Bola.com, Jakarta - Tersingkirnya Manchester United lebih awal dari dua ajang piala domestik membawa konsekuensi yang tak terduga. Untuk pertama kalinya sejak musim 1914/15, jumlah pertandingan mereka dalam satu musim menjadi yang paling sedikit.
Dampaknya, sisa kampanye Setan Merah kini terbagi dalam beberapa blok, dipisahkan jeda yang lebih panjang dari biasanya tanpa pertandingan.
Saat ini, mereka berada di blok pertama. Setelah hasil imbang 1-1 melawan West Ham United, Rabu (11-2-2026) dini hari WIB, pasukan Michael Carrick akan menunggu 12 hari sebelum bertandang ke markas Everton.
Bagi Carrick, yang baru ditunjuk pada 13 Januari, jeda ini menjadi momen yang tepat untuk menyegarkan skuad.
Ia ingin memberi kesempatan kepada para pemain untuk menyegarkan diri, memungkinkan beberapa di antaranya membereskan cedera ringan dan ketegangan otot, serta beristirahat sejenak.
Namun, lebih dari itu, periode ini juga menjadi waktu untuk melakukan evaluasi.
Carrick tidak berusaha memoles hasil imbang di London Stadium seolah-olah itu memperpanjang rangkaian empat kemenangan beruntunnya. Gol penyeimbang Benjamin Sesko di masa injury time memang dramatis, tetapi tetap saja menghentikan laju sempurna tersebut.
Meski begitu, ia menilai performa tim sepanjang bulan terakhir layak diapresiasi.
"Dalam gambaran besarnya, kami mengambil satu poin, sedikit berbenah, lalu mengevaluasinya," ujarnya.
"Kalau melihatnya dalam rentang lima pertandingan, hanya ada satu hasil imbang di situ, itu sangat positif," tambah Carrick.
Sulitnya Merangkai Kemenangan
Kemenangan awal Carrick atas dua kandidat juara, Manchester City dan Arsenal, tergolong di luar dugaan. Sementara itu, kemenangan atas Fulham dan Tottenham memang lebih diantisipasi, tetapi tetap tidak diraih tanpa persoalan yang harus diselesaikan di lapangan.
Ditambah dengan inkonsistensi Chelsea dan Liverpool, situasi klasemen kini menempatkan MU di posisi keempat. Mereka memang memiliki keunggulan yang cukup dalam perburuan tiket Liga Champions, meski belum bisa disebut penentu.
Sebuah skenario yang sulit dibayangkan setelah pemecatan Ruben Amorim usai hasil imbang melawan Leeds pada 4 Januari.
"Kami tahu betapa sulitnya merangkai kemenangan di liga ini," kata Carrick.
Timnya kini tak terkalahkan dalam sembilan laga liga, sebuah rangkaian yang melintasi tiga manajer, termasuk periode interim Darren Fletcher.
"Terkadang semuanya terasa alami, mengalir, dan semuanya 'klik'. Anda terlihat sangat berbahaya dan ada percikan. Terkadang juga terasa sedikit tersendat," ucap pelatih berusia 44 tahun tersebut.
Target Konsistensi
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah apakah MU mampu konsisten meraih kemenangan saat menghadapi lawan yang secara teori harus bisa mereka kalahkan.
Banyak yang menilai West Ham termasuk kategori itu, meski tim asuhan Nuno Espirito Santo sedang memburu kemenangan keempat dalam lima laga liga dan sempat unggul 2-0 atas Chelsea, sebelum akhirnya gagal menang.
Di laga ini, Carrick memang tidak meraih tiga poin. Namun, ia menunjukkan keberanian mengambil risiko demi mengubah keadaan dalam pertandingan yang nyaris lepas.
Saat MU bermain imbang melawan West Ham di Old Trafford pada Desember lalu, Amorim hanya melakukan satu pergantian pemain bernuansa ofensif, Mason Mount menggantikan Joshua Zirkzee 12 menit sebelum laga usai.
Pergantian terakhirnya bahkan hanya menukar satu bek dengan bek lain, Lisandro Martinez untuk Luke Shaw. Gelandang Kobbie Mainoo dan penyerang muda Shea Lacey tetap di bangku cadangan.
Di London Stadium, Carrick bertindak berbeda.
Pertaruhan Carrick Berbuah Hasil
Masuknya Sesko menggantikan Matheus Cunha, yang tampil kurang efektif, seperti lini serang Setan Merah secara keseluruhan dalam laga itu, bukanlah langkah paling berisiko.
Keputusan paling berani datang delapan menit jelang bubaran, ketika Carrick menarik bek sayap Diogo Dalot dan memasukkan Zirkzee. Carrick mengubah formasi menjadi tiga bek dan mendorong lebih banyak pemain ke depan.
Ia sadar risikonya: kebobolan gol kedua sangat mungkin terjadi. Itu nyaris terjadi, andai bukan karena dua tekel penyelamatan gemilang dari pemain pengganti Leny Yoro serta satu penyelamatan dari Senne Lammens.
Ketika waktu menunjukkan lebih dari lima menit dari total tujuh menit injury time yang diberikan, peluang masih terbuka. Finishing brilian Sesko memastikan MU tidak pulang dengan tangan hampa.
"Selalu layak untuk mencoba mendapatkan sesuatu dari pertandingan," ujar Carrick soal keputusannya melakukan perubahan.
"Kami semua menginginkan performa yang sempurna, menjadi yang terbaik yang kami bisa."
"Terkadang itu tidak sepenuhnya terjadi, tetapi bukan berarti Anda menyerah," lanjutnya.
"Jelas kami mencoba, dengan tiga bek dan pada dasarnya sisanya menyerang untuk mencari gol itu. Begitulah seharusnya kami melakukannya," katanya lagi.
Filosofi Sir Alex Ferguson
Pendekatan tersebut mengingatkan pada filosofi Sir Alex Ferguson. Sang legenda selalu siap mengambil risiko demi meraih hasil yang diinginkan, dan itulah yang kerap menghadirkan banyak momen kemenangan dramatis di akhir laga sepanjang karier gemilangnya.
Menit ke-87 melawan Arsenal. Menit ke-90 kontra Fulham. Kini menit ke-95 menghadapi West Ham.
Carrick tentu puas dengan raihan 13 poin dari kemungkinan 15 poin di blok pertamanya bersama Setan Merah.
Menjelang rangkaian tiga pertandingan berikutnya, yang membuatnya semakin lega bukan hanya posisi di klasemen, tetapi juga semangat juang dan mental pantang menyerah yang menjadi fondasi kebangkitan timnya.
Sumber: BBC