Pesan Menyentuh Gueye setelah Senegal Dinyatakan WO di Final Piala Afrika 2025: Trofi Itu Sementara

Gelandang Senegal, Idrissa Gana Gueye, menyampaikan pesan penuh makna melalui Instagram Story setelah timnya dipastikan kalah walkover (WO) di final Piala Afrika 2025.

BolaCom | Wiwig PrayugiDiterbitkan 18 Maret 2026, 18:30 WIB
Penyerang Senegal bernomor punggung 10, Sadio Mane, mengangkat trofi saat merayakan kemenangan bersama rekan-rekan setimnya setelah memenangkan pertandingan final Piala Afrika (CAN) 2025 melawan Maroko di Stadion Pangeran Moulay Abdellah di Rabat, Senin (19-1-2026) dini hari WIB. (SEBASTIEN BOZON/AFP)

Bola.com, Jakarta - Gelandang Senegal, Idrissa Gana Gueye, menyampaikan pesan penuh makna melalui Instagram Story setelah timnya dipastikan kalah walkover (WO) di final Piala Afrika 2025.

Dalam unggahannya, Gueye menekankan bahwa sepak bola bukan sekadar tentang gelar atau trofi, melainkan tentang nilai kemanusiaan dan keselamatan.

Advertisement

“Gelar, trofi, medali… semua itu hanya sementara. Yang benar-benar penting adalah setiap suporter bisa pulang ke rumah dan kembali ke keluarganya.”

Ia juga memuji sikap rakyat Senegal yang tetap menunjukkan martabat, baik dalam kemenangan maupun saat menghadapi cobaan.

“Rakyat Senegal telah menunjukkan siapa mereka: bermartabat dalam kemenangan, bermartabat dalam ujian. Itulah Teranga.”

Pemain yang kini membela Everton itu turut menyinggung kejadian yang terjadi di Rabat, Rabat, yang menjadi latar belakang keputusan WO tersebut.

“Kami tahu apa yang kami alami malam itu di Rabat. Dan itu, tidak akan pernah bisa diambil dari kami, insyaAllah.”


Gelar Dicabut

Idrissa Gueye dari Senegal meminta para pemain untuk meninggalkan lapangan selama pertandingan final Piala Afrika antara Senegal dan Maroko, di Rabat, Maroko, Senin (19-1-2026) dini hari WIB. (AP Photo/Mosa'ab Elshamy)

Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) secara resmi menetapkan Morocco sebagai juara Africa Cup of Nations 2025 setelah menang walkover (WO) 3-0 atas Senegal.

Keputusan ini diambil setelah Badan Banding CAF meninjau ulang insiden final di Rabat pada 19 Januari lalu. Saat itu, tim Senegal sempat meninggalkan lapangan selama 15 menit sebagai bentuk protes terhadap keputusan penalti untuk tuan rumah. Aksi tersebut dipimpin pelatih Pape Thiaw sebelum akhirnya mereda setelah Sadio Mane membujuk rekan-rekannya kembali bermain.

Meski penalti Brahim Diaz gagal dan Senegal sempat menang lewat gol Pape Gueye di perpanjangan waktu, hasil tersebut dianulir. CAF menyatakan Senegal melanggar regulasi kompetisi, termasuk Pasal 82 dan 84.


Banding ke CAS

Pelatih kepala Senegal, Pape Thiaw (C), dan tim merayakan kemenangan dengan trofi setelah memenangkan pertandingan final Piala Afrika (CAN) 2025 melawan Maroko di Stadion Pangeran Moulay Abdellah di Rabat, Senin (19-1-2026) dini hari WIB. (Abdel Majid BZIOUAT/AFP)

Sebelumnya, Senegal hanya dikenai denda dan sanksi tanpa perubahan hasil. Namun kini, status juara mereka resmi dicabut. Federasi Senegal diperkirakan akan mengajukan banding ke CAS.

Kekecewaan pun mencuat, termasuk dari Moussa Niakhate yang menyindir lewat media sosial. Ironisnya, perayaan besar sempat terjadi di Dakar dengan hampir satu juta warga merayakan gelar tersebut.

Di sisi lain, Federasi Sepak Bola Maroko (FRMF) menegaskan langkah mereka semata untuk menegakkan aturan dan menjaga integritas kompetisi, bukan meragukan kualitas lawan.

Berita Terkait