Bola.com, Jakarta - Liverpool kembali menorehkan catatan yang tak diinginkan di Premier League musim ini. Penalti Erling Haaland pada menit ke-93 untuk Manchester City di Anfield, Minggu lalu, menjadi gol kemenangan keempat yang bersarang di gawang The Reds pada masa injury time sepanjang musim 2025/26.
Jumlah itu menyamai rekor terbanyak kebobolan gol penentu kemenangan di waktu tambahan dalam satu musim liga.
Situasi ini menegaskan rentetan masalah yang terus menghantui tim asuhan Arne Slot. Sejak awal tahun, pelatih asal Belanda itu sudah mengisyaratkan kegelisahannya.
"Kita sering melihat tim mencetak gol yang tidak Anda duga di masa tambahan waktu. Jadi, apakah itu benar-benar mengejutkan?" ujarnya pada Januari lalu.
Bagi tim berstatus juara bertahan, rapuhnya Liverpool di menit-menit akhir jelas menjadi kejutan besar. Klub-klub lain yang pernah mencatat rekor serupa bahkan tidak memiliki sumber daya maupun kedalaman skuad seperti yang dimiliki Slot di Anfield.
Catatan Sejarah
Sepanjang sejarah Premier League, hanya beberapa tim yang pernah kebobolan empat gol kemenangan lawan di injury time dalam satu musim:
- Watford (2017/18 dan 2021/22)
- West Ham United (2021/22)
- Southampton (2024/25)
- dan kini Liverpool (2025/26)
Watford pada 2017/18 finis di posisi ke-14 setelah sempat terseok di paruh kedua musim. Ketika problem itu terulang pada 2021/22, mereka terdegradasi, nasib yang juga dialami Southampton musim lalu.
West Ham mampu bertahan di posisi ketujuh pada 2021/22, meski kelelahan mereka kala itu bisa dimaklumi karena melaju hingga semifinal Liga Europa.
Liverpool tak memiliki alasan serupa, dan musim masih berjalan sehingga rekor ini bahkan bisa bertambah.
Sudah Tak Wajar
Slot mengakui frekuensi kebobolan di menit akhir sudah melampaui batas wajar.
'Jumlah gol yang kami kebobolan di masa tambahan waktu jauh lebih banyak dari biasanya. Pertanyaannya, apakah ini karena nasib buruk atau memang kesalahan kami?" katanya, pekan ini.
Ia menegaskan sudah mencoba berbagai pendekatan taktis untuk mematahkan pola tersebut.
"Saya rasa saya sudah mencoba banyak hal. Saya melakukan pergantian pemain bertahan dan bola tetap masuk. Saya mempertahankan pemain yang sama dan bola tetap masuk. Kami sudah mencoba banyak. Kadang rasanya… saya bisa bilang dengan jujur, kami memang tidak beruntung, itu jelas benar. Tapi, apakah ini sekadar sial atau bagian dari siapa kami sebenarnya? Itu hanya bisa kami jawab dalam tiga atau empat bulan ke depan," tuturnya.
Skenario Berbeda
Menariknya, jika ditelusuri satu per satu, empat gol telat yang merugikan Liverpool datang lewat skenario berbeda.
Crystal Palace dan Bournemouth sama-sama mencetak gol setelah situasi lemparan jauh yang gagal dibersihkan lini belakang Liverpool, taktik yang musim ini cukup sering merepotkan mereka. Eddie Nketiah dan Amine Adli memaksimalkan kelengahan tersebut dengan tembakan ke sudut bawah gawang.
Sementara itu, gol Chelsea di Stamford Bridge pada Oktober lahir dari serangan sisi kanan pertahanan Liverpool, area yang kerap ditinggalkan Mohamed Salah saat membantu menyerang. Marc Cucurella lolos tanpa kawalan dan mengirim umpan silang yang disambar Estevao di tiang jauh.
Adapun penalti Haaland berawal dari pergerakan Matheus Nunes di sisi berlawanan kotak penalti. Milos Kerkez terlambat menutup ruang saat Bernardo Silva mengangkat bola melewati bek tersebut. Kesalahan itu diperparah ketika Alisson keluar dari sarangnya dan melanggar Nunes.
Tak ada satu pola tunggal yang benar-benar mengikat semua gol tersebut. Bek sekaligus kapten Liverpool, Virgil van Dijk, bahkan menilai tidak semua insiden bisa disamakan.
"Mungkin Anda bisa membandingkan gol Palace dan Bournemouth, tapi yang ini tidak bisa dibandingkan dengan yang lain," ujarnya usai laga kontra Man City.
Poin Melayang
Namun, pada akhirnya, dampaknya sama: poin melayang di menit akhir. Jika digabung dengan dua gol penyama kedudukan yang juga bersarang setelah menit ke-90 musim ini, Liverpool telah kehilangan delapan poin dari situasi-situasi telat tersebut.
Kini, The Reds tertinggal empat poin dari Chelsea di peringkat kelima, posisi yang kemungkinan menjadi batas akhir tiket Liga Champions. Slot pun tak menutupi kekhawatirannya andai timnya gagal finis di zona tersebut.
"Jika kami tidak bermain di Liga Champions, itu jelas bukan musim yang bisa diterima," tegasnya.
Ia juga mengingatkan konsekuensi yang bisa muncul di bursa transfer musim panas.
"Ketika saya datang ke sini, kami hanya bisa merekrut Federico Chiesa, dan itu setelah musim Liga Europa. Itu sangat memengaruhi cara klub ini dijalankan. Kami sepenuhnya sadar akan hal itu, dan saya sepenuhnya menyadarinya."
Dengan musim yang masih menyisakan beberapa bulan, Liverpool dituntut segera membereskan detail-detail kecil yang berujung mahal, seperti disimpulkan Van Dijk secara lugas.
"Faktanya, kami kebobolan di menit akhir. Saya terus mengatakannya, tapi kami memang harus lebih baik dalam hal ini," ujar sang kapten tim.
Sumber: SI