Bolehkah Pesepak Bola Tidak Berpuasa saat Bertanding?

Puasa Ramadan kerap menghadirkan tantangan tersendiri bagi atlet profesional muslim, terutama mereka yang berkarier di kompetisi elite Eropa dengan jadwal padat dan intensitas tinggi. Pertanyaan pun muncul: apakah pemain sepak bola diperbolehkan tidak berpuasa demi menjaga stamina saat bertanding?

BolaCom | Gregah NurikhsaniDiterbitkan 15 Februari 2026, 11:00 WIB
Selebrasi Lamine Yamal di laga Villarreal vs Barcelona di pekan ke-17 Liga Spanyol 2025/2026 di Estadio de la Ceramica, Minggu (21/12/2025). (AP Photo/Alberto Saiz)

Bola.com, Jakarta - Puasa Ramadan kerap menghadirkan tantangan tersendiri bagi atlet profesional muslim, terutama mereka yang berkarier di kompetisi elite Eropa dengan jadwal padat dan intensitas tinggi. Pertanyaan pun muncul: apakah pemain sepak bola diperbolehkan tidak berpuasa demi menjaga stamina saat bertanding?

Isu ini mencuat dalam Pengajian Tarjih yang disampaikan Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Asep Shalahudin, Rabu (11/2/2026). Salah satu contoh yang dibahas adalah kemungkinan pemain seperti Lamine Yamal bertanding pada siang hari di bulan Ramadan.

Advertisement

Selain Yamal, nama-nama besar seperti Karim Benzema dan Mohamed Salah juga kerap menjadi sorotan karena berstatus sebagai pesepak bola muslim yang tampil di level tertinggi.

Lantas, apakah mereka boleh tidak berpuasa? Jika boleh, apakah konsekuensinya qadha atau fidyah?

 


Bukan Sekadar Soal Stamina

Karim Benzema mencatatkan hattrick pada laga debutnya bersama Al Hilal. Kontribusi Benzema mengantar Al Hilal menang 6-0 atas tuan rumah Al Akhdoud di Liga Pro Saudi, Jumat WIB (6-2-2026). (Dok. X @Alhilal_EN)

Asep menjelaskan, persoalan ini harus dikategorikan secara tepat. Alasan “menjaga performa” atau “demi stamina pertandingan” tidak otomatis masuk dalam kategori uzur yang membolehkan seseorang meninggalkan puasa.

Menurutnya, pertandingan sepak bola bukan aktivitas yang berlangsung setiap hari dan umumnya sudah terjadwal jauh-jauh hari. Karena itu, alasan performa semata tidak cukup kuat secara fikih untuk meninggalkan kewajiban puasa.

Dalam syariat Islam, keringanan tidak berpuasa secara tegas diberikan kepada dua golongan utama: orang sakit dan musafir (orang yang sedang bepergian).

 


Safar Jadi Pertimbangan Utama

Bek West Ham, Jean-Claire Todibo, bermain sangat gemilang melawan Manchester United pada lanjutan Liga Inggris 2025/2026 di Old Trafford, Jumat (5/12/2025) dini hari WIB. (AP Photo/Ian Hodgson)

Untuk atlet profesional yang bertanding lintas negara, aspek safar menjadi pertimbangan yang lebih relevan.

“Kalau dia statusnya sebagai musafir, tidak ada masalah,” ujar Asep.

Artinya, jika seorang pemain melakukan perjalanan dari satu negara ke negara lain untuk pertandingan, ia masuk kategori musafir dan diperbolehkan tidak berpuasa. Namun, keringanan tersebut bukan tanpa konsekuensi.

Jika tidak berpuasa karena safar, kewajibannya adalah mengganti puasa di hari lain (qadha), bukan membayar fidyah. Qadha berlaku karena yang bersangkutan masih mampu berpuasa di luar hari tersebut.

Dengan demikian, alasan yang tepat bukan karena “ingin menjaga stamina”, melainkan karena sedang dalam perjalanan (safar) yang diakui oleh syariat.

 


Tidak Selalu Hitam-Putih

Asep juga membedakan antara pekerjaan berat yang bersifat rutin dan menjadi satu-satunya sumber nafkah harian dengan pertandingan sepak bola yang sifatnya periodik.

Seorang pemain tidak bertanding setiap hari. Bahkan dalam beberapa kesempatan, ia bermain di kandang sendiri dan tidak dalam kondisi safar. Dalam situasi seperti itu, tidak ada alasan syar’i untuk meninggalkan puasa.

Menariknya, dalam kajian tafsir, khususnya Tafsir at-Tanwir, dijelaskan bahwa kondisi sakit dan safar memiliki rincian. Ada perjalanan yang ringan, ada yang berat. Ada sakit yang ringan, ada pula yang benar-benar tidak memungkinkan seseorang berpuasa.

Artinya, hukum mempertimbangkan kadar masyaqqah (tingkat kesulitan) yang dihadapi, tidak selalu hitam-putih.

Meski begitu, Asep menegaskan bahwa apabila seorang pemain tetap mampu berpuasa dan tidak merasa terbebani secara berlebihan, maka berpuasa tetap lebih utama. Ia bahkan menyebut Lamine Yamal dikenal tetap berpuasa saat bermain, sesuatu yang patut diapresiasi.

Tag Terkait