Bola.com, Jakarta - Perjalanan seorang striker haus gol biasanya identik dengan naluri mencetak angka sejak kecil. Namun, kisah Benjamin Sesko justru berawal dari posisi yang jauh dari sorotan papan skor. Penyerang Manchester United itu mengonfirmasi bahwa ia memulai karier sepak bolanya sebagai penjaga gawang.
Sesko mengikuti jejak sang ayah, Ales, yang lebih dulu mengenakan sarung tangan di klub lokal Radece. Dari situlah cerita dimulai, sebelum akhirnya sang striker menyadari bahwa takdirnya berada di ujung lapangan yang berbeda.
Keputusan untuk meninggalkan posisi kiper terbukti sangat tepat. Musim ini, penyerang timnas Slovenia tersebut telah mengoleksi tujuh gol, termasuk gol penyeimbang dramatis di masa injury time saat menghadapi West Ham United pada laga terakhir.
Kini, menjelang laga tandang ke markas Everton pada 23 Februari, Sesko tengah menikmati performa terbaiknya. Namun, siapa sangka bahwa semuanya bermula dari rasa bosan berdiri di bawah mistar.
Dari Sarung Tangan ke Sepatu Emas
Dalam episode terbaru podcast Inside Carrington, Sesko membuka cerita masa kecilnya yang unik. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang akrab dengan sepak bola, khususnya melalui sang ayah.
“Ayah saya adalah seorang penjaga gawang. Awalnya dia pemain, lalu sempat beralih ke basket sebentar, kemudian kembali lagi ke sepak bola,” ujar Sesko.
Sebagai anak, ia mengikuti langkah tersebut.
“Saya juga memulai sebagai penjaga gawang ketika masih sangat kecil,” tuturnya.
Namun, pengalaman itu tidak bertahan lama. Ada satu momen yang membuatnya yakin bahwa posisi tersebut bukanlah tempat yang tepat untuknya.
“Saya ingat suatu pertandingan, di tengah laga saya melihat ke arah ayah dan berkata, ‘Ayah, ini sangat membosankan. Saya tidak melakukan apa pun di gawang.’”
Rasa frustrasi itu muncul karena ia ingin lebih terlibat dalam permainan.
“Sulit bagi saya melihat rekan-rekan setim bermain di depan sementara saya tidak bisa mencetak gol.”
Naluri Menyerang yang Tak Bisa Dibendung
Bahkan ketika masih berposisi sebagai kiper, naluri menyerang Sesko sudah terlihat. Ia mengaku kerap membawa bola melewati hampir seluruh lapangan.
“Ada beberapa momen ketika saya menjadi penjaga gawang, saya mengambil bola, menggiringnya melewati seluruh lapangan, lalu mencetak gol.”
Perjalanan posisinya kemudian terus berubah. Setelah meninggalkan posisi kiper, ia sempat bermain sebagai bek tengah sebelum akhirnya benar-benar menemukan rumahnya sebagai penyerang.
“Perjalanan itu menyenangkan. Setelah itu saya bermain sebagai bek tengah, lalu naik menjadi striker. Saya kira usia saya 12 atau 13 tahun saat benar-benar menjadi penyerang, dan sejak saat itu saya bertahan di posisi tersebut.”
Keputusan pada usia remaja itu kini menjadi fondasi karier profesionalnya.
Fokus Lanjutkan Ketajaman
Gol penyeimbang di kandang West Ham menjadi bukti ketajaman dan mentalitas Sesko. Ia tampil sebagai penyelamat di saat-saat krusial, sesuatu yang jarang ia rasakan ketika masih berdiri di bawah mistar.
Kini tantangan berikutnya sudah menanti. Manchester United akan bertandang ke markas Everton pada 23 Februari, dan Sesko berpeluang kembali menjadi tumpuan lini depan.
Dari bocah yang bosan menjaga gawang hingga menjadi ujung tombak andalan, perjalanan Benjamin Sesko menunjukkan bahwa menemukan posisi terbaik dalam hidup kadang membutuhkan keberanian untuk berubah.