Ujian Bernama Fulham, Manchester United Lulus Tipis di Era Michael Carrick

Manchester United berkembang, tetapi tidak sepenuhnya stabil. Mereka tampil meyakinkan di satu fase, goyah di fase lain, lalu bangkit kembali di momen penentuan.

BolaCom | Gregah NurikhsaniDiterbitkan 04 Februari 2026, 07:30 WIB
Legenda lini tengah Old Trafford itu akan memimpin The Red Devils hingga akhir musim ini. Tampak dalam foto, Michael Carrick saat masih menjadi pelatih sementara Manchester United memberi isyarat di pinggir lapangan selama pertandingan sepak bola Liga Premier Inggris melawan Arsenal di Old Trafford, Manchester, Inggris barat laut, pada 2 Desember 2021. (Oli SCARFF/AFP)
“Fulham adalah ujian sesungguhnya bagi Michael Carrick.”

Bola.com, Jakarta - Kalimat itu berulang kali muncul dan menggema sepanjang awal masa tugas Carrick sebagai pelatih interim Manchester United. Setelah dua kemenangan mengejutkan atas Manchester City dan Arsenal, laga melawan Fulham dipandang sebagai tolok ukur yang lebih jujur.

Derbi Manchester dan duel kontra Arsenal dianggap cocok dengan karakter serangan balik United. Namun, Fulham menawarkan tantangan berbeda. Mereka datang dengan blok rendah, disiplin bertahan, dan niat jelas untuk membuat frustrasi tuan rumah.

Advertisement

Pertanyaannya sederhana namun krusial. Bagaimana Manchester United bereaksi ketika harus lebih dominan menguasai bola, tetapi tidak diberi ruang di belakang garis pertahanan lawan. Apakah mereka akan goyah atau justru berkembang.

Jawaban itu baru benar-benar terungkap saat peluit panjang dibunyikan di Old Trafford. Manchester United berkembang, tetapi tidak sepenuhnya stabil. Mereka tampil meyakinkan di satu fase, goyah di fase lain, lalu bangkit kembali di momen penentuan.

 


Set Piece Jadi Kunci Awal

Para pemain MU merayakan gol Casemiro ke gawang Fulham dalam lanjutan Liga Inggris 2025/2026 di Old Trafford, Minggu (1/2/2026) malam WIB. (Paul ELLIS / AFP)

Solusi United untuk membongkar pertahanan rapat Fulham datang dari situasi bola mati, sebuah pola yang kerap terlihat di Premier League musim 2025/2026. VAR memang menurunkan keputusan pelanggaran Jorge Cuenca terhadap Matheus Cunha dari penalti menjadi tendangan bebas, tetapi hasil akhirnya tetap menguntungkan tuan rumah.

Bruno Fernandes mengirim umpan melambung yang disambut sundulan Casemiro di tiang jauh. Kombinasi ini bukan hal baru. Sejak awal musim 2022/2023, Fernandes sudah berkali-kali menyuplai gol untuk Casemiro. Keduanya saling memahami kebiasaan dan detail permainan masing-masing.

Kehadiran Kobbie Mainoo di lini tengah, yang kembali dipercaya Carrick, membuat trio Fernandes, Casemiro, dan Mainoo tampil seimbang. Casemiro menjadi pemutus serangan dan penguasa duel udara, Fernandes bertugas sebagai kreator utama, sementara Mainoo berperan sebagai penghubung yang menjaga ritme dan transisi.

 


Fluiditas Serangan yang Mulai Terbentuk

Pemain Manchester United (MU), Patrick Dorgu, berlari merayakan gol yang dicetaknya ke gawang Arsenal pada lanjutan Liga Inggris 2025/2026 di Emirates Stadium, Minggu (26/1/2026) malam WIB. (Mike Egerton/PA via AP)

Kerja sama trio lini tengah itu kembali terlihat pada gol kedua United. Casemiro mengirim umpan tanpa melihat ke arah Cunha, yang kemudian melepaskan tembakan keras menembus atap gawang Bernd Leno.

Selebrasi Cunha yang disusul Bryan Mbeumo dan Amad mencerminkan suasana baru di lini depan United. Di bawah Carrick, rotasi serangan terlihat lebih cair. Penempatan Mbeumo sebagai penyerang tengah memberi dimensi berbeda, terutama dalam permainan kombinasi cepat dan satu-dua sentuhan.

United tetap berbahaya saat transisi, tetapi kini juga lebih fleksibel ketika harus membongkar pertahanan rapat. Tiga laga terakhir menunjukkan para penyerang yang sebelumnya sering tidak terarah mulai menemukan ketajaman.

 


Bertahan Dalam Risiko

Publik Old Trafford kembali bergemuruh 11 menit kemudian. Patrick Dorgu kini yang berhasil mencatatkan namanya di papan skor setelah berhasil memanfaatkan umpan silang Matheus Cunha menjadi gol. (AFP/Darren Staples)

Pendekatan bertahan United di era Carrick juga mengalami perubahan. Tim lebih memilih turun ke blok kompak di area sendiri ketimbang menekan tinggi. Fulham dibiarkan membawa bola hingga mendekati garis tengah, sebelum United melakukan intervensi keras saat situasi mulai berbahaya.

Strategi ini membawa keuntungan sekaligus risiko. Saat berjalan baik, United tampil agresif dalam tekel, blok tembakan, dan pelanggaran taktis di area aman. Namun, ketika timing meleset, Fulham mendapatkan bola mati berbahaya di sekitar kotak penalti.

Risiko itu akhirnya berbuah petaka. Raul Jimenez mencetak gol penalti pada menit ke-85, disusul gol penyama kedudukan Kevin pada menit ke-91. Keunggulan dua gol United lenyap hanya dalam hitungan menit.

Pergantian Casemiro dengan Manuel Ugarte di menit ke-74 membuat United semakin tertekan. Alih-alih menjaga inisiatif, mereka justru bertahan terlalu dalam dan membuka ruang bagi Fulham untuk terus menekan.

 


Sesko Jadi Penyelamat

Ketika laga tampak menuju hasil imbang, satu momen individual mengubah segalanya. Benjamin Sesko melakukan gerakan putar dan tembak di menit ke-94 untuk memastikan tiga poin tetap berada di Old Trafford.

Gol itu bukan sekadar penentu kemenangan, tetapi juga simbol perjalanan United di bawah Carrick. Dalam waktu singkat, ia menunjukkan potensi terbaik timnya sekaligus area yang masih perlu diperbaiki.

Jika Fulham benar-benar merupakan ujian sesungguhnya bagi Carrick, maka Manchester United memang lulus. Namun, nilainya belum sempurna. Lebih tepat disebut lulus dengan nilai pas-pasan, disertai banyak catatan penting untuk perjalanan musim yang masih panjang.

Berita Terkait