Tottenham Hotspur dan 7 Klub Besar Eropa yang Terancam Degradasi di Musim 2025/26

Tottenham dan Fiorentina masuk daftar delapan klub besar Eropa yang terancam degradasi di akhir musim 2025/26 ini.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 13 Februari 2026, 09:30 WIB
Penyerang Tottenham Hotspur asal Senegal bernomor punggung 29, Pape Matar Sarr, bereaksi setelah pertandingan Liga Inggris antara Tottenham Hotspur dan Newcastle United di Stadion Tottenham Hotspur di London, pada 10 Februari 2026. Tottenham kalah dalam pertandingan tersebut dengan skor 1-2. (Glyn KIRK/AFP)

Bola.com, Jakarta - Kompetisi musim 2025/26 menghadirkan banyak kejutan yang tak terduga. Sejumlah klub besar dari Inggris, Italia, hingga Spanyol kini justru terseret ke pusaran degradasi, situasi yang sulit dipercaya jika melihat reputasi dan sejarah mereka.

Di atas kertas, nama-nama ini identik dengan persaingan papan atas, tiket kompetisi Eropa, bahkan perburuan gelar. Namun, sepak bola tak selalu berjalan sesuai logika. Ketika konsistensi runtuh dan tekanan membesar, status besar pun tak menjamin keselamatan.

Advertisement

Beragam faktor bisa menjadi pemicu: salah urus finansial, keputusan keliru di balik layar, hingga sekadar nasib buruk di lapangan.

Dalam kompetisi yang makin kompetitif, margin kesalahan kian tipis dan hukuman atas performa buruk datang tanpa kompromi.

Apa pun penyebabnya, kenyataannya delapan klub besar di berbagai liga Eropa kini berada dalam ancaman serius turun kasta, sebuah skenario yang beberapa bulan lalu mungkin terdengar mustahil.


Tottenham Hotspur

Pelatih kepala Tottenham Hotspur asal Denmark, Thomas Frank (tengah), bereaksi menjelang adu penalti di akhir waktu normal dalam pertandingan final Piala Super UEFA 2025 antara Paris Saint-Germain (Prancis) dan Tottenham Hotspur FC (Inggris) di Stadion Friuli, Udine, Kamis (14-8-2025) dini hari WIB. (Marco BERTORELLO / AFP)

Kekalahan terbaru dari Newcastle membuat Spurs kini hanya berjarak lima poin dari zona degradasi. Situasinya kian mengkhawatirkan.

"Anda harus mengatakan apa adanya, mereka sedang dalam pertarungan degradasi," ujar Glenn Hoddle kepada TNT Sports setelah laga tersebut.

"Para pemain harus memahami itu dan para suporter juga harus memahami itu."

"Itulah kenyataannya dan Anda harus berjuang untuk setiap poin," imbuh Hoddle.

Statistik pun mempertegas keterpurukan mereka. Sejak menghadapi Arsenal pada November, hanya Burnley dan Wolves yang meraih poin lebih sedikit dibanding Spurs, cerminan performa buruk yang terus berlanjut.

Thomas Frank sudah dipecat. Ia memang menjadi pihak yang paling disorot atas hasil negatif tersebut, tetapi persoalan di Tottenham diyakini jauh lebih dalam daripada sekadar faktor pelatih.


Valencia

Penyerang Argentina Valencia bernomor punggung 15, Lucas Beltran, merayakan gol pertama timnya bersama rekan-rekan setimnya selama pertandingan Liga Spanyol antara Club Atletico de Madrid dan Valencia CF di Stadion Metropolitano di Madrid pada 13 Desember 2025. (Javier SORIANO/AFP)

Valencia merupakan penghuni tetap kasta tertinggi Spanyol sejak era 1980-an dan sempat menjadi satu di antara tim terbaik Eropa pada awal 2000-an.

Terakhir kali mereka terdegradasi terjadi pada musim 1986/87. Namun, kini, bayang-bayang itu kembali menghantui.

Musim lalu, Los Che sempat flirt dengan zona merah sebelum sembilan laga tanpa kekalahan di penghujung musim memastikan keselamatan mereka. Sayangnya, momentum tersebut gagal dipertahankan.

Valencia kini berada di peringkat ke-17 La Liga, hanya satu poin di atas zona degradasi. Lebih mengkhawatirkan lagi, tiga tim di bawah mereka masih memiliki satu pertandingan lebih banyak.

Peluang bertahan pun tampak tidak terlalu menjanjikan pada titik ini.


Leicester City

Leicester City. (Dok. X @LCFC)

Sebelum musim dimulai, Leicester dijagokan sebagai satu di antara kandidat kuat promosi. Namun, realitas berbicara lain.

Kini mereka terdampar di peringkat ke-21 Championship dan hanya terhindar dari zona tiga terbawah karena selisih gol.

Beberapa pekan terakhir menjadi periode penuh gejolak bagi para pendukung The Foxes. Klub memecat manajer, menerima pengurangan enam poin, dan menyia-nyiakan keunggulan tiga gol saat menghadapi Southampton di tengah pekan.

Kekalahan 3-4 dari Southampton seolah menjadi titik didih. Seusai laga, suporter terdengar meneriakkan, "you're not fit to wear the shirt."

Dengan jadwal pertandingan yang berat di depan mata dan Blackburn masih memiliki satu laga tunda, bukan tak mungkin Leicester terperosok ke zona degradasi pada akhir bulan ini.


Wolfsburg Termasuk

Pemain Bayern Munchen, Michael Olise menggiring bola melewati pemain VfL Wolfsburg dalam laga lanjutan Liga Jerman 2025/2026 di Allianz Arena, Munchen, Jerman, Minggu (11/01/2026) waktu setempat. (AFP/Alexandra Beier)

West Bromwich Albion

West Brom terakhir kali bermain di kasta ketiga sepak bola Inggris pada awal 1990-an. Namun, musim yang penuh gejolak membuat mereka kini hanya terpaut dua poin dari zona degradasi Championship.

Delapan pertandingan terakhir tanpa kemenangan memperburuk posisi mereka dan meningkatkan tekanan jelang fase akhir musim.

Wigan Athletic

Baru pada 2013 Wigan masih tampil di Premier League. Kini, mereka berpotensi turun hingga kasta keempat sepak bola Inggris musim depan.

Performa buruk yang berlarut-larut membuat mereka terpuruk di peringkat ke-22 League One, tanpa satu pun kemenangan dalam delapan laga terakhir.

Ryan Lowe dipecat setelah kekalahan telak 1-6 dari Peterborough. Kini, penunjukan pengganti yang tepat menjadi krusial demi menyelamatkan musim mereka.

Wolfsburg

Sejak 1997, Wolfsburg tak pernah absen dari Bundesliga. Mereka bahkan meraih gelar juara pada 2009 di bawah asuhan Felix Magath.

Namun, musim ini berjalan berat. Dengan 13 pertandingan tersisa, Wolfsburg hanya unggul dua poin dari zona degradasi, posisi yang jauh dari ekspektasi klub dengan sejarah seperti mereka.


Fiorentina, Legia Warsawa

Aksi Christian Pulisic ketika AC Milan berjumpa Fiorentina pada pekan ke-20 Serie A - Dok. AC Milan/@acmilan

Fiorentina

Melihat Fiorentina terdampar di posisi ke-18 Serie A terasa janggal.

Musim lalu mereka finis keenam dan mencapai semifinal Conference League. Namun, musim ini segalanya runtuh.

Penjualan sejumlah pemain kunci pada musim panas dan daftar cedera yang terus bertambah membuat ancaman degradasi kian nyata. Dalam situasi seperti ini, mereka mungkin berharap memiliki sosok seperti Batistuta atau Rui Costa lagi.

Legia Warsawa

Sepak bola Polandia sedang berkembang dengan peningkatan investasi dan kualitas kompetisi yang makin merata. Ironisnya, persaingan yang meningkat justru menyeret klub paling dikenal secara internasional, Legia Warsawa, ke zona degradasi musim ini.

Legia mencapai perempat final Conference League musim lalu sebelum disingkirkan Chelsea. Namun, musim ini performa mereka terjun bebas.

Kekecewaan suporter pun memuncak. Setelah hasil imbang tandang baru-baru ini, terdengar chant agresif berbunyi, "A jak spadniemy, to wszystkich was zajebiemy," yang secara kasar dapat diterjemahkan menjadi, "Jika kami terdegradasi, kami akan menantang kalian semua."

 

Sumber: Planet Football

Berita Terkait