Mengapa MU Memilih Tak Terburu-buru Menentukan Manajer

Alasan Manchester United bersabar dalam menentukan sosok manajer permanen.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 06 Februari 2026, 20:00 WIB
Gesture Manajer interim Manchester United, Michael Carrick, pada laga melawan Arsenal di Stadion Emirates, London, Minggu (25/1/2026). Ben Stansall/AFP)

Bola.com, Jakarta - Manchester United memilih bersabar dalam menentukan siapa sosok yang akan memimpin tim musim depan. Meski Michael Carrick langsung mencuri perhatian lewat awal yang impresif, manajemen klub tampaknya tak ingin gegabah mengulang kesalahan masa lalu.

Carrick menjalani periode keduanya sebagai pelatih kepala MU dengan catatan hampir sempurna. Tiga pertandingan pertamanya berujung kemenangan, masing-masing atas Manchester City, Arsenal, dan Fulham.

Advertisement

Hasil itu membawa Setan Merah merangsek ke empat besar klasemen Premier League, membuka peluang kembali tampil di Liga Champions, sebuah situasi yang terasa jauh berbeda dibanding sebulan lalu, ketika banyak pihak khawatir Setan Merah kembali absen dari kompetisi Eropa.

Tak heran mulai muncul suara yang menilai Carrick layak dipermanenkan. Namun, di internal klub, sikap hati-hati masih mendominasi. MU memilih bungkam sejak memecat Ruben Amorim pada 5 Januari lalu.

Dari lingkaran dalam klub, keputusan itu disebut bagian dari komitmen menjalankan "proses yang benar" untuk mengevaluasi semua kandidat yang dinilai layak. Hingga kini, pendekatan tersebut belum berubah.

Ada sejumlah alasan kuat mengapa keputusan soal kursi manajer kemungkinan baru akan diambil dalam waktu yang tidak singkat.

Baca selengkapnya ulasan BBC, berikut ini.


Pelajaran dari era Solskjaer

Karakter Ole Gunnar Solskjaer yang dikenal dekat dengan pemain menjadi pertimbangan utama dirinya masuk dalam radar pelatih pengganti Thomas Tuchel di Bayern Munchen. Ia diharapkan mampu menjalin hubungan baik dengan para pemain Bayern Munchen. Selain itu, ia juga memiliki hubungan yang dekat dengan Direktur Olahraga Bayern Munchen saat ini, Christoph Freund. (AFP/Ian Kington)

Satu di antara bayangan masa lalu yang masih membekas adalah pengalaman bersama Ole Gunnar Solskjaer. Ketika Jose Mourinho dipecat pada Desember 2018, Solskjaer ditunjuk sebagai pelatih interim hingga akhir musim. Harapannya sederhana: membawa suasana positif ke ruang ganti.

Hasil awalnya luar biasa. MU menyapu bersih delapan laga pertama di semua kompetisi, termasuk kemenangan liga di kandang Tottenham dan kemenangan Piala FA atas Arsenal.

Dari 17 pertandingan awal, satu-satunya kekalahan datang saat menjamu Paris Saint-Germain di Liga Champions, hasil yang kemudian dibalikkan secara dramatis tiga pekan kemudian lewat penalti Marcus Rashford di Paris.

Tak lama setelah momen bersejarah itu, Solskjaer diberi kontrak tiga tahun. Namun, kelelahan mulai terasa. Beban kerja ekstra yang diminta sang pelatih berdampak pada performa tim. MU hanya menang dua kali dan kalah delapan kali dari 12 laga terakhir musim tersebut.

Penurunan itu memunculkan pandangan bahwa klub terlalu cepat mengambil keputusan, dan Solskjaer mungkin tak akan mendapat jabatan permanen jika MU menunggu hingga musim panas.

Kini, struktur pengelolaan sepak bola klub berada di tangan figur berbeda, Sir Jim Ratcliffe. Meski begitu, contoh Solskjaer menjadi pengingat kuat bahwa kesabaran bisa jadi pilihan yang lebih bijak.


Dilema Piala Dunia

Manajer Crystal Palace asal Austria, Oliver Glasner, memberi isyarat di pinggir lapangan selama pertandingan Liga Inggris antara Fulham dan Crystal Palace di Craven Cottage, London, pada 7 Desember 2025. (HENRY NICHOLLS/AFP)

Alasan lain untuk menunda keputusan adalah ketersediaan kandidat. Sejumlah pelatih yang saat ini masih terikat kontrak diperkirakan bisa tersedia dalam waktu dekat.

Di Premier League saja, ada nama Oliver Glasner, yang sudah mengonfirmasi akan meninggalkan Crystal Palace, serta Andoni Iraola (Bournemouth) dan Marco Silva (Fulham). Namun, Glasner juga menjadi contoh bagaimana hasil jangka pendek dapat memengaruhi penilaian jangka panjang.

Pelatih asal Austria itu sempat dielu-elukan setelah membawa Palace meraih trofi pertama sepanjang sejarah klub lewat kemenangan atas Manchester City di final Piala FA musim lalu, lalu menambah gelar Community Shield usai menundukkan Liverpool.

Namun, musim ini berjalan jauh dari harapan. Keputusan meninggalkan pemain kunci di laga terakhir fase grup Conference League berujung hasil imbang melawan KuPS dari Finlandia, yang memaksa Palace menjalani play-off melawan Zrinjski.

Hasil tersebut menjadi awal dari rentetan 12 laga tanpa kemenangan. Dalam periode itu, Palace menderita delapan kekalahan, termasuk tersingkir secara memalukan dari Piala FA oleh Macclesfield yang bermain di National League North.

Posisi Palace kini berada di peringkat ke-15, hanya sembilan poin di atas zona degradasi, dan masa depan Glasner masih penuh tanda tanya.


Pelatih Timnas Masuk Radar

Thomas Tuchel kini menjadi pelatih timnas Inggris. Meski berhasil meraih trofi bersama Chelsea, beberapa kebijakan transfernya menuai kontroversi. Tuchel kerap melepas pemain Inggris yang akhirnya bersinar di klub lain.

Selain pelatih klub, nama-nama pelatih tim nasional masuk radar. Thomas Tuchel sempat berbicara dengan MU sebelum dan sesudah final Piala FA 2024 saat klub mempertimbangkan masa depan Erik ten Hag.

Mauricio Pochettino, yang kini menangani Timnas Amerika Serikat, juga lama dikaitkan dengan Old Trafford. Di luar itu, ada Carlo Ancelotti (Brasil) dan Julian Nagelsmann (Jerman).

Namun, merekrut pelatih tim nasional menjelang turnamen besar menyimpan risiko besar. Sejarah mencatat bagaimana Bobby Robson dicap "pengkhianat" pada 1990 setelah menyepakati kontrak dengan PSV Eindhoven sebelum Piala Dunia.

Julen Lopetegui bahkan dipecat Spanyol dua hari sebelum Piala Dunia 2018 dimulai, usai Real Madrid mengumumkan penunjukannya pasca-turnamen.

Seorang sumber yang berpengalaman dalam penunjukan pelatih di level klub dan internasional menilai kesepakatan formal sebelum Piala Dunia hampir mustahil dilakukan.

"Jika itu bocor, dampaknya bisa sangat merusak dan mengganggu stabilitas," ujarnya.

Menurutnya, pertemuan informal mungkin terjadi, tetapi langkah paling masuk akal adalah melakukan penjajakan, bukan pengikatan kontrak.

Selain itu, ada faktor Carrick sendiri. Bagaimana jika ia menutup musim dengan luar biasa? Ditambah lagi, hasil Piala Dunia, baik sukses maupun gagal, akan memengaruhi reputasi kandidat lain. Dalam situasi seperti ini, MU dinilai perlu memberi ruang agar situasi berkembang secara alami.


Carrick Tetap Tenang di Tengah Ketidakpastian

Pelatih Middlesbrough, Michael Carrick, mengamati permainan anak asuhnya dalam laga leg kedua semifinal Carabao Cup 2023/2024 yang digelar di Stamford Bridge, Rabu (24/1/2024). (AP Photo/Kin Cheung)

Di sisi lain, ada argumen bahwa pemain membutuhkan kejelasan. Harry Maguire akan habis kontrak musim panas ini, sementara Setan Merah mengincar sejumlah target transfer seperti Elliott Anderson, Adam Wharton, dan Carlos Baleba.

Pertanyaan soal siapa pelatih musim depan tentu relevan bagi mereka.

Ketidakpastian pernah berdampak buruk pada era Ralf Rangnick di musim 2021/2022, ketika MU hanya menang lima kali dari 19 laga terakhir dan tersingkir di Piala FA oleh Middlesbrough. Namun, Carrick yakin situasi kini berbeda.

"Saya tidak punya kekhawatiran," kata Carrick.

"Para pemain tampil lebih baik dari yang bisa dibayangkan. Kami semua sadar dengan situasi besar dan apa yang mungkin terjadi, tapi sebagai pemain, fokusnya adalah apa yang ada di depan dan apa yang bisa dicapai," tambahnya.

MU jelas ingin mengambil keputusan yang tepat. Di era ketika tuntutan terhadap manajer makin besar dan waktu untuk membuktikan diri kian singkat, kehati-hatian dianggap krusial.

Bahkan jika Carrick tak dipertahankan hingga akhir musim, masa kepemimpinannya selama 17 laga tetap bukan termasuk yang tersingkat di Premier League, dan masih lebih lama dibanding periode Ange Postecoglou yang hanya bertahan lima pertandingan bersama Nottingham Forest musim ini.

 

Sumber: BBC

Berita Terkait