Di Tengah Polemik Israel, Gianni Infantino Buka Opsi Ubah Aturan FIFA

Gianni Infantino mengisyaratkan perubahan aturan FIFA di tengah desakan larangan Israel.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 03 Februari 2026, 13:30 WIB
Presiden FIFA, Gianni Infantino, berbicara saat pengumuman jadwal pertandingan resmi Piala Dunia FIFA 2026 di Washington, DC, pada 6 Desember 2025. (Roberto SCHMIDT/AFP)

Bola.com, Jakarta - Presiden FIFA, Gianni Infantino, memberi sinyal adanya kemungkinan perubahan besar dalam aturan organisasi sepak bola dunia itu, menyusul desakan agar Israel dilarang tampil di kompetisi internasional.

Isu tersebut kembali mengemuka setelah konflik di Palestina. UEFA sempat dijadwalkan membahas potensi larangan terhadap Israel melalui pemungutan suara di tingkat Komite Eksekutif pada September lalu.

Advertisement

Namun, proses itu terhenti setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan proposal perdamaian yang mencakup gencatan senjata antara Israel dan Hamas.

Meski begitu, laporan mendalam The Athletic menyebutkan bahwa diskusi internal tetap berlanjut setelah itu. Satu di antara poin pembahasan utama adalah "mekanisme yang memungkinkan sebuah larangan diterapkan".

Sejumlah negara secara terbuka mendukung seruan agar Israel dilarang tampil. Federasi Sepak Bola Irlandia (FAI), misalnya, secara mayoritas menyetujui pengajuan mosi untuk menskors Israel dari seluruh kompetisi UEFA.


Rusia Masih Dibekukan

Timnas Rusia lolos ke Piala Eropa 2022 setelah pesta gol atas Siprus di penyisihan Grup I di Neo GSP, Nicosia Levkosia (13/10/2019). (AFP)

Di sisi lain, Rusia hingga kini masih dibekukan dari kompetisi internasional akibat invasi ke Ukraina pada 2022. Namun, Infantino justru menilai sanksi tersebut seharusnya diakhiri.

"Kita harus melakukannya," kata Infantino dalam wawancara dengan Sky News.

"Pasti, karena larangan ini tidak menghasilkan apa-apa, selain menciptakan lebih banyak frustrasi dan kebencian," imbuhnya.

Presiden FIFA asal Swiss itu menilai memberi kesempatan bagi pemain muda Rusia untuk kembali bertanding di Eropa justru bisa membawa dampak positif.

Menurutnya, "memungkinkan anak perempuan dan laki-laki dari Rusia bermain sepak bola di berbagai belahan Eropa akan membantu".


Perlu Perubahan

Presiden FIFA Gianni Infantino berfoto selfie dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum, dan Perdana Menteri Kanada Mark Carney dalam acara drawing Piala Dunia 2026, Sabtu (6/12/2025). (AP Photo/Evan Vucci)

Saat menyinggung Israel, Infantino menyebut penerapan sanksi setara seperti yang dialami Rusia sebagai sebuah "kekalahan". Ia bahkan mengisyaratkan perlunya perubahan aturan di tubuh FIFA.

"Kita seharusnya mengeksplorasi perubahan aturan," ujarnya.

"Aturan itu perlu ditegaskan dalam statuta bahwa kita sebenarnya tidak boleh pernah melarang sebuah negara bermain sepak bola karena tindakan para pemimpin politiknya. Seseorang harus menjaga agar hubungan tetap terbuka," tutur Infantino.

Dalam wawancara yang luas tersebut, Infantino juga membahas berbagai isu lain, termasuk wacana boikot Piala Dunia 2026 oleh sejumlah negara di tengah polemik yang melibatkan Donald Trump dan otoritas imigrasi AS, ICE.

Menjawab isu tersebut, pria berusia 55 tahun itu menekankan peran sepak bola sebagai ruang pemersatu.

"Saya pikir, di dunia kita yang terbelah dan penuh agresi ini, kita membutuhkan momen di mana orang-orang bisa datang, bertemu, dan berkumpul lewat satu gairah, yaitu sepak bola," katanya.


Dekat dengan Trump

(Kiri/Kanan) Presiden AS, Donald Trump, memperhatikan saat menerima Hadiah Perdamaian FIFA (FIFA Peace Award) dari Presiden FIFA, Gianni Infantino, selama pengundian Piala Dunia 2026 yang berlangsung di AS, Kanada, dan Meksiko, di Kennedy Center, Washington, DC, pada 5 Desember 2025. (Brendan SMIALOWSKI/AFP)

Infantino diketahui bekerja cukup dekat dengan Trump menjelang Piala Dunia 2026, yang akan digelar di Amerika Serikat dengan total 74 pertandingan, termasuk laga final.

Pada acara undian, Infantino bahkan menyerahkan penghargaan perdana FIFA Peace Prize kepada Trump, sebuah langkah yang memicu kontroversi luas.

Trump menerima penghargaan tersebut bersama sebuah medali dan sertifikat sebagai bentuk apresiasi atas "tindakan luar biasa dan istimewa demi perdamaian". Infantino tetap membela keputusannya menunjuk Trump sebagai penerima pertama penghargaan itu.

Meski mengakui adanya reaksi keras, Infatino menegaskan Trump memiliki peran penting dalam upaya penyelesaian konflik dan penyelamatan nyawa.

"Bukan hanya Gianni Infantino yang mengatakan itu. Ada juga peraih Nobel Perdamaian yang menyampaikan hal serupa," kilah Infantino.

 

Sumber: Sportbible

Berita Terkait