Adaptasi Brutal Toprak Razgatlioglu di MotoGP: Jack Miller Bongkar Masalah Wheelspin yang Bikin Pusing di Yamaha

Perjalanan Toprak Razgatlioglu menuju MotoGP tidak semulus aksinya saat mendominasi WorldSBK.

BolaCom | Gregah NurikhsaniDiterbitkan 14 Februari 2026, 12:15 WIB
Toprak Razgatlioglu kembali hadir di Indonesia dengan status sebagai pebalap MotoGP setelah meninggalkan Superbike. Dia kini membela tim Prima Pramac Yamaha dan bakal membalap di MotoGP 2026 dengan status rookie. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Bola.com, Jakarta - Perjalanan Toprak Razgatlioglu menuju MotoGP tidak semulus aksinya saat mendominasi WorldSBK. Dalam tes pramusim di Sepang, pembalap asal Turki itu mulai merasakan kerasnya transisi, terutama saat harus menjinakkan ban belakang Michelin yang jauh lebih sensitif dibandingkan Pirelli.

Bersama tim Pramac Racing Yamaha, Toprak sedang menjalani fase adaptasi yang tidak sederhana. Jika pengereman masih menjadi kekuatan alaminya, problem besar justru muncul saat keluar tikungan, momen krusial yang menentukan waktu putaran di MotoGP modern.

Advertisement

Di Sepang, target lap 1 menit 57 detik yang ia canangkan belum tercapai. Ia finis 1,9 detik di belakang pemimpin waktu, Alex Marquez dari Gresini Ducati, dan terpaut 0,746 detik dari Yamaha tercepat milik Alex Rins. Angka itu menjadi alarm bahwa masih ada pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan.

Salah satu fokus utama adalah bagaimana menghindari wheelspin dini. Bagi Toprak, kebiasaan lama di Superbike justru menjadi tantangan baru ketika masuk ke dunia prototipe MotoGP yang menuntut pendekatan berbeda dalam mengelola traksi.

 


Michelin Tidak Sejinak Pirelli

Juara World Superbike tiga kali itu mencuri perhatian saat turun lintasan dengan Yamaha M1 tanpa sayap belakang. (Dok. Sepang)

Dalam penjelasannya, Toprak mengakui karakter ban Michelin benar-benar berbeda dari Pirelli yang ia gunakan di WorldSBK. Jika di Superbike spin masih bisa dikontrol, di MotoGP situasinya jauh lebih ekstrem.

“Ban Pirelli ketika mulai spin masih mudah dikendalikan. Tapi Michelin kalau sudah spin, tidak berhenti lagi,” ujarnya. “Anda harus mengendarai seperti gaya Moto2 dan membuka gas sangat halus, karena ban ini sangat sensitif. Tim saya selalu bilang ‘naiklah dengan halus’, tapi mengatakannya mudah.”

Masalah utamanya terletak pada insting balapnya sendiri. Di Superbike, Toprak terbiasa memanfaatkan sliding ban belakang untuk membantu motor berbelok dan mendapatkan akselerasi kuat. Di MotoGP, pendekatannya justru berlawanan. Terlalu agresif membuka gas hanya akan membuat spin berlanjut hingga gigi lima atau enam.

Ia juga menyinggung kemungkinan perubahan setelan suspensi saat tes berikutnya di Thailand. “Sepertinya kami butuh setelan berbeda, terutama untuk membantu motor lebih mudah berbelok dan memberi grip lebih baik,” katanya.

 


Jack Miller: Sekali Spin, Sulit Dihentikan

Pembalap asal Turki itu melakukan aksi freestyle dengan teknik wheelie dan donuts. Aksi donuts yang dilakukan Toprak Razgatlioglu sampai membuat SMK Negeri 39 Jakarta menjadi kepulan asap. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Rekan setimnya, Jack Miller, menguatkan analisis tersebut. Menurut pembalap Australia itu, mengontrol spin adalah kunci utama saat menggunakan ban Michelin.

“Itu hal terbesar dengan Michelin. Sekali mulai spin, tidak berhenti sampai gigi lima atau enam. Bahkan saat motor sudah tegak lurus,” jelas Miller.

Ia mencontohkan bagaimana motor Ducati membuka throttle dengan sangat halus demi menjaga transfer beban tetap stabil dan tidak mengganggu keseimbangan motor saat keluar tikungan. Transisi beban yang lembut menjadi kunci agar ban tetap dalam batas traksi optimal.

Miller juga menyinggung masalah Yamaha musim lalu dengan mesin Inline4. Karakter tersebut dinilai sulit menjaga traksi saat akselerasi, yang kemudian memperkuat keputusan pabrikan beralih ke konfigurasi V4 untuk masa depan.

“Tahun lalu dengan Inline4 sangat sulit menjaga transfer beban dan tetap dalam traksi. Kalau spin terjadi terlalu awal, itu akan terus berlanjut,” tegasnya.

 


Ujian Berikutnya di Buriram

Toprak masih punya satu kesempatan penting untuk menyempurnakan adaptasinya dalam tes di Sirkuit Buriram pada 21–22 Februari. Trek Thailand itu juga akan menjadi lokasi debut balap MotoGP-nya sepekan kemudian, sehingga data dan setelan yang didapat akan sangat krusial.

Fase ini menjadi momen pembelajaran cepat bagi sang rookie. Ia tidak hanya harus memahami motor, tetapi juga mengubah filosofi berkendara yang sudah melekat bertahun-tahun di Superbike.

Transisi dari WorldSBK ke MotoGP memang bukan sekadar naik kelas, melainkan perubahan total dalam pendekatan teknis dan gaya balap. Jika Toprak mampu mengendalikan insting lamanya dan menemukan keseimbangan dengan karakter Michelin serta Yamaha, potensi besarnya bisa benar-benar meledak. Namun untuk saat ini, ujian wheelspin menjadi rintangan pertama yang harus ia taklukkan sebelum berbicara lebih jauh soal prestasi.

Sumber: Crash

Berita Terkait