Bola.com, Madrid - Di sepak bola, uang dan pemain bintang memang penting, tapi bukan segalanya untuk bisa memenangi perburuan gelar.
Real Madrid misalnya. Di jendela transfer musim 2025 atau jelang bergulirnya musim 2025/2026, Real Madrid setidaknya sudah menggelontorkan dana yang sangat besar, 176 juta euro atau setara Rp 3,3 triliun.
Dengan tumpukan uang sebanyak itu, Los Blancos mendapat sejumlah pemain seperti Dean Huijsen dan Trent Alexander-Arnold.
Sebelumnya, mereka juga memboyong nama-nama beken, di antaranya Kylian Mbappe dari Paris Saint-Germain (PSG) serta pemain muda Brasil kepunyaan Palmeiras, Endrick.
Sayang, ditopang finansial yang kuat serta sederet pemain top ternyata tak berdampak kepada kinerja Real Madrid sepanjang musim ini.
Pemecatan Xabi Alonso sebagai pelatih di awal tahun lalu membuktikan betapa runyamnya kondisi internal tim yang bermarkas di Santiago Bernabeu.
Pergantian pelatih dari Alonso ke Alvaro Arbeloa ternyata tak membawa perubahan signifikan. Di bawah asuhan Arbeloa, El Real malah tersingkir dari Liga Champions.
Di pentas La Liga, Kylian Mbappe dkk. juga terancam gagal dalam perburuan gelar kontra rival abadinya, Barcelona.
Memasuki pekan ke-34, Blaugrana masih memuncaki klasemen sementara dengan torehan 88 poin atau unggul 11 angka atas Real Madrid di posisi kedua dengan tabungan 77 poin.
Kasihan Real Madrid. Tak pelak lagi, ini menjadi musim yang paling buruk bagi Los Blancos. Musim depan mereka harus bisa bangkit, digdaya lagi di kasta teratas Spanyol dan kembali jemawa di Liga Champions.
Menoleh ke belakang, berikut lima musim tergelap Real Madrid di abad 21, seperti dilansir Sport Illustrated.
5. Musim 2025/2026
Musim ini belum sepenuhnya berakhir dan Real Madrid masih ditakdirkan untuk berada di peringkat atas karena alasan yang salah.
Terlepas dari semua golnya, Kylian Mbappe gagal beradaptasi dengan para superstar Madrid yang sudah ada. Sementara itu, kekuatan pemain yang tak terkendali kembali menjadi topik hangat setelah Alonso dilaporkan menggambarkan ruang ganti sebagai "mustahil untuk dilatih."
Tim asuhan Arbeloa mungkin telah tersingkir dari perempat final Liga Champions dalam keadaan kontroversial setelah kartu merah Eduardo Camavinga, tetapi kenyataannya mereka masih jauh dari tim terbaik Eropa.
4. Musim 2005/2006
Akhir dari era Galacticos. Musim 2005/2006 menunjukkan semua yang salah dengan proyek tersebut, karena skuad yang membengkak, tidak terkoordinasi, dan tampaknya tidak termotivasi gagal di semua lini. Di sisi lain, pemain baru seperti Robinho dan Julio Baptista hanya menambah masalah di lapangan.
Manajer Vanderlei Luxemburgo dipecat pada Desember, setelah Ronaldinho menari-nari di Bernabeu dalam kemenangan Clasico dengan skor 3–0.
Juan Ramon Lopez Caro hanya mampu membawa Los Blancos ke posisi kedua klasemen, cuma dua poin di atas Sevilla yang berada di posisi kelima.
Diego Milito mencetak empat gol ke gawang Madrid untuk Zaragoza di Copa del Rey, sementara Thierry Henry menginspirasi Arsenal untuk meraih kemenangan di babak 16 besar Liga Champions.
4. Musim 2018/2019
Musim yang kacau. Real Madrid berganti tiga pelatih (Julen Lopetegui, Santiago Solari, Zinedine Zidane), karena kesulitan beradaptasi dengan kehidupan setelah kepergian Cristiano Ronaldo dan awalnya Zidane.
Setelah meraih tiga gelar Liga Champions berturut-turut, kekalahan 1-4 di kandang melawan Ajax di babak 16 besar sangat sulit diterima.
Di liga domestik, Madrid finis di posisi ketiga untuk musim berturut-turut, terpaut 19 poin dari Barcelona, yang juga mengalahkan mereka di semifinal Copa del Rey.
2. Musim 2008/2009
Musim terakhir sebelum Perez kembali sebagai presiden adalah periode yang menyedihkan.
Madrid finis sembilan poin di belakang juara La Liga, Barcelona. Mereka mengakhiri musim domestik dengan lima kekalahan beruntun termasuk saat takluk memalukan 2-6 pada El Clasico di Bernabeu.
Di Liga Champions, anak asuh Juande Ramos dikalahkan oleh Liverpool asuhan Rafa Benítez dan tersingkir oleh Real Union di Copa del Rey.
1. Musim 2003/2004
Real Madrid mengakhiri musim 2004/2005 di posisi keempat klasemen di bawah asuhan Carlos Queiroz, yang tidak pernah memenangkan hati para Galacticos-nya.
Kepergian Steve McManaman, Fernando Hierro, Fernando Morientes, dan Claude Makelele berdampak besar pada ruang ganti. Keputusan mengganti Vicente del Bosque dengan tujuan "mengubah tim" terbukti membawa malapetaka.
Los Blancos mengakhiri musim hanya dengan 70 poin setelah kalah dalam lima pertandingan terakhir, dan tujuh dari 10 pertandingan terakhir. Mereka dikalahkan oleh tim underdog Monaco di perempat final Liga Champions.
Kekalahan di final Copa del Rey setelah perpanjangan waktu melawan Real Zaragoza semakin memperburuk tahun yang suram dan tanpa trofi.
Sumber: Sport Illustrated