Bola.com, Jakarta - Di tengah persaingan sengit di papan atas dan bawah klasemen, isu ini menjadi satu di antara topik yang paling banyak dibicarakan sepanjang musim.
Perdebatan tersebut makin memanas pekan lalu setelah pelatih Brighton & Hove Albion, Fabian Hurzeler, mengkritik perilaku yang ia nilai sebagai upaya mengulur waktu dalam pertandingan timnya.
Komentar itu muncul setelah Brighton kalah 0-1 dari Arsenal.
"Batasannya harus ditentukan oleh Premier League, batasannya juga harus ditentukan oleh para wasit," kata Hurzeler.
"Saat ini mereka bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan."
Pernyataan tersebut langsung dibantah oleh manajer Arsenal, Mikel Arteta, yang justru memuji semangat kompetitif para pemainnya.
"Saya rasa mereka yang mengkritik justru menyukai pemain kami," kata Arteta.
"Setiap kali mereka membicarakan pemain kami, menurut saya itu berarti mereka adalah yang paling dicintai di negara ini," imbuhnya.
Seni Gelap dalam Sepak Bola
Kendati secara aturan tidak diperbolehkan, praktik membuang waktu telah lama dianggap sebagai "seni gelap" yang melekat dalam permainan sepak bola.
Bagi sebagian suporter, taktik tersebut bahkan bisa terasa menyenangkan, terutama ketika tim mereka berusaha mempertahankan kemenangan besar di menit-menit akhir.
Selain itu, aksi tersebut sering memancing emosi lawan, sesuatu yang kerap disambut sorak sorai dari pendukung tim yang diuntungkan.
Namun, situasinya berbeda jika Anda berada di pihak yang dirugikan. Dalam kondisi tersebut, taktik mengulur waktu bisa terasa sangat menjengkelkan.
Musim ini, perdebatan mengenai praktik tersebut makin intens.
Dengan harga tiket dan biaya langganan siaran yang terus meningkat, muncul pertanyaan: apakah para penggemar benar-benar mendapatkan nilai yang sepadan dengan uang yang mereka keluarkan? Dan jika Hurzeler bukan satu-satunya yang mengeluh, seberapa buruk sebenarnya masalah ini?
90 Menit Bermain… atau Tidak?
Jika melihat data rata-rata waktu bola benar-benar berada dalam permainan pada laga kasta tertinggi musim ini, angkanya sebenarnya tidak terlalu ekstrem.
Sejak perusahaan statistik Opta mulai mencatat waktu bola aktif pada musim 2006/07, rata-rata musim ini berada di angka 55 menit 31 detik. Angka tersebut memang lebih rendah dibanding dua musim terakhir, tetapi bukan yang terendah dalam catatan.
Namun, angka tersebut mencakup waktu bermain pada masa tambahan di akhir kedua babak. Kita tahu masa tambahan kini lebih panjang dari sebelumnya, terutama sejak penggunaan Video Assistant Referee (VAR).
Faktanya, enam musim dengan rata-rata tambahan waktu terbanyak terjadi sejak teknologi VAR diperkenalkan di Premier League pada musim 2019/20.
Jika waktu bola aktif dibandingkan dengan total durasi pertandingan secara keseluruhan, musim ini justru terlihat lebih mencolok. Hanya ada satu musim dalam catatan yang memiliki persentase waktu bermain lebih rendah dibanding musim ini.
Penundaan yang Makin Lama
Tentu saja, ada banyak penghentian permainan yang wajar dan tidak dapat dihindari.
Contohnya terjadi pada Januari lalu di Emirates Stadium, ketika pemain Arsenal, Gabriel Martinelli, mencoba mendorong Conor Bradley yang terlihat cedera agar segera keluar lapangan pada akhir laga imbang 0-0 melawan Liverpool.
Aksi tersebut membuat Martinelli mendapat kartu kuning dan kemudian meminta maaf. Ia kemungkinan mengira Bradley hanya berpura-pura cedera untuk membuang waktu. Namun, bek asal Irlandia Utara itu kemudian dipastikan harus absen hingga akhir musim karena cedera lutut serius.
Secara statistik, Liverpool justru memiliki waktu penundaan paling singkat sebelum memulai kembali permainan musim ini, dengan rata-rata 25,8 detik.
Sebaliknya, ada lima tim yang memiliki waktu penundaan lebih lama dibanding Arsenal, yang menjadi sasaran kritik Hurzeler. Sunderland bahkan memimpin daftar tersebut dengan rata-rata 33,1 detik sebelum restart permainan.
Bagaimana dengan masa-masa yang sering dikenang sebagai era sepak bola Premier League yang mengalir bebas? Apakah masa itu benar-benar pernah ada?
Satu hal yang pasti: sejak Opta mulai mencatat waktu penundaan pada musim 2017-18, durasi tersebut terus meningkat. Hampir setiap musim menunjukkan kenaikan bertahap hingga mencapai rata-rata tertinggi saat ini, yakni 29,2 detik.
Namun, lagi-lagi ada satu catatan penting: data tersebut juga mencakup penghentian permainan untuk pemeriksaan VAR di pusat pengawasan Stockley Park. Karena itu, tidak sepenuhnya adil menyalahkan tim tertentu atas restart yang lambat jika mereka memang harus menunggu keputusan wasit.
Data tersebut juga tidak dapat membedakan antara jeda yang dipaksakan oleh proses pemeriksaan VAR dan situasi ketika seorang pemain diduga berpura-pura cedera.
Upaya Mengatasi Masalah
Beberapa langkah sebenarnya sudah mulai diterapkan musim ini. Satu di antaranya adalah aturan yang mewajibkan kiper melepas bola dalam waktu delapan detik ketika memegangnya. Jika melanggar, tim lawan akan mendapat hadiah tendangan sudut.
Perubahan lain juga akan segera menyusul. Bulan lalu, International Football Association Board (IFAB) menyetujui sejumlah proposal yang bertujuan mengurangi apa yang mereka sebut sebagai gangguan tempo dan waktu yang hilang dalam pertandingan.
Mulai 1 Juni, termasuk pada Piala Dunia 2026, serta sepanjang musim 2026/27, penjaga gawang akan menghadapi hitungan mundur lima detik saat melakukan tendangan gawang maupun lemparan ke dalam.
Selain itu, pemain yang diganti harus meninggalkan lapangan dalam waktu 10 detik. Jika melebihi batas tersebut, pemain pengganti harus menunggu setidaknya 60 detik sebelum masuk ke lapangan sehingga timnya akan bermain dengan jumlah pemain lebih sedikit untuk sementara.
Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat memperlancar jalannya pertandingan. Namun, di sisi lain, penggunaan VAR yang makin luas justru berpotensi memberikan efek sebaliknya.
Pada Piala Dunia mendatang, VAR bahkan akan memiliki kewenangan untuk meninjau keputusan terkait tendangan sudut serta kartu kuning kedua.
Meski demikian, setiap liga tetap harus memutuskan sendiri apakah akan menerapkan aturan tersebut, dan Premier League diperkirakan tidak akan mengadopsinya.
Sumber: BBC