Sumo yang terkenal dengan olahraga gulat tradisional dari Negeri Sakura tersebut berubah menjadi ajang adu tangis para bayi. (AFP/Yuichi Yamazaki)
Festival tradisional tersebut biasanya diadakan di kuil-kuil Jepang, seperti Kuil Sensoji, dan berlangsung pada musim semi, terutama sekitar bulan April atau Mei. (AFP/Yuichi Yamazaki)
Para bayi bertanding untuk melihat siapa yang menangis lebih dulu atau lebih keras. Dalam acara ini, seorang pegulat sumo akan menggendong bayi dan berusaha memancing tangisannya, misalnya dengan membuat ekspresi wajah lucu atau suara keras. (AFP/Yuichi Yamazaki)
Meski terdengar aneh, tradisi ini punya makna mendalam dalam budaya Jepang. Tangisan bayi dipercaya membawa keberuntungan, mengusir roh jahat (evil spirits), dan simbol kesehatan dan pertumbuhan yang kuat. (AFP/Yuichi Yamazaki)
Pepatah Jepang juga mengatakan “Naku ko wa sodatsu” yang berarti “Bayi yang menangis akan tumbuh kuat.” (AFP/Yuichi Yamazaki)