Bola.com, Jakarta - Kendati telah berusia 41 tahun dan tak lagi berada di pusat peta sepak bola modern, Cristiano Ronaldo tetap menjadi magnet perhatian global.
Nama megabintang asal Portugal itu kembali mendominasi pemberitaan dalam sepekan terakhir, menyusul kabar ketegangan antara dirinya dan klubnya, Al Nassr.
Ronaldo disebut-sebut melakukan aksi mogok sebagai bentuk kekecewaan terhadap kebijakan transfer Al Nassr.
Ia menilai klub kurang menunjukkan ambisi yang sepadan jika dibandingkan dengan tiga rival yang sama-sama berada di bawah naungan Public Investment Fund (PIF), yakni Al Ittihad, Al Hilal, dan Al Ahli.
Terlepas dari apakah kekecewaan itu sepenuhnya beralasan, kepindahan Karim Benzema, mantan rekan setim Ronaldo di Real Madrid, dari Al Ittihad ke Al Hilal diyakini menjadi pemicu utama memuncaknya situasi.
Liga Pro Saudi pun telah melayangkan peringatan kepada Ronaldo, langkah yang justru kian memanaskan spekulasi soal kemungkinan hengkangnya sang penyerang veteran pada akhir musim.
Di tengah rumor tersebut, Major League Soccer (MLS) mencuat sebagai satu di antara destinasi potensial bagi peraih lima Ballon d'Or itu.
Namun, realitas finansial menjadi penghalang besar yang membuat skenario tersebut nyaris mustahil terwujud.
Tembok Gaji yang Tak Tertembus
MLS sejatinya bisa menjadi opsi menarik bagi Ronaldo. Selain pasar yang terus berkembang, liga tersebut juga membuka peluang untuk kembali menghidupkan rivalitas panjangnya dengan Lionel Messi. Hanya, angka gaji Ronaldo saat ini menjadi batu sandungan utama.
Penyerang yang pernah membela Manchester United dan Juventus itu menerima bayaran yang hampir tak tertandingi. Bersama Al Nassr, Ronaldo dikabarkan mengantongi sekitar 4,73 juta dolar AS (sekitar Rp79,7 miliar) per pekan.
Dalam setahun, angka tersebut membengkak hingga kurang lebih 246 juta dolar AS (Rp4,1 triliun), belum termasuk bonus yang disebut-sebut mencapai sekitar 50 juta dolar AS per tahun.
Besaran gaji semacam itu praktis hanya bisa dipenuhi oleh klub-klub Arab Saudi. Perbandingan dengan Lionel Messi di MLS memperjelas jurang tersebut.
Setelah memperpanjang kontraknya bersama Inter Miami pada Oktober 2025, Messi menerima pendapatan pasti sebesar 20,4 juta dolar AS (Rp343,7 miliar) per tahun, jumlah yang bahkan tak mencapai setengah dari bonus tahunan Ronaldo.
Gaji Bintang MLS
Messi masih menjadi pemain dengan bayaran tertinggi di MLS. Di bawahnya, Son Heung-min yang memperkuat LAFC berada di posisi kedua dengan gaji sekitar 11,1 juta dolar AS per tahun.
Selanjutnya, ada Miguel Almiron dari Atlanta United dengan pendapatan 7,9 juta dolar AS per tahun, berdasarkan data Asosiasi Pemain MLS.
Dengan struktur gaji seperti itu, Ronaldo harus memangkas pendapatannya secara drastis jika ingin bermain di MLS. Apakah ia bersedia melakukan pengorbanan sebesar itu masih menjadi tanda tanya.
Namun, jika skenario tersebut terjadi, tak diragukan lagi banyak klub MLS yang akan berlomba-lomba mengamankan jasanya.
Bagaimana dengan Kembali ke Eropa?
Jika MLS nyaris tertutup bagi Ronaldo dengan skema gaji saat ini, bagaimana peluangnya untuk kembali ke Eropa?
Jawabannya tak jauh berbeda. Ronaldo masih menghasilkan pendapatan yang jauh melampaui pemain mana pun di Eropa. Untuk kembali ke kompetisi Benua Biru, ia tetap harus menerima pemotongan gaji dalam jumlah sangat besar.
Saat ini, Erling Haaland diyakini sebagai pemain dengan bayaran tertinggi di Eropa berkat kontraknya bersama Manchester City. Namun, gaji Haaland masih terpaut jauh dari Ronaldo.
Penyerang asal Norwegia itu dikabarkan menerima sekitar 718 ribu dolar AS per pekan, kurang dari seperenam pendapatan mingguan Ronaldo. Di bawahnya, Kylian Mbappe (Real Madrid) menerima sekitar 710 ribu dolar AS setiap pekan.
Fakta tersebut menegaskan bahwa bahkan liga-liga paling kaya dan prestisius di Eropa pun tak memiliki ruang finansial untuk menampung gaji Ronaldo pada level yang ia nikmati saat ini.
Selama tuntutan ekonominya tak berubah, Arab Saudi tampaknya tetap menjadi satu-satunya tempat yang realistis bagi Cristiano Ronaldo.
Sumber: SI