Chelsea Siap Bersih-Bersih, Liam Rosenior Terancam Dipecat pada Akhir Musim

Chelsea mempertimbangkan perubahan manajerial setelah menjalani musim yang penuh gejolak.

BolaCom | Wiwig PrayugiDiterbitkan 09 April 2026, 09:00 WIB
Pelatih Strasbourg, Liam Rosenior, disebut menjadi kandidat terkuat calon manajer anyar Chelsea, menggantkan Enzo Maresca. (AFP/Frederick FLORIN)

Bola.com, Jakarta - Tekanan semakin meningkat di Chelsea. Klub asal London itu mempertimbangkan perubahan manajerial setelah menjalani musim yang penuh gejolak. Inkonsistensi performa dalam beberapa pekan terakhir membuat arah tim di bawah asuhan Liam Rosenior mulai dipertanyakan, bahkan dari internal klub sendiri.

Rosenior, yang ditunjuk menggantikan Enzo Maresca pada Januari lalu, sejauh ini belum mampu memberikan peningkatan signifikan. Meskipun sempat meraih kemenangan besar 7-0 atas Port Vale yang sedikit meredakan tekanan, hasil buruk sebelumnya—including tersingkir dari sejumlah kompetisi penting—telah menimbulkan keraguan besar.

Advertisement

Bahkan, laporan terbaru menyebutkan bahwa suasana di dalam ruang ganti tidak sepenuhnya kondusif. Kasus indisipliner yang melibatkan Enzo Fernandez menjadi salah satu indikasi adanya ketegangan internal yang lebih luas di dalam skuad.

Situasi ini membuat petinggi klub mulai mempertimbangkan langkah tegas. Sumber internal menyebut posisi Rosenior kini “nyaris tak terselamatkan,” dan peluang besar ia akan didepak pada akhir musim semakin menguat.


Chelsea Siapkan Opsi Pengganti

Manajer Crystal Palace asal Austria, Oliver Glasner, memberi isyarat di pinggir lapangan selama pertandingan Liga Inggris antara Fulham dan Crystal Palace di Craven Cottage, London, pada 7 Desember 2025. (HENRY NICHOLLS/AFP)

Manajemen Chelsea dikabarkan sudah mulai menjajaki kandidat pelatih baru jelang musim panas. Beberapa nama pun mencuat sebagai opsi potensial.

Salah satunya adalah Andoni Iraola, yang saat ini menangani AFC Bournemouth. Ia dikenal dengan gaya bermain energik dan kemampuannya mengangkat performa tim di atas ekspektasi.

Selain itu, ada pula Oliver Glasner yang akan meninggalkan Crystal Palace. Glasner dinilai memiliki pendekatan taktis yang solid serta pengalaman sukses di level domestik maupun Eropa.

Jika ingin mengambil langkah lebih ambisius, Chelsea bahkan bisa mengincar pelatih Paris Saint-Germain, yakni Luis Enrique. Kehadirannya diyakini akan menjadi sinyal kuat bahwa klub ingin kembali bersaing di level tertinggi sepak bola Eropa.


Karier Manajerial

Pelatih Chelsea, Liam Rosenior, memasuki lapangan sebelum dimulainya laga fase liga Liga Champions antara Napoli vs Chelsea di Naples, Italia, Rabu, 28 Januari 2026. (AP Photo/Gregorio Borgia)

Karier kepelatihan Rosenior terbilang berkembang pesat. Sebelum menangani Chelsea, ia sempat melatih RC Strasbourg Alsace dengan catatan rata-rata poin yang sama (1,75 PPM), serta Hull City, yang menjadi pijakan awalnya sebagai pelatih kepala.

Ia juga pernah menjadi asisten dari Wayne Rooney di Derby County, pengalaman yang turut membentuk pendekatan taktisnya—terutama dengan formasi andalan 3-4-2-1.

Meski secara statistik performanya tidak sepenuhnya buruk, tekanan besar tetap menghantui sang pelatih muda karena inkonsistensi tim di berbagai ajang.

 

 

Manajer Chelsea, Liam Rosenior, merayakan kemenangan dramatis 3-2 timnya atas West Ham United pada laga pekan ke-24 Premier League musim ini di Stamford Bridge, Minggu (01/02/2026) dini hari WIB. (AFP/Adrian Dennis)

Rosenior yang ditunjuk pada Januari 2026 sejatinya masih terikat kontrak panjang hingga 2032. Namun, situasi di lapangan berkata lain. Dalam 46 pertandingan musim ini, ia mencatatkan 25 kemenangan, 7 hasil imbang, dan 14 kekalahan dengan rata-rata 1,78 poin per pertandingan.

Di Premier League, performa Chelsea juga tidak terlalu mengecewakan dengan raihan 5 kemenangan dari 10 laga (1,70 PPM). Bahkan di kompetisi seperti UEFA Conference League, Rosenior mampu mencatatkan rata-rata poin impresif mencapai 2,67 per laga, serta tampil sempurna di FA Cup dengan empat kemenangan dari empat pertandingan.

Namun, angka-angka tersebut belum cukup untuk meredam keraguan internal klub. Inkonsistensi performa, hasil buruk di laga-laga krusial, serta dinamika ruang ganti menjadi faktor utama yang membuat posisinya mulai goyah.

Sumber: Sky

Berita Terkait