Bola.com, Jakarta - Kabar terbaru dari Arsenal memunculkan kekhawatiran baru dalam perburuan gelar Liga Inggris. Data terbaru menunjukkan The Gunners menjadi tim yang paling lama memulai kembali permainan dari situasi sepak pojok musim ini.
Tim asuhan Mikel Arteta dikejutkan setelah menyia-nyiakan keunggulan 2-0 dan harus puas bermain imbang 2-2 melawan Wolverhampton Wanderers di Molineux, Kamis (19/2/2026) dini hari WIB.
Meski Arsenal unggul lima poin atas peringkat kedua, Manchester City, tim asuhan Pep Guardiola masih memiliki satu laga tunda dan akan menjamu Arsenal pada April mendatang.
Para penggemar dan pengamat menilai Arsenal terlalu bergantung pada pendekatan defensif untuk meraih kemenangan, yang disebut-sebut membuat daya gedor mereka menurun dan berujung pada hilangnya poin penting.
Menurut laporan Opta, Arsenal telah menghabiskan total 117 menit untuk memulai kembali permainan dari sepak pojok di Liga Inggris musim ini.
Mereka juga mencatat rata-rata penundaan terlama, yakni 44 detik setiap kali melakukan restart dari situasi tersebut.
Mengapa Arsenal Begitu Fokus pada Bola Mati?
Liga Inggris kini makin kompetitif, dengan tim papan bawah mampu merepotkan klub elite melalui pertahanan dalam duel fisik dan serangan balik cepat.
Pada awal masa kepelatihannya di Emirates, tim asuhan Mikel Arteta kerap terekspos saat kehilangan bola. Namun, kini Arsenal berkembang menjadi salah satu unit pertahanan terbaik di dunia.
The Gunners sering memainkan bola ke area sayap untuk menghindari kehilangan bola di zona tengah yang lebih berbahaya. Pendekatan ini membantu mereka meminimalkan risiko serangan balik.
Meski strategi tersebut mungkin membatasi kreativitas dari permainan terbuka, ancaman besar Arsenal dari situasi bola mati telah menjaga harapan gelar mereka tetap hidup.
Rekam Jejak yang Menghantui Arteta
Pertanyaan mengenai masa depan Arteta kembali mencuat. Pada musim 2021/2022, Arsenal sempat bersaing dengan Tottenham Hotspur untuk memperebutkan tiket Liga Champions.
Mereka unggul empat poin dengan tiga laga tersisa, tetapi akhirnya finis di posisi kelima di bawah Spurs.
Pada 2022/2023, meski tidak banyak yang memprediksi Arsenal bersaing dalam perebutan gelar, kegagalan memenangi enam dari delapan laga terakhir, termasuk hasil imbang melawan West Ham United dan Southampton, serta kekalahan dari Brighton and Hove Albion dan Nottingham Forest, menjadi noda besar.
Musim 2023/2024, Arsenal bermain terlalu aman saat menghadapi Man City di Etihad dan puas dengan hasil imbang. Padahal, mereka akhirnya finis dua poin di belakang Man City, sehingga tambahan dua poin dari laga tersebut bisa saja mengubah segalanya.
The Gunners juga kembali finis sebagai runner-up pada 2024/2025. Jika musim ini kembali berakhir tanpa trofi Liga Inggris, maka masa depan Arteta sebagai pelatih kepala bisa benar-benar dipertanyakan.
Sumber: SportsMole