Setelah Kandas dari China 0-7, Kelemahan Teknik Dasar Pemain Timnas Indonesia U-17 Disorot Pengamat Malaysia

Raja Isa bin Raja Akram Shah ikut menyoroti faktor utama kekalahan telak Timnas Indonesia U-17 dari China U-17 dengan skor 0-7.

BolaCom | Gatot SumitroDiterbitkan 11 Februari 2026, 05:30 WIB
Pelatih Timnas Indonesia U-17, Nova Arianto tertunduk usai memimpin tim asuhannya bertanding melawan China dalam laga uji coba di Indomilk Arena, Tangerang, Banten, Minggu (8/2/2026). Timnas Indonesia U-17 harus menelan kekalahan telak saat menghadapi China dalam laga uji coba. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Bola.com, Jakarta - Raja Isa bin Raja Akram Shah ikut menyoroti faktor utama kekalahan telak Timnas Indonesia U-17 dari China U-17 dengan skor 0-7, pada laga uji coba internasional di Stadion Indomilk Arena Tangerang, Minggu (8/2/2026) malam WIB.

Pengamat sepak bola asal Malaysia itu punya pandangan menarik terkait kelemahan teknik dasar bermain bola Timnas Indonesia U-17. Menurutnya kesalahan fundamental tersebut juga dialami beberapa negara di kawasan Asia Tenggara.

Advertisement

"Kalau untuk teknik dasar passing dan kontrol bola itu bukan Indonesia saja yang kualitas buruk. Beberapa negara ASEAN punya masalah sama," katanya.

Namun, mantan pelatih PSM Makassar dan Persipura Jayapura itu memberi pengecualian kepada negara tertentu yang terus membangun usia mudanya.

"Thailand, terbaru Vietnam dan Filipina yang fokus ke sistem ball mastery dan small sided game mulai grassroot sampai youth development. Kamboja sekarang berkiblat ke budaya Jepang. Indonesia juga harus fokus bagaimana membina pemain usia dini," jelasnya.

 


Masa Transisi

Sejak menit awal, Timnas Indonesia U-17 langsung berada di bawah tekanan. Tampak dalam foto, pemain tengah Timnas Indonesia U-17, Dava Yunna Adi Putra (ketiga kiri) berebut bola dengan Li Junpeng (China) saat laga uji coba di Indomilk Arena, Tangerang, Banten, Minggu (8/2/2026). (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Usia 17 tahun, lanjut Raja Isa adalah masa transisi bagi pemain. Pergantian dari masa anak menuju dewasa. Dalam proses ini pemain harus serius diarahkan baik sisi kejiwaan maupun pemahaman bermain sepak bola.

"Komunitas sepak bola Indonesia harus sabar. Pembinaan usia muda harus konsisten. Terutama pas usia mencapai 17 tahun. Transisi menuju kedewasaan butuh bimbingan yang luar biasa. Baik dari orangtua, lingkungan yang baik dalam pergaulan dan atmosfer sepak bola bagus," ujarnya.

Makanya Raja Isa tak heran jika Timnas Indonesia sangat bagus di usia muda. Namun saat pemain menginjak dewasa banyak yang hilang.

"Saya kagum dengan generasi emas era Evan Dimas dulu. Tetapi kenapa akhirnya hanya sedikit yang bertahan hingga level senior. Karena stakeholder sepak bola Indonesia lepas kontrol dan tak konsisten membimbing mereka hingga ke karir puncaknya," paparnya.

 


Menjalankan Metode Latihan yang Sama

Pelatih asal Malaysia yang sudah mengenal baik sepak bola Indonesia. Raja isa. (Bola.com/Permana Kusumadijaya)

Pria berdarah keturunan Bugis tersebut menyarankan agar PSSI dari pusat hingga daerah untuk serius menjalankan metode latihan semua SSB di Indonesia.

"SSB wajib dikontrol untuk memastikan semua menjalankan program latihan yang sama. Fokus dulu pada teknik dasar. Soal taktik bermain hanya perkenalan saja," ujarnya.

Sebagai penutup komentarnya, Raja Isa menilai Indonesia belum terlambat untuk berubah. "Sepak bola harus diurus orang yang punya passion kuat. Boleh komersial, tapi programnya harus benar-benar bagus. Saya yakin asal ada niat kuat, sepak bola Indonesia bisa bersaing dengan negara lain," pungkasnya.

Berita Terkait