Presiden FIFA Minta Maaf atas Lelucon Murahan tentang Suporter Inggris

Presiden FIFA, Gianni Infantino, meminta maaf atas apa yang disebut sebagai "lelucon murahan" tentang penangkapan di antara warga Inggris yang menghadiri Piala Dunia 2022.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 03 Februari 2026, 21:00 WIB
Presiden FIFA, Gianni Infantino. (Bola.com/Dok.FIFA).

Bola.com, Jakarta - Presiden FIFA, Gianni Infantino, akhirnya menyampaikan permintaan maaf atas ucapannya yang dinilai sebagai "lelucon murahan" terkait suporter sepak bola Inggris.

Komentar tersebut disampaikan Infantino dalam pidatonya di World Economic Forum, bulan lalu.

Advertisement

Dalam kesempatan itu, ia tidak hanya menyinggung soal keamanan turnamen, tetapi juga membela kebijakan harga tiket untuk Piala Dunia 2026 di Amerika Utara.

Saat mengenang Piala Dunia 2022 di Qatar, Infantino mengatakan turnamen tersebut berjalan hampir tanpa insiden. Ia bahkan melontarkan pernyataan yang kemudian menuai kritik luas.

"Ketika bola mulai bergulir dan keajaiban dimulai, hampir tidak ada insiden. Untuk pertama kalinya dalam sejarah juga, tidak ada satu pun warga Britania yang ditangkap selama Piala Dunia. Bayangkan! Ini sesuatu yang benar-benar, benar-benar istimewa," ujar Infantino, ketika itu.

Ucapan tersebut langsung mendapat respons keras dari Football Supporters' Association (FSA). Dalam pernyataannya, FSA menyindir balik Infantino.

"Selagi kami sudah mendapatkan perhatian Tuan Infantino, kami ingin mengingatkan bahwa alih-alih membuat lelucon murahan tentang para suporter kami, sebaiknya ia fokus membuat harga tiket yang murah," tulis FSA.


Minta Maaf kepada Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara

Presiden FIFA, Gianni Infantino, berbicara saat pengumuman jadwal pertandingan resmi Piala Dunia FIFA 2026 di Washington, DC, pada 6 Desember 2025. (Roberto SCHMIDT/AFP)

Desakan agar Infantino meminta maaf akhirnya muncul dalam sebuah wawancara dengan program "The World with Yalda" Hakim di Sky News.

Dalam wawancara itu, Infantino secara khusus menyebut Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara, wilayah yang secara historis memang jarang terlibat penangkapan di turnamen besar, berbeda dengan Inggris.

"Pertama-tama, saya menggunakan kata 'Brit', bahwa tidak ada warga Britania yang ditangkap di Piala Dunia," kata Infantino.

"Dengan begitu, saya telah menyinggung orang-orang Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara, yang kepada merekalah saya harus terlebih dahulu meminta maaf," katanya.

Ia menegaskan bahwa ucapannya sama sekali tidak dimaksudkan untuk merendahkan, melainkan sebagai komentar ringan guna menggambarkan suasana Piala Dunia 2022 di Qatar.

"Itu dimaksudkan sebagai pernyataan ringan untuk menunjukkan bahwa Piala Dunia di Qatar adalah sebuah perayaan, sebuah ajang yang damai, dan semua orang datang bersama dalam suasana yang damai," lanjutnya.


Akui Keliru

Presiden FIFA, Gianni Infantino, bereaksi saat resepsi dengan para pemimpin bisnis di sela-sela pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos pada 21 Januari 2026. Forum Ekonomi Dunia berlangsung di Davos dari 19 Januari hingga 23 Januari 2026. (Mandel NGAN/AFP)

Infantino juga menambahkan bahwa melihat suporter Inggris datang dengan damai, menikmati pertandingan, dan memberikan dukungan adalah hal yang patut diapresiasi.

"Memiliki suporter Inggris, suporter sejati, yang datang secara damai, menikmati pertandingan dan memberi dukungan, adalah sesuatu yang fantastis," ucapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Infantino mengakui kekeliruannya dalam menyebut para pelaku kerusuhan sebagai "fans". Menurutnya, orang-orang yang datang ke pertandingan hanya untuk membuat kerusuhan seharusnya disebut sebagai kriminal.

Ia juga memuji langkah-langkah yang telah diambil Inggris dalam memerangi kekerasan terkait sepak bola, serta menegaskan dirinya sebagai "penggemar besar sepak bola Inggris".

 

Sumber: Telegraph

Berita Terkait