Hak Belum Terpenuhi di Dua Klub, Kahudi Wahyu Bongkar Tunggakan Gaji PSIS dan PSBS

Kahudi Wahyu mengungkap PSIS dan PSBS masih menunggak gajinya selama beberapa bulan.

BolaCom | Ana DewiDiterbitkan 02 Juni 2026, 08:30 WIB
Caretaker Pelatih PSBS, Kahudi Wahyu Widodo. (Foto: Bola.com/Ana Dewi)

Bola.com, Jakarta - Kahudi Wahyu Widodo mengungkap pengalaman pahit sepanjang musim 2025/2026. Pelatih berusia 47 tahun itu mengaku masih memiliki hak yang belum terpenuhi saat bekerja di dua klub berbeda; PSIS Semarang dan PSBS Biak.

Saat menangani PSIS, Kahudi menyebut ada dua bulan upah yang belum diterima. Jumlah tersebut terdiri dari satu bulan gaji berjalan dan satu bulan kompensasi pemutusan kontrak yang hingga kini belum dibayarkan.

Advertisement

"Gaji saya di PSIS Semarang belum dibayar. Hitungannya satu bulan gaji berjalan plus satu bulan kompensasi pemutusan kontrak. Jadi, totalnya dua bulan," ungkap Kahudi.

Kahudi menyayangkan kondisi tersebut karena menurutnya klub terlihat cukup aktif merekrut pemain pada bursa transfer paruh musim 2025/2026 Pegadaian Championship, sementara hak pelatih lokal diabaikan.

"Selama ini saya diam karena cinta PSIS, mantan tim. Tapi, kok kebangetan, jor-joran beli pemain, tapi gaji menunggak," keluhnya.


Nasib Apes Berlanjut di PSBS

Pelatih anyar PSIS Semarang, Kahudi Wahyu Widodo, yang akan memimpin Mahesa Jenar mengarungi Liga 2 2025/2026. (Bola.com/Radifa Arsa)

Masalah yang dialami Kahudi ternyata tidak berhenti disitu. Ketika bergabung dengan PSBS Biak sebagai asisten pelatih pada Desember 2025, ia kembali menghadapi persoalan serupa dengan nilai tunggakan yang lebih besar.

"Di PSBS Biak ada empat bulan gaji yang belum dibayarkan," kata pelatih kelahiran Madiun, Jawa Timur, tersebut.

PSBS diketahui mengalami persoalan finansial pada BRI Super League 2025/2026. Tidak hanya staf pelatih, para pemain juga belum menerima gaji selama berbulan-bulan hingga kompetisi berakhir.

Situasi tersebut berdampak besar terhadap performa tim. PSBS gagal bersaing dan akhirnya terdegradasi ke Liga 2. Bahkan, beberapa pemain memilih meninggalkan klub sebelum musim rampung.


Jaminan Kendaraan dan Laporan ke APSSI

Caretaker PSBS Biak, Kahudi Wahyu Widodo, menysukuri hasil imbang 2-2 kontra PSIM Yogyakarta pada laga tunda pekan ke-8 BRI Super League musim ini di Stadion Sultan Agung, Bantul, Senin (29/12/2025) sore WIB. (Bola.com/Ana Dewi)

Kahudi juga mengungkap adanya drama lain yang mewarnai proses penunggakan gaji tersebut. Saat masih di PSIS, ia sempat menerima satu unit mobil dari manajemen sebagai bentuk jaminan sementara atas hak yang belum dibayarkan.

Usai pindah ke PSBS, manajemen PSIS menjanjikan pembayaran sisa gaji dan kompensasi pemutusan kontrak dalam waktu sepekan. Bersamaan dengan itu, kendaraan yang dipinjamkan akan kembali ditarik oleh klub.

Hingga kini, menurut Kahudi, janji itu belum terealisasi. Hak yang dijanjikan belum dibayarkan, sedangkan kendaraan yang diberikan juga tidak pernah dilengkapi dokumen kepemilikan berupa BPKB.

Atas berbagai persoalan tersebut, Kahudi telah menempuh jalur resmi dengan melapor kepada Asosiasi Pelatih Sepak Bola Seluruh Indonesia (APSSI). Akan tetapi, sampai sekarang, upaya tersebut belum membuahkan hasil.

"Gaji staf pelatih, coach Bowo yang hanya tujuh juta dikali dua bulan saja sampai sekarang juga belum dibayarkan," kata Kahudi.

Berita Terkait