timnas Bulgaria di FIFA Series Maret, tahun ini.

Lepas dari perdebatan yang terjadi, realita yang tersaji nilai pasar di bursa transfer para pemain naturalisasi merosot imbas keputusan mereka bermain di kompetisi negara kita. Semoga saja, ini tidak berdampak pada performa mereka di lapangan, karena yang rugi tentunya Timnas Indonesia.

Tag Terkait

Berita Terkait